Rumah Merah Heritage: Menginap di Tengah Sejarah yang Tak Seseram Ceritanya

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta yang tertarik dengan kajian sejarah, wisata, dan budaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fawnia Nadhifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah sudut Jalan Dasun No. 8, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan bercat merah menyala yang seolah menolak dilupakan waktu. Dindingnya yang tinggi, pintu kayunya yang kokoh, serta ornamen khas Tionghoa yang masih terawat membuat siapa pun yang melintas akan menoleh untuk kedua kalinya. Masyarakat mengenalnya sebagai Rumah Merah Heritage Lasem, salah satu ikon wisata sejarah di kawasan yang dijuluki Tiongkok Kecil di pesisir utara Jawa.
Banyak orang datang dengan rasa penasaran. Sebagian ingin menikmati arsitektur kunonya, sebagian lagi tertarik oleh cerita-cerita mistis yang beredar dari mulut ke mulut. Namun setelah melangkah masuk melewati gerbang merahnya, suasana yang terasa justru jauh dari kesan menyeramkan. Rumah tua itu menyimpan kisah panjang percampuran budaya, perdagangan, dan kehidupan masyarakat Lasem yang berlangsung selama ratusan tahun.

Rumah Merah Heritage merupakan bangunan bergaya Tionghoa-Hindia (China-Indies) yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-19 atau sekitar tahun 1800-an. Sejarawan Denys Lombard menyebut bahwa "Pantai utara Jawa merupakan kawasan pertemuan berbagai bangsa dan kebudayaan, termasuk komunitas Tionghoa yang telah lama berperan dalam jaringan perdagangan Asia" (Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid II, 2008). Gambaran tersebut tercermin di Lasem yang sejak dahulu dikenal sebagai kota pelabuhan penting di jalur perdagangan Nusantara.
Bangunan ini merupakan rumah keluarga Tionghoa generasi lama yang kemudian dibeli dan direstorasi oleh pengusaha asal Lasem, Rudi Hartono, agar tidak hilang dimakan usia. Menariknya, proses tersebut bermula bukan karena keinginan membangun destinasi wisata sejarah. Dalam wawancara yang dilakukan di Rumah Merah Heritage Lasem pada 28 April 2026, Rudi Hartono menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap bangunan bersejarah berawal dari pengalamannya saat sering berkunjung ke Jakarta untuk berdagang elektronik.
"Saya awalnya berdagang elektronik. Sekitar tahun 2009 saya sering ke Jakarta. Waktu itu ada pembangunan Hotel Novotel Gajah Mada. Saya melihat bangunannya sangat bagus. Dari situ saya mulai mencari tempat atau tanah di Lasem yang ada bangunan tuanya," ujar Rudi Hartono.
Setelah memperoleh bangunan tersebut pada 2012, ia mulai mempelajari arsitektur aslinya sebelum melakukan renovasi.
"Kami renovasi dulu sambil belajar tentang arsitekturnya. Tahun 2016 mulai banyak diunggah orang, pengunjung mulai datang, lalu kami terus melakukan pembenahan sampai menjadi seperti sekarang," tuturnya.
Dianggap Angker, Padahal Kaya akan Sejarah
Bangunan tua hampir selalu akrab dengan kisah-kisah mistis, begitu pula Rumah Merah Heritage Lasem. Usianya yang telah mencapai lebih dari satu setengah abad, lorong-lorong panjang yang minim pencahayaan, serta furnitur antik yang masih dipertahankan membuat sebagian orang menganggap rumah ini angker. Rudi menegaskan bahwa fokus utamanya sejak awal adalah menjaga bangunan bersejarah tersebut, bukan menjual kisah-kisah horor.
"Dulu saya tidak pernah kepikiran membuat rumah heritage. Awalnya hanya ingin mempertahankan rumah ini karena sayang kalau bangunan lamanya hilang," kata Rudi.
Meski demikian, kesan mistis itu lebih banyak lahir dari imajinasi dan cerita yang berkembang di masyarakat. Aktivitas wisata di Rumah Merah berlangsung normal setiap hari, mulai dari kunjungan edukasi, tur sejarah, hingga tamu yang menginap di penginapan heritage tersebut. Pengelola justru mengajak pengunjung untuk melihat Rumah Merah sebagai saksi perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Lasem, bukan sebagai bangunan yang identik dengan kisah horor.
Salah satu daya tarik Rumah Merah Heritage adalah keberadaan tour guide yang mendampingi wisatawan selama berkeliling kawasan.
Pemandu akan menjelaskan sejarah bangunan, filosofi arsitektur, kehidupan masyarakat Tionghoa di Lasem, hingga berbagai kisah yang tidak tertulis dalam buku sejarah. Penjelasan tersebut membuat setiap sudut bangunan terasa memiliki cerita tersendiri, mulai dari ruang keluarga, halaman dalam, hingga detail ukiran pada pintu-pintu kayu kuno. Pelestarian bangunan juga berjalan beriringan dengan upaya menjaga tradisi keluarga.
"Kalau benda pusaka itu biasanya rumah abu atau altar sembahyang leluhur. Dulu diwariskan turun-temurun. Tetapi setelah peristiwa 1965 banyak generasi muda mulai meninggalkan tradisi itu," ujar Rudi.
Destinasi Wisata di Sekitar Rumah Merah
Perjalanan wisata tidak berhenti di bangunan utama. Kompleks Rumah Merah juga menjadi titik awal untuk menjelajahi berbagai destinasi heritage lain di Karangturi.
Salah satunya adalah rumah pengrajin batik, tempat wisatawan dapat melihat langsung proses membatik secara tradisional, bahkan dapat memiliki pengalaman untuk mencoba membatik menggunakan canting. Aktivitas para pembatik yang masih menggunakan teknik turun-temurun menjadi gambaran bagaimana budaya batik Lasem terus dipertahankan hingga kini.
Tak jauh dari sana terdapat Rumah Oei, rumah kuno yang masih memiliki keterkaitan marga dengan keluarga pemilik Rumah Merah. Bangunan berusia ratusan tahun tersebut kini menjadi ruang budaya yang menyimpan berbagai cerita sejarah masyarakat Tionghoa Lasem, sekaligus menjadi pusat kegiatan seni dan kuliner lokal.
Selain itu, wisatawan juga dapat mengenal tradisi Lasem, seperti kopi lelet, serta mengunjungi gang-gang pecinan tua, kelenteng bersejarah, hingga rumah-rumah kuno lain yang masih mempertahankan arsitektur asli Lasem.
Rumah Merah Heritage Lasem menunjukkan bahwa bangunan tua tidak harus berakhir menjadi puing yang ditelan zaman. Melalui pelestarian dan pemanfaatan sebagai penginapan sekaligus destinasi wisata edukatif, rumah berusia ratusan tahun itu justru kembali hidup dan menjadi ruang belajar sejarah yang terbuka bagi masyarakat.
Di balik warna merah yang mencolok dan cerita-cerita mistis yang melekat, Rumah Merah menyimpan kisah tentang toleransi, perdagangan, akulturasi budaya, dan perjuangan menjaga identitas sebuah kota tua. Menginap di sana bukan sekadar mencari tempat beristirahat, melainkan kesempatan untuk menikmati sejarah dari jarak yang begitu dekat—di tempat di mana masa lalu masih terasa hadir dalam setiap sudut bangunannya.
