Belajar dari Sebuah Pemeriksaan Tensi: Pentingnya Deteksi Dini Hipertensi

Mahasiswa Keperawatan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tertarik pada kesehatan, edukasi, dan isu sosial. Aktif dalam organisasi serta senang menulis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fawazzah Khairun Nizwah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak orang lebih memilih memeriksakan kesehatan saat sudah merasakan keluhan. Padahal, beberapa penyakit dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Salah satunya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Saat mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan di masyarakat, saya berkesempatan melakukan pengukuran tekanan darah pada seorang ibu. Beliau tampak sehat dan tidak mengeluhkan kondisi tertentu. Namun, dari kegiatan sederhana tersebut saya menyadari bahwa pemeriksaan kesehatan rutin memiliki peran yang sangat penting dalam mendeteksi risiko penyakit sejak dini.

Menurut World Health Organization (WHO), hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di dunia. Organisasi tersebut memperkirakan sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun hidup dengan hipertensi, dan hampir setengahnya tidak mengetahui bahwa mereka mengalami kondisi tersebut (WHO, 2023).
Kondisi inilah yang membuat hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Banyak penderita tidak merasakan gejala apa pun hingga akhirnya mengalami komplikasi seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, maupun gangguan pembuluh darah lainnya.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit tidak menular termasuk hipertensi masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini perlu terus ditingkatkan.
Pemeriksaan tekanan darah merupakan salah satu bentuk deteksi dini yang mudah dilakukan. Prosesnya relatif cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, serta dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan seseorang. Melalui pemeriksaan ini, tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi individu yang berisiko mengalami hipertensi sehingga dapat dilakukan tindak lanjut lebih lanjut.
Selain melakukan pemeriksaan rutin, masyarakat juga dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat. WHO merekomendasikan beberapa langkah pencegahan hipertensi, seperti mengurangi konsumsi garam, memperbanyak aktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, dan membatasi konsumsi alkohol.
Sebagai mahasiswa keperawatan, pengalaman melakukan pemeriksaan tekanan darah secara langsung memberikan pelajaran bahwa edukasi kesehatan tidak selalu dilakukan melalui penyuluhan besar. Terkadang, interaksi sederhana saat memeriksa tekanan darah dapat menjadi momen penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya sendiri.
Kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang perlu dijaga sejak dini. Pemeriksaan tekanan darah mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit, tetapi manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, membiasakan diri melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mencegah berbagai komplikasi kesehatan di masa depan.
Daftar Pustaka
World Health Organization. (2023). Hypertension. Retrieved June 16, 2026, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Hipertensi, Si Pembunuh Senyap. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Retrieved from https://p2ptm.kemkes.go.id
