Belajar Semalaman Suntuk, Kalah dari Jalan Pintas di Pasar Bimbel

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fazwah Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menelaah saat pendidikan bergeser menjadi pasar transaksi, dengan sorotan pada sistemnya, bukan pada siswa.

Pernahkah kamu merasa frustrasi? Sudah belajar semalaman suntuk dari buku paket untuk menghadapi Ujian Sekolah atau Penilaian Akhir Semester (PAS), tapi nilaimu tetap kalah dari teman yang ikut Bimbingan Belajar (Bimbel) berharga fantastis.
Tentu, banyak siswa yang belajar mandiri tetap unggul. Tetapi, ketika ketimpangan nilai ini terjadi secara masif, sering kali penyebabnya bukan lagi soal siapa yang lebih cerdas.
Ada yang punya privilese mengakses modul khusus, trik cepat menyilang jawaban, hingga bank soal "bocoran" untuk dilatih berulang kali. Di sisi lain, banyak siswa yang tidak memilikinya. Di titik inilah pendidikan tidak lagi sekadar ruang belajar, melainkan sebuah pasar transaksi.
Menjamurnya bimbel dan jualan “jaminan nilai tinggi” bukanlah indikator bahwa siswa kita semakin cerdas. Pendidikan kini mulai bergeser menjadi industri, di mana nilai ujian dan rapor seolah menjadi produk yang bisa “dipesan” asalkan kamu sanggup membayar harganya.
Mengubah Modal Ekonomi Menjadi "Tiket Masa Depan"
Fenomena ini mengingatkan kita pada konsep Reproduksi Sosial dari sosiolog Pierre Bourdieu. Singkatnya, ada yang namanya Modal Ekonomi (uang) dan Modal Budaya (nilai rapor, ijazah, atau sertifikat).
Di sinilah bimbel bekerja sebagai "mesin transformator". Ia mengubah uang orang tua menjadi nilai rapor yang cemerlang, peringkat kelas, hingga tiket lolos jalur prestasi (SNBP) di kampus favorit.
Anak yang mampu membayar bimbel premium sejatinya tidak sekadar membeli tambahan jam belajar. Mereka sedang membeli akses eksklusif yang kadang harganya tak terjangkau akal sehat untuk mengamankan posisinya dalam piramida persaingan sekolah. Bourdieu mengingatkan kita: sistem pendidikan sering kali tidak murni mengukur kecerdasan, melainkan seberapa besar modal siswa untuk mengakses fasilitas pendukung tersebut.
Ilmu Pengetahuan Sebagai Barang Dagangan
Secara sosiologis, apa yang kita saksikan saat ini adalah bentuk komodifikasi pendidikan. Pendidikan yang sejatinya membebaskan, direduksi menjadi komoditas komersial.
Harus diakui, bimbel hadir karena permintaan pasar yang nyata. Namun, masalah menjadi ironis ketika lembaga bimbel berlomba menawarkan klaim seperti "Garansi Nilai Rapor Sempurna" atau "Jaminan Lolos Kampus".
Di titik itu, yang dijual bukan lagi pendalaman materi, melainkan rasa aman. Trik instan dan prediksi soal menjadi nilai jual utama, sementara ilmu pengetahuan dikemas menjadi paket instan siap saji yang harganya didikte oleh mekanisme pasar.
Merayakan "Simulasi Kecerdasan"
Lalu, mengapa nilai rapor atau hasil ujian yang tinggi ini sangat diagungkan tanpa melihat bagaimana proses meraihnya?
Filsuf Jean Baudrillard pernah menyebut bahwa masyarakat modern hidup dalam hiperrealitas, di mana "tanda" lebih dihargai daripada kenyataan aslinya.
Angka "100" atau deretan huruf "A" di rapor awalnya adalah tanda dari pemahaman. Namun perlahan, angka itu menyamarkan fakta bahwa yang diukur sering kali hanyalah kecepatan mengenali pola soal hasil latihan berulang (drilling), bukan nalar kritis yang utuh. Masyarakat yang telanjur memuja deretan angka tersebut sebenarnya sedang merayakan simulakra, sebuah simulasi kecerdasan semata.
Akar Masalahnya Ada di Ruang Kelas Kita
Meski begitu, menyalahkan bimbel seratus persen tentu tidak adil. Bimbel laku keras karena sistem asesmen kita, baik ujian seleksi nasional maupun ujian di sekolah memberinya panggung.
Di sekolah, siswa dituntut untuk berproses. Namun pada akhirnya, ujian harian atau semesteran sering kali bermuara pada soal pilihan ganda berbasis hafalan pola. Ironisnya, tuntutan dari sistem untuk mencetak angka rapor sesempurna mungkin membuat siswa mau tidak mau mencari jalan pintas. Ketika sebuah pola evaluasi bisa dihafal dan ditebak, akan selalu ada pihak yang menjual "cara meretas" ujian tersebut.
Menjaga Kerja Keras, Mengkritik Sistemnya
Kritik ini sama sekali tidak bermaksud menafikan kerja keras para siswa. Banyak pelajar yang benar-benar menyelami esensi ilmu pengetahuan hingga larut malam. Yang kita soroti adalah kepincangan sistemnya.
Nilai tinggi berkat bimbel memang menguntungkan secara personal. Namun ketika ekosistem pendidikan dibiarkan tunduk pada logika pasar, ketimpangan di masyarakat akan makin melebar. Ada beberapa langkah sistemik yang harus didorong:
Ubah format ujian sekolah: Kurangi porsi pilihan ganda yang bertumpu pada hafalan pola. Perbanyak evaluasi berbasis esai penalaran atau proyek (project-based) sehingga nilai tidak bisa dikatrol secara instan hanya dengan drilling bimbel.
Demokratisasi fasilitas belajar: Pemerintah dan sekolah harus menyediakan bank soal, modul pendalaman, hingga fasilitas bimbingan gratis yang berkualitas agar siswa dari keluarga ekonomi menengah ke bawah punya pijakan yang setara.
Hentikan pada obsesi angka mati: Evaluasi sekolah tidak seharusnya memuja hasil akhir ujian semata, melainkan menghargai rekam jejak proses pemikiran kritis siswa di ruang kelas.
Kecerdasan dan masa depan bukanlah komoditas yang seharusnya bisa dibeli lewat jalan pintas. Ia adalah hak fundamental yang harus ditumbuhkan secara setara bagi setiap pelajar, di ruang kelas sekolah kita.
