Konten dari Pengguna

Tari Enggang, Keanggunan Budaya Dayak dari Kalimantan

Okta Fabian

Okta Fabian

Digital Marketing and Content Creator.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Okta Fabian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi dan warisan budaya. Salah satu bentuk kekayaan tersebut dapat dilihat melalui berbagai tarian daerah yang memiliki makna filosofis mendalam. Dari sekian banyak tarian tradisional di Nusantara, Tari Enggang dari Kalimantan menjadi salah satu yang paling memikat perhatian.

Tarian Enggang - Illustrasi Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Tarian Enggang - Illustrasi Dok. Pribadi

Tari Enggang, yang juga dikenal dengan nama Kancet Lasan, berasal dari suku Dayak Kenyah di Kalimantan. Tarian ini terinspirasi dari burung enggang, satwa yang sangat dimuliakan dalam kepercayaan masyarakat Dayak. Burung enggang melambangkan kemuliaan, kepemimpinan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Gerakan dalam Tari Enggang menggambarkan kepakan sayap burung enggang yang terbang di atas hutan tropis Kalimantan. Para penari menggerakkan tangan dengan lembut dan anggun, menciptakan gerakan yang menyerupai sayap burung yang sedang melayang di udara. Tempo tarian yang tenang juga mencerminkan karakter masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi kehormatan dan keseimbangan hidup.

Secara historis, Tari Enggang dahulu dipentaskan untuk menyambut para pejuang yang kembali dari medan perang. Tarian ini menjadi simbol penghormatan dan rasa syukur atas keselamatan mereka. Seiring waktu, fungsi Tari Enggang berkembang menjadi tarian penyambutan yang ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun pertunjukan budaya.

Selain gerakannya yang khas, daya tarik Tari Enggang juga terlihat dari kostumnya. Para penari mengenakan busana tradisional yang dihiasi bulu burung enggang, manik-manik warna-warni, serta motif khas Kalimantan. Ornamen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menariknya, Tari Enggang tidak hanya dapat disaksikan di Kalimantan. Dalam sebuah perayaan budaya di Jakarta, tarian ini juga pernah dipentaskan di House of Tugu Jakarta, sebuah ruang budaya yang berada di kawasan Kota Tua. Pada kesempatan tersebut, Tari Enggang tampil bersamaan dengan pertunjukan Barongsai dalam rangka perayaan Tahun Baru Imlek.

Pertemuan dua tradisi tersebut menciptakan suasana yang unik. Di satu sisi, Barongsai hadir dengan energi yang dinamis dan penuh semangat. Di sisi lain, Tari Enggang tampil dengan gerakan yang anggun dan tenang. Perpaduan ini menunjukkan bagaimana budaya yang berbeda dapat hadir berdampingan dan saling melengkapi dalam satu ruang yang sama.

Melalui Tari Enggang, kita dapat melihat bahwa kebudayaan Indonesia tidak hanya kaya, tetapi juga terbuka terhadap pertemuan berbagai tradisi. Dari hutan-hutan Kalimantan hingga panggung budaya di Jakarta, Tari Enggang terus menjadi simbol keindahan, kehormatan, dan kearifan lokal yang patut dilestarikan.