Konten dari Pengguna

FORMABI KIP-K UIN Jakarta Olah Sampah Menjadi Ecobric dan Sumur Biopori

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Silvia widia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

Sampah plastik sering kali jadi masalah yang sulit diatasi, apalagi di pedesaan. Namun, Forum Mahasiswa Bidikmisi KIP-K (FORMABI KIP-K) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta punya cara unik untuk mengubah masalah itu jadi solusi. Lewat program Bakti Sosial 2.0, mereka menghadirkan inovasi ecobric dan sumur biopori di Desa Bendungan, Jonggol, Kabupaten Bogor. Ecobric sendiri adalah botol plastik yang diisi penuh dengan sampah anorganik, seperti plastik bekas makanan, minuman, hingga kemasan sekali pakai. Setelah dipadatkan, botol ecobric bisa disusun menjadi tempat sampah. “Kita ngumpulin sampah dari desa, terus dipilah dan dipadatkan ke botol ukuran 1,5 liter. Kalau dipotongnya terlalu besar nanti longgar, jadi harus benar-benar padat biar botolnya kokoh. Hasilnya bisa dipakai jadi tempat sampah yang lebih kuat, bahkan nantinya bisa jadi bank sampah,” jelas Salsabilla Ainurrahma (20), selaku panitia penyelenggara, pada Kamis (14/08/2025). Salsa menambahkan, sosialisasi ke masyarakat sudah dilakukan. Harapannya, anak-anak dan warga bisa terbiasa menjaga kebersihan. “Kalau sudah ada ecobric, semoga ke depan nggak ada lagi sampah berserakan. Kita taruh juga di SD biar anak-anak ikut belajar memilah sampah,” ujarnya. Hal serupa diungkapkan Mu’anun Mubin (20), mahasiswa jurusan Dirasat Islamiyah. Menurutnya, ecobric bisa jadi cara sederhana tapi berdampak besar bagi warga. “Ecobric ini bisa membantu masyarakat mengumpulkan sampah plastik dan sekaligus menumbuhkan kesadaran soal kebersihan. Kalau warga terbiasa, dampaknya besar buat desa,” jelasnya.

Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi

Tak hanya ecobric, mahasiswa juga memperkenalkan sumur biopori. Berbeda dengan sumur biasa, biopori adalah lubang kecil di tanah sedalam sekitar satu meter yang berguna menyerap air hujan, mengurangi genangan, sekaligus tempat penguraian sampah organik. Hasil penguraiannya bisa jadi pupuk alami untuk menyuburkan tanah. Salah satu warga, Hani Oktaviani (28), menyambut baik ide ini. Ia mengaku baru mendengar langsung praktik biopori, meski sebelumnya pernah sekadar tahu dari cerita. “Bagus kalau ada biopori di sekolah. Anak-anak bisa belajar, warga juga ikut tahu. Apalagi di sini kalau musim hujan kadang air menggenang. Jadi kalau ada resapan air, manfaatnya besar banget,” ujanya, pada Kamis (14/08/2025). Meski begitu, Hani mengingatkan bahwa biopori butuh perawatan agar tetap berfungsi. Ia menilai, dengan adanya sumur biopori dan ecobric, sampah organik dan plastik di desa bisa lebih tertangani, tidak hanya dibakar atau dibuang ke kebun seperti biasanya. Program FORMABI KIP-K ini bukan hanya soal menjaga lingkungan, tapi juga tentang membangun kebiasaan baru untuk lebih bijak mengelola sampah dan lebih peduli terhadap bumi. Lewat ecobric dan biopori, mahasiswa berharap Desa Bendungan bisa jadi contoh desa hijau yang bersih dan sehat.