Konten dari Pengguna

Bicara Dengan Etika: Kecil Dampaknya, Besar Maknanya

febri tria islami

febri tria islami

Saya merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari febri tria islami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang berbicara. Sumber: Febri Tria Islami
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang berbicara. Sumber: Febri Tria Islami

Di era digital saat ini, semua orang bisa berbicara. Tapi, tidak semua bisa berkomunikasi dengan etika. Kita sering kali terlalu fokus pada apa yang ingin disampaikan, tanpa memikirkan bagaimana menyampaikannya. Padahal, cara kita bicara bisa menentukan kualitas hubungan yang kita miliki dengan orang lain.

Etika dalam komunikasi interpersonal mengajarkan kita untuk jujur, empati, terbuka, dan menghormati keberagaman. Ketika kita berbicara dengan memperhatikan etika, kita tidak hanya menyampaikan pesan, tapi juga membangun rasa percaya, menciptakan kenyamanan, dan mencegah kesalahpahaman.

Sebaliknya, komunikasi yang abai etika dapat menimbulkan konflik. Contohnya, menyindir teman di depan umum, menyebarkan gosip, atau sekadar memotong pembicaraan tanpa permisi. Hal-hal kecil ini bisa berdampak besar, mulai dari rusaknya hubungan hingga menurunnya kualitas kerja sama dalam lingkungan sosial atau profesional.

Dampaknya?

Etika komunikasi yang baik akan memperkuat hubungan sosial, membangun lingkungan yang inklusif, dan mendorong terciptanya budaya saling menghormati. Baik di ruang kelas, kantor, media sosial, hingga dalam keluarga, komunikasi yang etis memperkuat jalinan antarindividu dan menciptakan suasana yang aman untuk saling berbagi.

Kesimpulan:

Berbicara itu mudah, tapi berkomunikasi dengan etika butuh kesadaran dan niat baik. Jika setiap orang mau mulai dari diri sendiri—mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menyampaikan pendapat tanpa menyakiti, dan menghargai perbedaan—maka bukan hanya hubungan pribadi yang lebih sehat, tapi juga masyarakat kita akan jadi lebih damai.

Karena pada akhirnya, komunikasi yang beretika bukan hanya soal kata, tapi tentang menghargai manusia lain.

Febri Tria Islami,Mahasiswa Ilmu Komunikasi,Universitas Pamulang(UNPAM).

Artikel ini merupakan tugas Mata Kuliah Etika Dan Filsafat Komunikasi ,Dosen pengampu Ibu Surti Wardani.