Strategi Employee Advocacy: Cara Mengoptimalkan Internal Influencer

Pranata Humas Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faza Nur Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi Karyawan Menjadi Aset Digital: Cara Baru Membangun Reputasi Institusi
Penggunaan influencer bukan lagi hal baru di dunia digital. Perannya dalam membentuk opini publik sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Mulai dari mendongkrak penjualan, membangun citra merek, sampai kampanye politik, semuanya sekarang menggunakan influencer.
Tapi sayangnya hampir semua organisasi, mulai dari perusahaan swasta sampai instansi pemerintahan, selalu salah langkah di bagian ini. Semua langsung berlari menyewa influencer eksternal dengan biaya yang sangat besar, padahal ada aset yang jauh lebih berharga, jauh lebih dipercaya, dan hampir tidak ada biaya: karyawan sendiri.
Ini yang dinamakan strategi internal influencer, atau employee advocacy. Dan ini saat ini merupakan strategi komunikasi publik yang paling diabaikan, padahal paling efektif yang ada saat ini.
Ada tiga alasan utama mengapa internal influencer selalu mengalahkan influencer eksternal:
1. Pesan yang disampaikan karyawan jauh lebih membumi dan dapat dipercaya. Orang tidak percaya lagi dengan omongan influencer bayaran, tapi mereka akan percaya omongan orang yang benar-benar bekerja di dalam sebuah institusi.
2. Jangkauan yang jauh lebih luas. Secara rata-rata gabungan jaringan media sosial semua karyawan sebuah institusi adalah 10 kali lebih besar dari akun resmi institusi itu sendiri.
3. Menciptakan komunikasi dua arah yang sebenarnya. Pengikut tidak akan segan berkomentar jujur di postingan karyawan, sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi di akun resmi institusi.
Berikut langkah-langkah sistematis untuk menjalankan strategi ini:
Langkah 1: Memilih dan merekrut internal influencer
Pertama tentukan dulu kriteria dasar yang sesuai dengan persona institusi kamu:
• Karyawan yang secara tulus mendukung institusi
• Memiliki kredibilitas yang baik di mata rekan kerja maupun publik
• Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik
• Memiliki potensi untuk berkembang menjadi talent
Kemudian dari kumpulan karyawan yang memenuhi kriteria di atas, saring lagi dengan kriteria tambahan:
• Aktif menggunakan media sosial
• Memiliki engagement yang baik dengan pengikutnya (bukan cuma jumlah pengikut banyak)
• Bersedia berkomitmen menjadi bagian dari tim
Langkah 2: Mengelola tim internal influencer
Banyak program ini gagal bukan karena karyawannya salah, tapi karena manajemen institusi tidak melakukan hal hal dasar yang seharusnya. Ini empat pilar yang wajib kamu lakukan:
1. Berikan dukungan resmi dari atas
Ini adalah syarat mutlak yang paling penting. Tanpa ini program ini akan mati di tengah jalan.
• Keluarkan surat keputusan atau surat penugasan resmi dari pimpinan tertinggi
• Berikan pelatihan media sosial secara berkelanjutan untuk semua anggota tim
• Dukung kolaborasi: antar anggota tim, dengan pimpinan, dengan internal influencer dari institusi lain, dan bila perlu dengan influencer eksternal atau komunitas.
2. Buat aturan yang jelas, bukan belenggu
Banyak institusi yang salah membuat aturan yang terlalu ketat sehingga semua konten menjadi kaku dan tidak asli lagi.
• Buat SOP yang sederhana dan jelas untuk menjaga konsistensi dan meminimalkan kesalahan
• Buat panduan Do's and Don'ts yang berlaku baik untuk konten institusi maupun konten pribadi. Tujuan panduan ini adalah untuk melindungi karyawan dan institusi, bukan untuk melarang mereka berbicara.
3. Lakukan monitoring dan evaluasi secara terbuka
• Monitoring dilakukan untuk mengukur kinerja, mendeteksi hambatan lebih awal, dan mencari solusi bersama, bukan untuk mengawasi.
• Evaluasi dilakukan secara rutin untuk mengukur jangkauan, engagement, dan semua masukan baik dari dalam tim maupun dari semua komentar dari publik.
4. Berikan apresiasi yang layak
Jangan pernah berharap karyawan mau bekerja ekstra untuk ini secara cuma-cuma. Apresiasi bisa dalam banyak bentuk:
• Honor tim
• Sertifikat penghargaan resmi
• Rekomendasi jabatan
• Kesempatan mengembangkan karir: menjadi narasumber, beasiswa pelatihan, beasiswa pendidikan
Pada akhirnya strategi internal influencer bukanlah strategi tentang konten, bukan juga tentang promosi. Ini adalah strategi untuk membangun kepercayaan. Dan di jaman dimana orang sudah tidak percaya lagi dengan akun resmi, tidak percaya dengan iklan, dan tidak percaya dengan influencer bayaran, satu satunya cara untuk mendapatkan kepercayaan publik adalah melalui suara orang yang benar-benar ada di dalam.
