Konten dari Pengguna

Nyore di Warung Pinggir Sawah Mbendo

Fayza Ardiarizky K P

Fayza Ardiarizky K P

Seorang mahasiswa tahun akhir dari UGM yang sedang dalam masa pengabdiannya melalui KKN-PPM.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fayza Ardiarizky K P tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tampak depan Warung Pinggir Sawah Mbendo. Sumber: foto pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Tampak depan Warung Pinggir Sawah Mbendo. Sumber: foto pribadi.

Warung Pinggir Sawah Mbendo merupakan sebuah warung yang terletak di Jalan Ngoro-oro Ombo, Tawang, Ngoro-oro, Kec. Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan dengan Desa Nglanggeran. Warung ini akan tampak menyatu di antara hamparan sawah dan pohon-pohon rindang saat Anda melihatnya dari jalan raya yang baru saja dibangun untuk mempermudah akses antar kota. Sekilas tampak sederhana dari kejauhan, tetapi jika sempat mengunjunginya, Anda mungkin menemukan warung ini sebagai tempat favorit Anda untuk bersantai di Ngoro-oro.

Asal Mula Warung Mbendo

Nama “Mbendo” sendiri disematkan karena area warung yang awalnya ditumbuhi oleh pohon Mbendo, sehingga lama-kelamaan dikenal oleh masyarakat sebagai Warung Mbendo. Berdirinya warung ini merupakan kesuksesan eksekusi dari inisiatif para pemuda Desa Ngoro-oro yang ingin berandil serta memaksimalkan kebermanfaatan dari tanah pertanian desa.

Pak Kaswan, selaku pengurus inti dari warung ini, menyatakan bahwa inisiatif tersebut akhirnya didukung dan ditindaklanjuti oleh Pak Sukasto, Lurah Ngoro-oro, pada tahun 2019. Sehingga, pembangunan warung ini secara tidak langsung merepresentasikan semangat serta kesadaran para pemuda pegiat pariwisata yang ingin memajukan wisata Ngoro-oro dan Dusun Tawang.

Sumber: foto pribadi.

Ciri Khas Warung Mbendo

Warung ini akrab dipanggil Soto Mbendo, atas menu ikoniknya yakni Soto Mbendo yang digemari berbagai kalangan. Soto hangat dilengkapi oleh ayam, telur, dan sayur-sayuran lain tersedia setiap hari, tidak lupa ditambah sedikit sambal untuk membangkitkan selera. Selain itu, terdapat menu ikonik yang cocok untuk sajian beramai-ramai yakni Sego Gumbreg yang terdiri dari bermacam jenis masakan tradisional seperti Ayam Ingkung, nasi putih, dan sayur-sayuran lain lebih meriah jika dinikmati bersama-sama.

Sego Gumbreg memiliki makna “syukur”, di mana hidangan ini umumnya merupakan bagian dari tradisi “selamatan” lahirnya seekor anak sapi di kampung itu. Sehingga selain mencoba makanan tradisional Gunungkidul, Anda dapat merasakan pula secuil tradisi lokal kapan saja hanya di Soto Mbendo.

Sego Gumbreg. Sumber: foto pribadi.
Soto Mbendo. Sumber: foto pribadi.

Variasi menu Warung Mbendo tentu saja masih beragam. Dari makanan kecil seperti mendoan, tempe, dan pisang goreng goreng hingga lauk pauk yang biasa Anda temui di lesehan seperti lele bakar, nila bakar, dan masih banyak lagi. Minuman unik khas Warung Mbendo juga menarik untuk dicoba.

Kopi perawan, Kopi janda, Jaserehe, atau Wedang uwuh, misalnya sangat cocok dinikmati di hari yang dingin. Sementara itu, jika Anda menginginkan minuman segar, jangan khawatir karena tersedia Kelapa muda murni, Es teh tarik, Aneka minuman sachetan, dan lainnya.

Jangan lupa untuk menunggu sore tiba karena pemandangan matahari terbenam di Warung Mbendo sangat memesona. Hamparan sawah dan terasering yang hijau, dihiasi oleh Lembah Menara di kejauhan. Ditambah dengan matahari terbenam yang menyatupadukan warna biru langit dengan oranye lembut, mata Anda tentu akan termanjakan hingga penghujung hari.

Pemandangan Lembah Menara dari Warung Mbendo. Sumber: foto pribadi.

Menyongsong Masa Depan Warung

Meskipun tampak mapan, warung ini masih memerlukan upaya pengelolaan yang lebih berkelanjutan. Pak Kaswan menjelaskan tentang bagaimana sebagian dari pengurus Warung Mbendo masih memiliki peran yang pasif. Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor, yang kemudian menyisakan sekitar 6 sampai 8 anggota aktif.

Di samping itu, Bu Sirus dan Pak Kaswan menilai bahwa urusan administratif terkait tanah yang digunakan untuk warung ini perlu lebih diperjelas. Sehingga, peran proaktif dari lembaga pemerintahan setempat sangat diperlukan untuk menunjang keberlanjutan dan kebermanfaatan Warung Mbendo sebagai aset potensial dari pengembangan wisata di Tawang dan Ngoro-oro.

Pengurus Warung Mbendo. Paling kiri, Pak Kaswan, dan paling kanan, Bu Sirus. Sumber: foto pribadi.