Konten dari Pengguna

Pendidikan Perempuan: Fondasi Ilmu Pengetahuan dan Masa Depan Anak Bangsa

Fazila Ghania

Fazila Ghania

Mahasiswa PKN STAN / Tertarik pada isu literasi keuangan, ekonomi pembangunan, dan pengawasan sektor digital. / Tulisan merupakan kontribusi opini pribadi.

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fazila Ghania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Seorang perempuan yang terdidik tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi membuka jalan bagi generasi yang belum lahir.”

Ilustrasi perempuan membaca buku: pendidikan perempuan menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, ilmu pengetahuan, dan masa depan generasi mendatang.(Sumber: AI ilustrator)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan membaca buku: pendidikan perempuan menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, ilmu pengetahuan, dan masa depan generasi mendatang.(Sumber: AI ilustrator)

Pendidikan perempuan masih penuh tantangan

Di Indonesia, kita sudah lama bicara soal kesetaraan akses pendidikan. Tapi, angka yang terlihat “baik” tidak selalu mencerminkan kenyataan sosial yang lebih dalam. Data BPS tahun 2023 memang menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah untuk perempuan usia 7–18 tahun sudah mencapai lebih dari 97%. Tapi ketika kita geser fokus ke pendidikan tinggi, angkanya mulai menyusut.

Grafik: Tingkat partisipasi pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun angka partisipasi perempuan pada pendidikan dasar tinggi, angka di jenjang perguruan tinggi masih tertinggal dibanding laki-laki, diolah oleh Penulis. (Sumber: BPS, 2023)

Bukan hanya soal biaya atau fasilitas. Tantangan pendidikan perempuan sering datang dari dalam rumah:

“Ngapain kuliah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya juga di dapur.”

“Nanti kalau sekolah jauh-jauh, siapa yang jaga adik?”

“Kalau terlalu pintar, nanti laki-laki minder.”

Pendidikan perempuan sering kali dibatasi oleh harapan sosial, bukan oleh kemampuannya.

Ilmu pengetahuan yang tumbuh di ruang sempit

Kita sering bicara soal pentingnya ilmu pengetahuan. Tentang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), tentang kecerdasan buatan, tentang dunia kerja masa depan. Tapi kita lupa bertanya: siapa yang punya akses untuk belajar semua itu?

Di desa-desa, banyak anak perempuan berhenti sekolah bukan karena tak mampu secara akademik, tapi karena disuruh menikah muda. Di kota, anak perempuan yang berprestasi sering tidak didorong untuk memilih jurusan teknik atau sains karena dianggap "maskulin". Sementara itu, dunia terus berkembang — tapi setengah dari potensi manusianya masih terbatasi oleh stereotip.

Jika pendidikan adalah jembatan menuju masa depan, perempuan kita masih sering berdiri di pinggir jembatan — tanpa tahu caranya melangkah.

Pendidikan perempuan bukan sekadar hak, tapi strategi pembangunan

Pendidikan perempuan bukan isu “perempuan” saja. Ia adalah isu nasional.

Perempuan yang terdidik lebih mungkin menyekolahkan anaknya.

Lebih peka terhadap kesehatan, gizi, dan lingkungan.

Lebih mandiri dalam ekonomi, dan lebih kritis terhadap kebijakan.

Dalam konteks pembangunan, perempuan yang berpendidikan adalah agen perubahan. Tapi sering kali mereka hanya diberi ruang di pinggir, dijadikan objek dalam program, bukan mitra dalam perencanaan.

Kita membangun jalan dan jembatan, tapi lupa bahwa ide-ide cemerlang juga harus dibangun. Kita investasi infrastruktur, tapi jarang investasi pada kepala dan hati perempuan.

Pendidikan karakter perempuan itu halus, tapi berdampak

Coba ingat siapa guru TK atau SD kamu dulu. Kemungkinan besar, perempuan.

Perempuan yang sabar, yang mengajarkan abjad pertama, yang mengenalkan nilai-nilai.

Tapi ironisnya, dunia pendidikan kita sering tidak memuliakan para perempuan ini. Gaji guru honorer perempuan masih banyak yang di bawah UMR. Kesempatan mereka untuk berkembang terbatas. Sementara itu, kurikulum nasional bicara soal "pendidikan karakter" tanpa banyak melibatkan pengalaman perempuan sebagai pendidik dan pelaku nilai itu sendiri.

Pendidikan perempuan bukan hanya soal akademik. Ia adalah soal karakter: nilai hidup, empati, keberanian, dan ketahanan mental. Kita tidak bisa mendidik bangsa dengan kuat, jika tidak melibatkan kekuatan perempuan dalam prosesnya.

Saatnya ubah narasi: dari "boleh sekolah" ke "wajib maju"

Kita harus berhenti memposisikan pendidikan perempuan sebagai “opsi”.

Sudah waktunya menjadikannya prioritas dalam setiap level kebijakan pendidikan: dari akses pendidikan dasar di daerah 3T, sampai beasiswa untuk perempuan di STEM, hingga sistem pelatihan ibu muda dan pekerja informal.

Dan lebih dari itu, kita perlu mengubah cara kita bicara pada anak perempuan.

Berhenti bilang “kamu cukup tahu dasar saja”.

Mulailah bilang, “kamu bisa jadi peneliti, insinyur, dosen, pemimpin.”

Karena ketika perempuan diajarkan untuk berpikir kritis, maka bangsa ini akan berpikir lebih tajam. Ketika perempuan diberi akses ilmu, maka ilmu akan menjangkau lebih banyak kehidupan. Dan ketika perempuan dididik untuk bertanya — bukan hanya untuk patuh — maka pembangunan akan punya arah yang lebih adil.

Pendidikan adalah warisan paling berharga

Ibu saya tidak mewariskan tanah, tidak meninggalkan tabungan besar.

Tapi ia memberi saya satu hal: keyakinan bahwa saya berhak untuk belajar.

Bahwa berpikir adalah bagian dari hidup perempuan.

Itulah warisan paling berharga.

Dan saya yakin, jika lebih banyak perempuan diberi kesempatan untuk belajar, bangsa ini akan punya lebih banyak ibu, guru, pemimpin, dan pemikir yang membangun tidak hanya dengan logika — tapi juga dengan rasa.