Konten dari Pengguna

36 Tahun Jadi Maskot, Kenapa Elang Bondol & Salak Condet Masih Tak Dikenal?

Febrino

Febrino

Founder at Algoritma Scientist

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Febrino tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit: ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
zoom-in-whitePerbesar
Credit: ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA

Coba tanya orang di jalan: apa maskot resmi DKI Jakarta? Kemungkinan besar jawabannya Monas atau Ondel-ondel. Padahal sejak 1989, status itu resmi disandang oleh Elang Bondol (Haliastur indus) dan Salak Condet (Salacca zalacca var. Condet) dua simbol flora-fauna yang ironisnya justru asing bagi banyak warga kotanya sendiri. Kesenjangan itulah yang diangkat dalam penelitian berjudul "Eco-Identity Activation Model: Transformasi Maskot Elang Bondol dan Salak Condet dari Artefak Administratif menjadi Identitas Emosional Warga Jakarta," karya dua pelajar SMA, Alindiya Putri Antoni dan Shelomita Febriani, untuk ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Keduanya merupakan tim riset binaan Algoritma Scientist, lembaga pembinaan riset remaja yang rutin mengawal pelajar Indonesia ke kompetisi ilmiah nasional.

Berawal dari Survei Iseng ke Teman Sekelas

Riset ini bermula dari pengamatan sederhana: dari survei eksploratif awal terhadap teman-teman sebaya di sekolah, sembilan dari sepuluh responden ternyata tidak tahu bahwa Elang Bondol dan Salak Condet adalah maskot resmi Jakarta. Sebagian besar justru menyebut Monas atau Ondel-ondel. Temuan awal itu lantas diperluas menjadi survei deskriptif terhadap 111 warga DKI Jakarta mayoritas pelajar SMA/SMK/MA berusia 14–18 tahun berdomisili di Jakarta Utara yang mengukur empat aspek: literasi ekologis, eksposur simbol, keterikatan emosional, dan identitas ekologis. Untuk memperdalam data, peneliti juga mewawancarai empat narasumber ahli lintas lembaga, mulai dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, praktisi konservasi, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara, hingga Taman Ismail Marzuki.

Dikenal Secara Administratif, Tapi Tak Dipahami

Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten dan agak kontradiktif. Skor literasi ekologis masyarakat terhadap kedua maskot hanya 46,1% dari skor maksimal, dan eksposur simbolnya di ruang publik maupun media bahkan lebih rendah lagi, 40,0%. Titik terlemah ada pada pemahaman makna filosofis maskot (39,0%) dan eksposur lewat jalur pendidikan formal (35,8%) skor terendah dari seluruh 21 butir kuesioner. Data terbuka memperkuat gambaran ini: 80,9% responden secara eksplisit menilai tingkat pengenalan masyarakat terhadap maskot masih rendah, dan 35,5% mengaku keliru mengasosiasikan Monas atau Ondel-ondel sebagai maskot resmi. Faktor penghambat yang paling banyak disebut adalah minimnya sosialisasi dan edukasi berkelanjutan dari pemerintah (47,3%), disusul dominasi ikon budaya populer yang lebih sering muncul dalam kehidupan sehari-hari (30,0%). Anehnya, rendahnya pengetahuan itu tidak berbanding lurus dengan rasa memiliki warga. Skor keterikatan emosional justru mencapai 65,0%, dan identitas ekologis sejauh mana maskot dianggap bagian dari jati diri kota mencapai 68,6%, keduanya berada di kategori sedang hingga tinggi. Butir "maskot sebagai bagian dari identitas kota" bahkan meraih skor tertinggi dari seluruh kuesioner (74,8%), sementara pemahaman ekologis yang mendasarinya tetap rendah. Menurut peneliti, pola ini bisa dijelaskan lewat konsep place attachment: keterikatan emosional terhadap sebuah simbol ternyata bisa tumbuh lebih dulu, lepas dari pemahaman kognitif yang mendalam semata karena status resminya sebagai representasi kota. Dalam bahasa lain, warga bangga pada maskotnya, tapi kebanggaan itu masih bersifat administratif-seremonial, belum ditopang pemahaman ekologis yang substantif. Salah satu temuan lapangan yang menarik: sejumlah responden generasi muda menilai desain visual kedua maskot terlalu formal, kaku, dan ketinggalan zaman dibanding karakter budaya populer global seperti anime atau vtuber yang lebih akrab bagi mereka sebuah kritik yang oleh peneliti dikaitkan dengan absennya narasi atau "lore" yang kuat pada kedua maskot selama ini.

Dari Model Konsep ke Aksi Nyata

Berbekal temuan tersebut, peneliti merumuskan Eco-Identity Activation Model, kerangka strategi berisi empat pilar: penguatan literasi ekologis lewat muatan lokal sekolah, optimalisasi eksposur multikanal di ruang publik dan media digital, penguatan narasi konservasi yang dikaitkan dengan habitat nyata kedua maskot, serta modernisasi visual dan cerita agar lebih relevan bagi generasi muda. Yang membedakan riset ini dari kajian sejenis, model tersebut tidak berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas. Peneliti turut memfasilitasi kompetisi film pendek bertema maskot Jakarta yang ditumpangkan pada ajang bakat siswa yang sudah berjalan di sekolah mereka. Dalam waktu sekitar tiga minggu, 15 tim mendaftar dan delapan karya berhasil dikumpulkan hingga tenggat, dengan dua kategori juara yang diberikan uang pembinaan. Akun media sosial proyek yang dibuat untuk kompetisi ini pun mulai menjaring pengikut sebagai bentuk eksposur digital awal, meski peneliti mengakui skala pilot project ini masih jauh dari rancangan ideal yang menyasar lintas sekolah se-DKI Jakarta.

Bukan Cuma Soal Tahu atau Tidak Tahu

Studi ini menegaskan bahwa persoalan minimnya pengenalan Elang Bondol dan Salak Condet bukan semata soal ketidaktahuan individu, melainkan kesenjangan sistemik antara kebijakan simbolik pemerintah dan proses transformasinya menjadi pengetahuan serta pengalaman hidup warga. Status hukum sebagai maskot resmi sudah ada sejak 36 tahun lalu, tetapi tanpa sosialisasi berkelanjutan, integrasi pendidikan yang konsisten, dan pembaruan visual yang relevan, legitimasi administratif itu berisiko tak pernah benar-benar "hidup" dalam kesadaran kolektif warganya. Peneliti merekomendasikan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperluas kampanye publik yang tidak sekadar menampilkan simbol visual, tetapi juga narasi edukatif tentang fungsi konservasi kedua maskot. Sekolah-sekolah juga didorong mengintegrasikan materi tersebut ke kurikulum muatan lokal, sementara komunitas kreatif diajak memanfaatkan modal keterikatan emosional warga yang sudah relatif tinggi untuk mendorong partisipasi pelestarian yang lebih nyata bukan sekadar simbol yang muncul musiman setiap peringatan ulang tahun kota.