Harmoni Digital di Pasar Tradisional Yogyakarta

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Fayza Oryn Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pagi telah tiba, dan pasar Ngasem sudah ramai. Uap hangat dari bubur nasi ketan yang baru diangkat dari panci bercampur dengan aroma jajanan tradisional, menciptakan suasana yang familiar bagi penduduk setempat. Namun, di tengah pemandangan klasik ini, sebuah perubahan kecil namun menentukan adalah kode QR di meja kayu seorang pedagang.
Pada tahun 2025, pasar tradisional Yogyakarta tidak lagi hanya menjadi ruang transaksi berbasis tunai. Pasar tersebut akan menjadi titik temu antara kebiasaan lama dan kemudahan digital. QRIS kini hadir sebagai bahasa baru yang dipahami lintas usia, latar belakang, dan kebutuhan.

Ngasem: Tradisi yang Dibuat Lebih Ringkas
Di salah satu sudut pasar legendaris ini, Fajar Suryati sibuk melayani pelanggan yang mengantre untuk bubur nasi (bubur beras) buatannya. Ia adalah pewaris tradisi kuliner yang resepnya telah dilestarikan oleh keluarganya sejak tahun 1970-an. Sambil mempertahankan cita rasa otentik yang diwarisi dari ibunya, Fajar Suryati lebih memilih pendekatan modern dalam berinteraksi dengan pelanggannya.
QRIS sangat membantu, terutama karena anak muda zaman sekarang jarang membawa uang tunai," kata Fajar Suryanti. Baginya, mengadopsi teknologi digital adalah caranya untuk memastikan warisan kuliner ibunya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang dengan cara yang lebih praktis dan cepat.
Pasar Prawirotaman: Pasar Lokal dengan Irama Global
Berkunjung ke Pasar Prawirotaman menawarkan suasana yang berbeda. Bangunannya telah diubah menjadi struktur megah dengan sirkulasi udara yang lebih segar dan pencahayaan alami yang terang, menciptakan kesan pasar tradisional yang bersih dan berkelas.
Di sini, Sri Suwarni dengan rapi menata sayurannya di atas meja porselen putih. Suasana pasar yang tertata rapi selaras dengan keberadaan QRIS di setiap kios. Di toko kelontongnya, Muhammad Rizky sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan. Transaksi berlangsung cepat; pelanggan cukup memindai, dan Rizky hanya perlu melihat notifikasi di ponselnya. Efisiensi ini sangat dirasakan oleh Nipah Mutiati, yang merasa pasar sekarang jauh lebih fleksibel tanpa harus bergantung pada uang tunai di dompetnya.
Beringharjo: Ketika Pasar Rakyat Menjadi Ajang Pameran Modern
Sementara itu, Pasar Beringharjo tetap menjadi pusat energi Malioboro. Suasananya selalu ramai dan meriah, dengan tumpukan kain batik warna-warni dan aroma rempah-rempah yang menyengat. Meskipun lorong-lorongnya penuh sesak, transaksi kini terasa lebih tenang dan tertib. Tidak ada lagi hiruk pikuk mencari uang kembalian yang sering menghambat arus orang di lorong-lorong pasar.
Di tengah hiruk pikuk, Sinten Sumarni terlihat melayani pelanggannya dengan formulir tercetak. Baginya, QRS adalah solusi di tengah keramaian kawasan Beringharjo, karena ia tidak perlu lagi menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di laci mejanya. Kecanggihan ini juga menarik perhatian pengunjung dari segala usia. Banyak kelompok siswa SMP terlihat berkeliling dan berbelanja dengan memindai kode QR untuk membeli makanan ringan. Bagi mereka, berinteraksi secara digital di pasar tradisional seperti Beringharjo adalah pengalaman baru dan menarik, membuktikan bahwa pasar tradisional benar-benar telah beradaptasi dengan zamannya.
Tradisi yang beradaptasi dengan zaman.
Yogyakarta di tahun 2025 menunjukkan bahwa digitalisasi tidak harus menghilangkan jiwa tradisi. Dari ngasem hingga beringharjo, teknologi hadir bukan untuk menggantikan interaksi hangat, tetapi untuk menyederhanakan prosesnya. Di tangan penerus seperti Fajar Suryanti, tradisi tetap hidup dan relevan, dengan tenang merangkul masa depan dengan sentuhan digital dalam setiap transaksi.
