Teruslah Bodoh Jangan Pintar: Selimut Kekuasaan Penutup Kebenaran

Mahasiswa S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yahfazhka Izzah Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Satu kalimat yang terpikirkan saat membaca novel ini adalah, Teruslah Bodoh Jangan Pintar terlalu nyata untuk dikatakan sebagai kisah fiksi. Dan pada beberapa bagian, terlalu fiksi untuk menjadi nyata. Tulisan yang tertuang dalam buku ini sangat dekat dengan realitas yang ada di Indonesia.
Kisah dimulai di sebuah ruang sidang ukuran 3x6 meter yang menjadi saksi pertarungan antara aliansi aktivis lingkungan dengan PT Semesta Minerals & Mining. Hotma Cornelius seorang advokat terkenal dipercaya menjadi perwakilan untuk PT Semesta Minerals & Mining.
Di lain pihak, aliansi aktivis diwakili dua orang aktivis lingkungan yang memiliki latar belakang hukum. Tim inti aliansi aktivis ini hanyalah enam orang. Dua aktivis, seorang jurnalis senior, seorang sutradara, seorang penulis, dan pemilik warung kopi—markas tempat mereka berkumpul. Atau mungkin, ada tambahan dua orang lagi yang mendukung di balik layar.
Sidang dengar pendapat dilakukan selama 16 hari mengenai izin konsesi raksasa PT Semesta Minerals & Mining apakah dilanjutkan atau dibatalkan. Komite dibentuk sesuai janji saat kampanye oleh presiden terpilih. Berisi tujuh orang yang di dalamnya adalah para akademisi, ilmuwan dan praktisi yang dianggap independen untuk memutuskan perizinan konsesi PT Semesta Minerals & Mining. Sidang dilakukan secara tertutup dan para saksi disembunyikan identitasnya sampai mereka masuk ke ruang sidang.
Aktivis lingkungan menghadirkan Ahmad sebagai saksi pada sidang dengar pendapat hari pertama. Ahmad bersaksi bahwa salah satu lubang bekas tambang milik PT Semesta Minerals & Mining merenggut korban jiwa.
Pada hari kedua, dihadirkan Ibu Siti yang bersaksi bahwa proyek PT Semesta Minerals & Mining merusak kehidupannya. Pulau tempat tinggalnya yang asri berubah menjadi mimpi buruk. Ikan-ikan di sekitar pantai menghilang, air sumur mengering, banjir bah saat musim penghujan, serta penyakit yang mulai menjangkiti warga setelah keberjalanan proyek tersebut.
Saksi berikutnya yang hadir dari aktivis lingkungan adalah Budi. Desa tempat tinggalnya dibeli paksa oleh PT Semesta Minerals & Mining. Proyek Semesta International Industrial Park (SIIP) akan didirikan di sana. Penduduk mau tak mau harus pindah segera. Berbulan-bulan upaya dilakukan untuk mengusir warga, hanya Budi dan teman-temannya yang tersisa. Sampai setahun setelahnya, Budi akhirnya menyerah karena tak tega dengan kondisi kesehatan ibunya yang semakin menurun akibat lingkungan yang tercemar.
Pihak lawan tak mau kalah. Mereka menghadirkan Rudi, kakak Budi yang menyetujui proyek SIIP. Rudi menceritakan segala hal yang terjadi di desanya kala itu. Menganggap adiknya Budi, bodoh karena menolak pindah sejak awal.
Hari keenam sidang, aliansi aktivis menghadirkan ahli burung. Ahli burung menyoroti bahwa salah satu proyek milik PT Semesta Minerals & Mining dibangun di kawasan tempat tinggal burung endemik yang langka, merusak habibat aslinya.
Hari kesembilan, ahli geolog dihadirkan. Mengungkap adanya prediksi gempa di kawasan proyek PT Semesta Minerals & Mining yang lagi-lagi hanya terus dibantah oleh Hotma Cornelius.
Hari keempat belas, Fredy hadir sebagai saksi dari aktivis lingkungan. Ia adalah mantan supervisor salah satu smelter milik PT Semesta Minerals & Mining. Fredy menceritakan adanya perbedaan gaji yang cukup signifikan antara pekerja lokal dan pekerja China, serta kerusuhan dan kecelakaan kerja yang kerap kali terjadi di smelter. PT Semesta Minerals & Mining dianggap tidak serius dalam memperhatikan keselamatan kerja karyawan. Terdapat banyak pelanggaran yang bisa ditelisik di sana.
