Peminatan Itu Pilihan atau Tiket bagi yang Lebih Dulu Membayar?

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fazwah Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Peminatan bisa sama besar, tetapi tiket untuk memilihnya tidak dibagikan sama rata.

Di kampus, kata “peminatan” terdengar seperti janji: pilih bidang yang kamu sukai, dan kampus akan membantumu ke sana. Namun ada pertanyaan yang jarang dibahas serius. Ketika kursi terbatas, siapa yang sebenarnya mendapat kesempatan memilih, mereka yang paling berminat atau mereka yang paling dulu siap?
Di kampus negeri, alurnya umumnya begini. Mahasiswa diberi waktu sekitar satu bulan untuk melunasi Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) dibuka bagi yang sudah membayar. Bagi yang terhambat biaya, tersedia penundaan. Kebijakan ini patut dihargai, sebab tidak ada mahasiswa yang dipaksa berhenti kuliah karena uangnya belum cukup.
Bayangkan dua mahasiswa dengan minat yang sama pada analisis kebijakan. Yang pertama melunasi UKT sejak awal dan langsung mendapat kelas incarannya. Yang kedua menunggu kiriman dari orang tuanya. Ketika akhirnya membuka sistem, kelas itu sudah penuh. Ia menatap layar sebentar, lalu bergumam, “yaudah, yang penting jalan,” dan memilih kelas yang tersisa.
Dalam kacamata sosiologi pendidikan, kondisi ini dikenal sebagai reproduksi sosial: keunggulan ekonomi diam-diam berubah menjadi keunggulan akademik. Penundaan pembayaran memang menyelamatkan kuliah, tetapi tidak menyelamatkan urutan. Mahasiswa yang menunda tetap lulus dan tetap mendapat nilai, tetapi menempuh arah yang tidak sepenuhnya mereka pilih.
Dampaknya tidak berhenti di satu semester. Peminatan membentuk keahlian, topik skripsi, dan peluang kerja. Selisih kecil di awal bisa melebar di akhir. Ketika itu terjadi, peminatan berisiko berubah dari ruang memilih menjadi ruang berebut, dan yang diperebutkan bukan lagi minat, melainkan waktu membayar.
Mungkin itu sebabnya “yang penting jalan” terdengar begitu datar. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena mereka sudah belajar bahwa minat saja tidak cukup untuk mendapat kursi.
