Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Perang Konvoi: Peristiwa Bojongkokosan 1945
19 Maret 2022 17:41 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Fazriyatul Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Apa Peristiwa Bojongkokosan itu?
Peristiwa Bojongkokosan atau biasa dikenal dengan perang konvoi adalah peristiwa heroik yang dilakukan oleh rakyat Sukabumi yang disusun oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan Letnan Kolonel Eddie Sukardi sebagai pimpinannya dalam menghalau pasukan sekutu (Inggris) yang diboncengi NICA untuk kembali menduduki kekuasaannya di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Peristiwa yang berlangsung pada 9 hingga 12 Desember 1945 ini, diketahui merupakan perang konvoi pertama yang terjadi pada masa awal kemerdekaan dan menjadi salah satu pemicu terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api yang diketahui sebagai pertempuran besar. Sebab, bila ditinjau menurut strategi nasional, wilayah jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Bandung, merupakan kekuatan terbesar sekutu untuk menguasai daerah yang dilalui jalur tersebut.
Dalam memimpin jalannya perang, Letnan Kolonel Eddie Sukardi membagi empat batalion resimen TKR Sukabumi dengan menyebarkannya secara rata guna mempermudah jalannya penyerangan berdasarkan rancangan strategi dan taktik yang telah dipersiapkan. Di batalion 1, Mayor Yahya Bahram Rangkuti adalah pemimpin yang bertugas mengawasi seluruh front di sepanjang jalan raya Cigombong-Cibadak. Batalion 2, di bawah pimpinan Mayor Harry Soekardi bertugas mengawasi garis pertempuran sepanjang jalan raya Cibadak sampai dengan kota Sukabumi Bagian Barat. Batalion 4, di bawah pimpinan Mayor Abdurahman bertugas mengawasi garis pertempuran sepanjang jalan kota Sukabumi bagian Timur sampai dengan lokasi jalan raya Gekbrong. Batalion 3, yang dipimpin oleh kapten Anwar mengawasi garis pertempuran dari Gekbrong sampai dengan Jalan Raya Ciranjang.
ADVERTISEMENT
Tebing Bojongkokosan menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Sukabumi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tepat di bawah jembatan tebing, para pejuang Indonesia melancarkan serangan terhadap sekutu menggunakan berbagai taktik yang telah direncanakan sebelumnya.
Serangan pertama yang dilancarkan oleh para pejuang yaitu, dengan menggunakan taktik “menggebuk ular berbisa” yang ditujukan kepada para tentara sekutu, yang sebelumnya jalur tersebut sudah dipasangi parit dan ranjau di sekitar bawah jembatan. Tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya pertempuran di satu tempat. Namun, karena terbatasnya jumlah pasukan dan senjata, menyebabkan para pejuang mengubah taktiknya dengan menggunakan taktik "Hit dan Run"dan kirikumi, guna dapat menghemat tenaga di mana penyerangan tersebut biasanya dilakukan pada malam hari dari jarak dekat, oleh tiga atau empat orang bersenjatakan granat.
ADVERTISEMENT
Sebagai akibat dari peristiwa Bojongkokosan ini, diketahui disepanjang perjalanan menuju Sukabumi, para pihak sekutu melakukan penembakan yang akhirnya menewaskan 25 orang dari para pejuang kita, sementara dipihak sekutu mengalami kerugian sebanyak 18 kendaraan hancur, sopir dan pasukan tentara sekutu atau tentara Gurkha yang terbunuh sebanyak 100 orang.
Meskipun peristiwa ini sama sekali tidak mendapat tempat dalam historiografi Indonesia dan tidak diketahui secara luas oleh masyarakat Indonesia. Namun, di mata masyarakat Sukabumi dan sekitarnya, peristiwa ini memiliki makna tersendiri yang begitu mendalam di ingatan mereka. Oleh karena itu, perjuangan rakyat Sukabumi melawan sekutu tak sepantasnya hadir untuk dilupakan, melainkan untuk tetap diingat keberadaanya.