Konten dari Pengguna

Dunia Gagal Menghentikan Perang Sudan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Heydi Fayyaz Baihaqi Siswanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar sepenuhnya hanya ilustrasi yang di buat dari Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar sepenuhnya hanya ilustrasi yang di buat dari Gemini AI

Krisis kemanusiaan terburuk di dunia terus berlangsung di tengah respons global yang lemah

Perang saudara di Sudan telah berlangsung sejak 2023 dan kini berkembang menjadi salah satu krisis kemanusiaan paling parah di dunia. Namun yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya skala kekerasannya, melainkan kegagalan komunitas internasional dalam merespons konflik yang terus memburuk. Di kota El Fashir, laporan terbaru menunjukkan bagaimana warga sipil tidak hanya menjadi korban perang, tetapi juga dijadikan alat pemerasan oleh kelompok bersenjata.

Kesaksian para penyintas dan laporan organisasi kemanusiaan menggambarkan praktik penculikan massal yang dilakukan oleh Rapid Support Forces. Warga sipil ditangkap, ditahan dalam kondisi tidak manusiawi, disiksa, dan dipaksa menghubungi keluarga mereka untuk meminta uang tebusan. Mereka yang tidak mampu membayar menghadapi ancaman eksekusi, bahkan di depan anggota keluarga mereka sendiri. Kekerasan semacam ini menunjukkan bahwa konflik di Sudan telah melampaui batas perang konvensional.

Akar dari situasi ini terletak pada runtuhnya otoritas negara. Pertempuran antara Sudanese Armed Forces dan Rapid Support Forces telah melemahkan kontrol pemerintah di berbagai wilayah. Ketika negara tidak lagi mampu menjalankan fungsi dasarnya, termasuk melindungi warga sipil, ruang kosong tersebut dengan cepat diisi oleh kekerasan yang tidak terkendali. Dalam kondisi seperti ini, warga sipil menjadi pihak yang paling rentan.

Namun krisis ini tidak dapat dijelaskan hanya sebagai kegagalan domestik. Perang di Sudan juga mencerminkan kegagalan yang lebih luas dari sistem internasional. Meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyebut Sudan sebagai lokasi krisis kemanusiaan terburuk di dunia, respons global masih jauh dari memadai. Sanksi internasional yang dijatuhkan kepada kedua pihak yang bertikai belum mampu menghentikan kekerasan. Upaya diplomasi pun sering kali terhambat oleh kepentingan geopolitik yang saling bertabrakan.

Keterlibatan aktor eksternal semakin memperumit konflik. Beberapa negara di kawasan Timur Tengah dilaporkan memiliki kepentingan yang berbeda dalam perang ini, sehingga memperpanjang dinamika konflik alih-alih meredakannya. Dalam situasi seperti ini, Sudan menjadi arena persaingan pengaruh yang justru memperdalam penderitaan masyarakatnya.

Di sisi lain, praktik penculikan dan pemerasan yang semakin meluas menunjukkan bahwa perang di Sudan telah melahirkan bentuk “ekonomi kekerasan”. Kelompok bersenjata tidak hanya bertempur untuk kekuasaan, tetapi juga memanfaatkan kekerasan sebagai sumber pendanaan. Warga sipil diperlakukan sebagai komoditas yang dapat ditukar dengan uang, memperlihatkan bagaimana nilai kehidupan manusia terdegradasi dalam konflik berkepanjangan.

Kegagalan komunitas internasional dalam merespons situasi ini memiliki konsekuensi serius. Tanpa tekanan yang lebih kuat dan upaya diplomasi yang lebih terkoordinasi, praktik kekerasan terhadap warga sipil akan terus berlanjut. Lebih dari itu, pembiaran terhadap situasi di Sudan berpotensi menciptakan preseden berbahaya, di mana konflik internal dapat berkembang tanpa intervensi yang berarti dari dunia internasional.

Sudan hari ini menjadi pengingat bahwa krisis kemanusiaan tidak selalu disebabkan oleh kurangnya informasi atau perhatian, tetapi juga oleh kurangnya tindakan nyata. Dunia mengetahui apa yang terjadi, tetapi gagal bertindak secara efektif untuk menghentikannya.

Jika komunitas internasional tidak segera mengambil langkah yang lebih tegas, maka kekerasan di Sudan akan terus bereskalasi, dan warga sipil akan tetap menjadi korban utama. Dalam konteks ini, pertanyaan yang lebih mendesak bukan lagi apa yang terjadi di Sudan, tetapi mengapa dunia terus membiarkannya terjadi.