Konten dari Pengguna

Kuota Kelas sebagai Kelangkaan, Kecepatan sebagai Dagangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fazwah Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelangkaan kuota kelas saat war KRS mengubah kecepatan menjadi barang dagangan melalui suburnya praktik jasa joki.

Ilustrasi kelangkaan kuota kelas saat War KRS. Generated by AI (GeminiAI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelangkaan kuota kelas saat War KRS. Generated by AI (GeminiAI)

Kelangkaan kuota mata kuliah setiap awal semester. Mahasiswa mengenal satu ritual yang sama: war KRS. Sistem dibuka pada jam yang ditentukan, jari bergerak secepat mungkin, dan kelas yang diincar bisa terisi penuh dalam hitungan menit. Selama bertahun-tahun, hal ini dianggap bagian wajar dari kehidupan kampus, bahkan sering dibicarakan sambil bercanda sebagai “perang” yang harus dimenangkan.

Namun ada perkembangan yang jarang dibahas serius: kelangkaan itu kini punya harga. Di berbagai kampus muncul joki KRS, yaitu orang yang dibayar untuk mengikuti war KRS atas nama mahasiswa lain. Liputan Mojok pada 2023 mencatat salah satu joki mematok lima ribu rupiah per mata kuliah, sementara seorang mahasiswa mengaku membayar dua puluh lima ribu untuk satu kali war. Pelanggannya pun disebut kebanyakan berasal dari kampus negeri. Urusan yang semula murni akademik kini menjadi peluang usaha.

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan mahasiswa yang memakai jasa tersebut, apalagi para joki yang mencari penghasilan. Yang perlu dilihat adalah kondisi yang membuat jasa itu laku. Alasan mahasiswa beragam, mulai dari tidak bisa berada di depan laptop saat sistem dibuka hingga kecemasan kehilangan kelas yang menentukan arah studinya. Joki menawarkan jasa karena ada permintaan nyata. Keduanya bergerak di dalam sistem yang sama.

Di satu sisi, kampus menyediakan sistem KRS agar mahasiswa merencanakan studinya sendiri. Di sisi lain, kuota yang terbatas membuat rencana itu bergantung pada seberapa cepat seseorang menekan tombol. Rencana studi yang seharusnya lahir dari pertimbangan akademik berubah menjadi hasil adu kecepatan. Dan ketika kecepatan menentukan hasil, wajar jika ada yang mulai menjualnya.

Persoalan ini tidak bisa dijelaskan dengan menganggap mahasiswa kurang disiplin atau terlalu manja. Anggapan itu menyederhanakan masalah yang sifatnya struktural. Ketika banyak mahasiswa menghadapi tekanan yang sama, penyebabnya bukan pada tiap individu, melainkan pada cara akses dibagikan.

Dalam kacamata sosiologi pendidikan, situasi ini dapat dibaca lewat konsep life chances dari Max Weber, yaitu peluang seseorang memperoleh hal-hal yang dihargai dalam masyarakat, yang dipengaruhi posisinya di pasar. Di ruang kuliah, “pasar” itu tampil dalam bentuk sangat kecil: pasar kursi kelas. Mahasiswa yang mampu membayar jasa, memiliki perangkat dan koneksi yang andal, atau bebas dari kewajiban lain pada jam pembukaan, punya peluang lebih besar mendapatkan kelas yang diinginkan. Dua mahasiswa dengan minat dan kemampuan setara belum tentu memiliki peluang yang sama.

Di sini muncul pertanyaan mendasar tentang apa yang sebenarnya dibagikan oleh sistem KRS. Apakah kampus membagikan kesempatan belajar, atau hanya membagikan kursi kepada pihak tercepat? Jika yang kedua, kampus tanpa sengaja ikut melahirkan pasar di sekelilingnya.

Dampaknya juga tidak berhenti pada urusan jadwal. Pilihan kelas membentuk dosen yang mengajar, topik yang dipelajari, dan keahlian yang dibawa saat lulus. Liputan yang sama memperlihatkan risikonya: seorang mahasiswa yang memakai joki mendapat kelas yang tidak sesuai kebutuhannya dan akhirnya kesulitan menjalani perkuliahan sepanjang semester, termasuk soal kehadiran. Kecepatan yang dibeli ternyata tidak selalu membawa pilihan yang tepat.

Karena itu, jawabannya tidak boleh berhenti pada larangan terhadap joki atau imbauan agar mahasiswa mengisi KRS sendiri. Larangan hanya memindahkan masalah selama kelangkaan dan sistem berbasis kecepatan tetap sama. Kampus dapat menambah kelas paralel pada mata kuliah yang selalu penuh, membuka jadwal bertahap berdasarkan angkatan atau kebutuhan kurikulum, atau memakai mekanisme alokasi yang tidak bergantung pada kecepatan, misalnya pendaftaran dalam rentang waktu tertentu lalu pembagian kuota secara transparan. Dengan begitu, kelas ditentukan oleh kebutuhan akademik, bukan oleh siapa yang tercepat.

Yang terjadi di sekitar war KRS adalah gejala kecil dari persoalan yang lebih besar: ketika kelangkaan dibiarkan, akan selalu ada yang menemukan cara menjadikannya dagangan. Hari ini yang dijual adalah kecepatan, dan bukan tidak mungkin besok yang dijual adalah hal lain.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi mengapa ada mahasiswa yang memakai joki, melainkan mengapa sistem membuat kecepatan terasa begitu layak dibeli. Selama kuota terbatas masih dibagikan lewat adu cepat, ruang kuliah akan terus punya pasar kecil di sekelilingnya, dan mahasiswa yang tidak mampu membeli kecepatan akan terus belajar dari sisa kursi.