Hari kelima belas. Menteri Bacok memenuhi panggilan komite untuk menjadi saksi. Aliansi aktivis sudah siap dengan menyiapkan saksi yang amat rahasia untuk sidang kali ini. Saksi mahkota yang akan mengungkap semuanya. Tapi apa yang diharapkan hanya menjadi harapan. Saksi itu tidak pernah hadir di ruang sidang.
Hari keenam belas. Hari terakhir. Titik darah penghabisan. Aliansi aktivis telah berusaha keras untuk mencari dokumen yang bisa membantu untuk sidang kali ini. Tapi tembok tinggi terasa menghalangi upaya mereka. Komite memanggil Tuan Liem sebagai saksi di hari terakhir. Dialah pemilik PT Semesta Minerals & Mining yang telah diwariskan turun menurun oleh keluarganya. Tidak mudah mencari informasi tentangnya. Karena meskipun namanya tersohor di seluruh negeri, hidupnya lebih banyak tertutup dari media.
Enam belas hari sidang dengar pendapat telah terlewati. Namun, setiap kesaksian dari pihak aliansi aktivis selalu dibantah dengan segala retorika serta bukti-bukti yang disiapkan oleh advokat lawan. Terlihat jelas adanya kekuatan besar yang menopang mereka di balik layar.
Dua hari setelahnya, 2x24 jam terlewati. Komite dibubarkan sesaat sebelum hasil keputusan diumumkan oleh ketua komite kepada publik. Hasilnya mungkin sudah bisa ditebak. Uang memang bisa membeli segalanya di negeri ini. Tapi itu bukan akhir cerita ini. Akhir cerita adalah sebuah plot twist. Entah benar atau tidak jalan yang dipilih, tapi harapan mereka tetap yang terbaik bagi negeri ini.
Tere Liye membawa pembaca menyelami realitas lebih dalam lewat novelnya. Pembahasan yang cukup berat berhasil dibawakan dengan bahasa yang mudah bagi pembaca. Tidak seperti novel Tere Liye lainnya yang memiliki latar kompleks. Teruslah Bodoh Jangan Pintar hanya memiliki dua latar tempat utama, yaitu ruang sidang dan warung kopi.
Novel ini mengajak pembaca mengikuti rangkaian sidang dan flashback ke masa lalu para saksi yang dihadirkan selama persidangan. Segala kesulitan dan penderitaan yang dialami para saksi terasa amat mengaduk perasaan.
Sebuah dialog menarik ada di halaman 349. Perkataan seorang anggota komite kepada rekan-rekannya.
“Lucunya, mereka menulis di media, agar komite memikirkan generasi berikutnya. Memikirkan anak cucu bangsa, saat mewarisi lingkungan yang rusak oleh tambang. Wah, betul juga. Saya jadi merenung lama,” Anggota komite lain bicara, “Tapi setelah saya pikir-pikir, lantas siapa yang akan memikirkan anak cucu saya? Itu lebih penting, loh. Apa yang bisa saya wariskan ke anak cucu saya?”
Perkataan yang begitu mudah diucapkan. Tapi di balik itu, ada ribuan warga yang menderita karenanya. Di balik tawa yang menghiasi apartemen mewah tempat anggota komite berkumpul, ada ribuan warga yang kehilangan tempat tinggalnya, kehilangan mata pencahariannya.
Bagi penyuka novel dengan genre isu sosial politik seperti ini, akan dimanjakan dengan jalan cerita yang dihadirkan. Alur maju mundur yang disajikan cukup menarik, serta dialog yang ada memancing pembaca untuk berpikir kritis. Tapi bagi penyuka hiburan fiksi seperti karya Tere Liye lainnya, mungkin akan bosan dengan novel ini.
Judul: TERUSLAH BODOH JANGAN PINTAR
Pengarang: Tere Liye
Tebal: 371 hlm; 20 cm
Penerbit: PT Sabaka Grip Nusantara, Depok, Jawa Barat
No ISBN: 9786238882205
Tahun Terbit: Februari 2024
Edisi: Cetakan ke-8, Januari 2025
