"Trust the Process" itu Filosofi atau Sekadar Pembenaran?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fawwaz Musyaffa Imtiyaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Trust the process." Tiga kata yang terasa begitu menenangkan sekaligus misterius. Antara keyakinan dan pelarian.
Mungkin kita pernah mendengar kata ini dari curhatan teman yang sedang dalam keadaan sulit, dari konten motivasi di media sosial, atau pun bisa saja terdengar dari diri sendiri saat masa-masa paling lelah. Frasa ini seolah menjadi mantra ajaib bagi mahasiswa yang menunggu hasil sidang skripsi, atlet yang sedang dalam masa pemulihan cedera, hingga seseorang yang tengah menunggu balasan dari sang gebetan.
Tapi tunggu. Proses mana yang dipercaya? Menuju ke mana? Dan yang lebih penting, apakah kita benar-benar sedang berproses, atau hanya sekadar diam sembari menunggu sesuatu terjadi dengan sendirinya?
Saat Kata-kata Terdengar Bijak tapi Kosong
Dalam filsafat, ada satu cabang ilmu yang secara khusus membahas bagaimana manusia membangun keyakinan, namanya epistemologi. Inti dari epistemologi itu sederhana: tidak semua yang kita yakini otomatis benar, dan tidak semua yang terasa benar sudah tentu berdasar (Suriasumantri, 2009).
"Trust the process" sebenarnya mempunyai fondasi yang sah secara filosofis. Ide dasarnya masuk akal, bahwa sebuah hal itu membutuhkan waktu, hasil yang memuaskan menuntut proses yang berkelanjutan dan jarang terjadi secara instan. Bahkan sains bekerja dengan cara yang mirip: sebuah hipotesis diuji secara berulang, direvisi, diuji lagi, sebelum akhirnya berakhir dengan adanya kesimpulan (Popper, 2002).
Jadi secara filosofis, mempercayai sebuah proses itu bukan hal yang naif. Masalahnya, kita jarang sekali berhenti untuk mendefinisikannya. Kita menerima frasa tersebut begitu saja, seperti resep yang diberikan tanpa tahu bahan-bahannya. Padahal sebuah proses yang baik seharusnya punya arah yang jelas, langkah yang terukur, dan keberanian untuk berubah ketika sesuatu tidak berjalan semestinya.
Kesabaran terhadap proses adalah kebajikan. Tapi kesabaran tanpa arah bisa jadi sekadar penundaan yang disamarkan.
Garis Tipis antara Sabar dan Pasif
Di sinilah masalah mulai muncul.
Ada perbedaan signifikan antara kesabaran yang aktif dengan kepasifan yang dirasionalisasi. Perbedaan ini sebetulnya tidak serumit yang terlihat. Ada orang yang mengucapkan "trust the process" sambil diam-diam terus mengevaluasi dirinya sendiri setiap malam. Dan ada yang mengucapkan kalimat yang sama, tapi sebagai cara untuk berhenti bertanya.
Seorang atlet yang berpegang pada "trust the process" sambil terus berlatih setiap hari, mengevaluasi progresnya, dan menyesuaikan pendekatannya, itu adalah sikap yang punya fondasi rasional yang kuat.
Tapi bagaimana dengan seseorang yang tetap bertahan dalam situasi yang jelas-jelas tidak sehat, entah itu hubungan yang toksik, lingkungan yang tidak mendukung, atau kebiasaan yang merusak diri dan terus membenarkan semuanya dengan alasan "trust the process"?
Di sinilah frasa tersebut berhenti menjadi filsafat dan mulai berfungsi sebagai apa yang dalam psikologi disebut rasionalisasi: menciptakan alasan yang terdengar logis untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya kita lakukan karena faktor emosional, bukan rasional (Tavris & Aronson, 2007).
Maka pertanyaannya kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita sedang berproses dengan sadar, ada langkah nyata yang dibuat, ada evaluasi, ada keberanian untuk mengubah arah ketika diperlukan? Atau ternyata selama ini "trust the process" yang kita pegang justru hanya menjadi cara kita untuk berdiam diri, tanpa benar-benar bergerak menuju ke mana pun?
Apa Kata Logika Penyelidikan Ilmiah?
Dalam kerangka Logika Penyelidikan Ilmiah, setiap keyakinan yang kita pegang seharusnya bisa diuji dan dievaluasi (Suriasumantri, 2009).
Ilmu pengetahuan tidak meminta kita percaya secara buta, ia meminta kita percaya berdasarkan bukti, dan tetap terbuka untuk merevisi keyakinan ketika bukti baru hadir (Popper, 2002).
Prinsip ini bukan sekadar urusan laboratorium atau ruang kelas. Ia seharusnya kita bawa ke dalam cara kita menjalani hidup, termasuk dalam menyikapi keyakinan yang sudah lama kita pegang tanpa pernah benar-benar dipertanyakan. Alih-alih menerima "trust the process" secara mentah-mentah, kita bisa mengajukan pertanyaan yang lebih kritis: apa yang dimaksud "proses" ini? Indikator apa yang menunjukkan ia berjalan ke arah yang benar? Dan kapan waktunya mengubah proses, bukan sekadar mempercayainya?
Ada juga pertanyaan yang lebih dalam: proses menuju apa? Karena proses apa pun hanya bermakna jika ia mengarah pada sesuatu yang bernilai (Frankl, 2006). Mempercayai proses yang tidak jelas tujuannya bukan sebuah kebijaksanaan, itu kemalasan berpikir yang dibalut kata-kata yang terdengar indah.
Dengan kata lain, bukan "trust the process"-nya yang salah. Yang perlu dipertanyakan adalah: proses seperti apa yang layak untuk dipercaya?
Jadi, Filosofi atau Pembenaran?
Jawabannya: bisa keduanya, tergantung dengan bagaimana cara menggunakannya.
"Trust the process" adalah filosofi ketika ia datang bersama kesadaran, evaluasi, beserta komitmen untuk terus bergerak. Ia adalah pembenaran ketika ia digunakan sebagai tameng untuk menghindari refleksi yang sesungguhnya (Kahneman, 2011).
Perbedaan keduanya mungkin tidak selalu terlihat dari luar. Tapi kita dapat mengetahuinya dari dalam diri sendiri. Kita tahu apakah kita sedang berjuang dengan sadar, atau sekadar berlindung di balik frasa yang terdengar bijak.
Dan justru di situlah letak tantangannya. Karena berlindung di balik frasa yang terdengar bijak itu jauh lebih nyaman daripada menghadapi kenyataan bahwa mungkin kita perlu mengubah arah. Mungkin kita perlu mengakui bahwa proses yang selama ini kita jalani tidak membawa kita ke mana pun yang berarti.
Dan inilah yang membuat filsafat ilmu begitu relevan dalam kehidupan sehari-hari: ia mengajarkan kita bahwa berpikir kritis bukan sekadar aktivitas akademik. Ia adalah cara kita bernavigasi di dunia, termasuk di momen-momen ketika kita paling lelah dan paling butuh pegangan.
Berpikir kritis bukan berarti menjadi pesimis atau tidak percaya diri. Justru sebaliknya, itu tanda bahwa kita cukup menghargai diri sendiri untuk tidak asal menerima sesuatu begitu saja, termasuk terhadap frasa yang sudah telanjur terasa seperti kebenaran.
Percaya pada prosesmu. Tapi sebelum itu, kenali dulu proses apa yang sedang kamu jalani.
