Konten dari Pengguna

Krisis Ekonomi & Fenomena Kaya Instan: Pertumbuhan Ekonomi Digital di Indonesia

Fazila Ghania

Fazila Ghania

Mahasiswa PKN STAN / Tertarik pada isu literasi keuangan, ekonomi pembangunan, dan pengawasan sektor digital. / Tulisan merupakan kontribusi opini pribadi.

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fazila Ghania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah upaya mewujudkan ekonomi pembangunan yang berkelanjutan, muncul fenomena baru: aplikasi digital yang menjanjikan kekayaan instan. Di linimasa media sosial, berseliweran testimoni orang-orang yang katanya berhasil cuan ratusan ribu hanya dari investasi ringan atau kerja rebahan. Budaya instan bukan lagi tren, tapi sudah jadi ekosistem sosial: siapa yang sabar, dianggap kalah start. Pertanyaannya, kalau semua orang berlomba jadi kaya secepat mungkin, siapa yang mau membangun fondasi ekonominya?

Sumber ilustrasi: Gambar buatan AI oleh pengguna, tersedia di bit.ly/ilustrasi-ekonomi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi: Gambar buatan AI oleh pengguna, tersedia di bit.ly/ilustrasi-ekonomi

Budaya Instan: Simptom atau Akar Masalah?

Budaya ingin serba cepat bukan hanya hasil dari teknologi, tapi juga cerminan dari tekanan hidup dan ketimpangan yang mengakar. Ketika peluang ekonomi terasa timpang dan jalur formal dianggap terlalu lambat, masyarakat cenderung mencari jalan pintas. Tak heran, munculnya aplikasi investasi cepat kaya, pinjaman online instan, hingga skema referral berbonus besar langsung mendapat sambutan hangat. Dalam buku Economic Development, Todaro dan Smith menekankan bahwa pembangunan sejati mencakup transformasi struktural—bukan sekadar peningkatan pendapatan, tetapi juga perubahan nilai dan cara berpikir masyarakat. Maka, budaya instan bukan hanya gejala, tetapi juga tantangan mendasar dalam agenda pembangunan manusia.

Efek pada Pembangunan Ekonomi

Ketika orientasi masyarakat bergeser ke arah “hasil cepat, usaha minimal,” ada harga pembangunan yang harus dibayar. Pekerjaan yang menopang struktur ekonomi nasional—seperti guru, petani, tenaga medis di daerah, atau pelaku UMKM—bisa jadi tidak lagi dipandang sebagai jalan hidup yang bermakna, karena tak menjanjikan imbal hasil instan. Padahal, pembangunan ekonomi bukanlah sprint, melainkan maraton jangka panjang yang membutuhkan komitmen, kesabaran, dan kerja kolektif. Budaya instan yang terlalu menonjol berisiko menciptakan generasi yang mudah lelah ketika hasil tak kunjung datang, atau lebih parah: mendorong masyarakat masuk ke ekosistem ekonomi semu yang menjanjikan cuan tanpa kontribusi produktif apa pun.

Peran Negara & Pendidikan Ekonomi

Menghadapi tantangan budaya instan, negara tidak bisa hanya menjadi penonton. Diperlukan peran aktif dalam membangun narasi ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Pendidikan ekonomi, literasi keuangan, dan pelatihan keterampilan hidup harus diperkuat sejak dini agar masyarakat tidak mudah tergoda janji palsu kekayaan. Di sisi lain, regulasi juga perlu lebih adaptif terhadap perubahan zaman—memastikan bahwa platform digital yang beredar tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga taat aturan. Pemerintah bersama institusi pendidikan dan media memiliki tugas bersama: membangun kesadaran bahwa kekayaan sejati bukan yang cepat datang, melainkan yang bertumbuh dari kontribusi nyata dalam pembangunan.

Pembangunan ekonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan dan investasi besar, tapi juga tentang karakter masyarakat yang mengisi dan menjaga sistem itu. Jika terlalu banyak yang tergoda jalan pintas, siapa yang akan bertahan di jalan panjang pembangunan? Di tengah godaan kekayaan instan dan dunia yang makin cepat berubah, barangkali pilihan paling berani hari ini adalah tetap sabar, tetap jujur, dan tetap membangun—pelan-pelan tapi pasti. Karena kalau semua ingin cepat kaya, siapa yang akan bangun ekonominya?