Konten dari Pengguna

AI Mengubah Akuntansi dan Bisnis: Manusia Tersingkir?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DINDA FEBRIANTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Bayangkan seorang staf akuntansi yang biasanya harus menghabiskan berjam-jam untuk memeriksa transaksi, mencocokkan bukti pembayaran, dan menyusun laporan keuangan. Kini, sebagian pekerjaan tersebut dapat dibantu oleh teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Di sisi lain, seorang pemilik usaha kecil yang sebelumnya kesulitan memahami pola penjualan juga bisa memanfaatkan AI untuk merangkum data, mencari produk yang paling diminati pelanggan, hingga menyusun ide promosi.

Hal-hal yang dahulu terasa rumit perlahan menjadi lebih mudah dilakukan dengan bantuan teknologi. AI bukan lagi sekadar sesuatu yang kita lihat dalam film fiksi ilmiah atau percakapan tentang masa depan. Teknologi ini mulai masuk ke aktivitas kerja sehari-hari, termasuk dalam dunia akuntansi dan bisnis.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul: jika semakin banyak pekerjaan dapat dilakukan oleh mesin, apakah manusia masih dibutuhkan?

Pertanyaan ini menjadi menarik, terutama bagi mahasiswa akuntansi, calon pekerja, karyawan, dan pelaku usaha yang sedang mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja.

Dari Menghitung Transaksi hingga Menganalisis Bisnis

Selama ini, akuntansi sering kali dibayangkan sebagai pekerjaan yang berkaitan dengan angka, tabel, laporan keuangan, dan perhitungan yang harus dilakukan secara teliti. Tidak sedikit mahasiswa yang menghabiskan waktu untuk memahami debit dan kredit, mencatat transaksi, serta memastikan setiap angka sesuai dengan bukti pendukungnya.

Pekerjaan tersebut memang membutuhkan ketelitian. Akan tetapi, sebagian prosesnya bersifat berulang dan mengikuti aturan tertentu. Di sinilah AI dan otomatisasi mulai memberikan manfaat.

Dalam praktiknya, teknologi dapat membantu mengelompokkan transaksi, membaca dokumen, menemukan pola dalam data, dan menandai kemungkinan adanya ketidaksesuaian. Akuntan kemudian dapat memeriksa hasil tersebut, memastikan kebenarannya, dan menentukan tindakan yang tepat.

International Federation of Accountants (IFAC), organisasi profesi akuntansi internasional, menjelaskan bahwa AI dan otomatisasi membuka peluang bagi akuntan untuk mengurangi pekerjaan rutin dan lebih berfokus pada analisis, pertimbangan profesional, serta pemberian rekomendasi kepada bisnis.

Artinya, perubahan ini bukan hanya soal membuat pekerjaan selesai lebih cepat. AI juga berpotensi mengubah cara akuntan menggunakan waktu dan keahliannya. Jika sebelumnya sebagian besar waktu tersita untuk mengolah data, ada peluang lebih besar untuk memahami arti angka-angka tersebut bagi kondisi perusahaan.

Bukan Hanya Akuntansi, Bisnis Juga Ikut Berubah

Coba bayangkan sebuah usaha kuliner kecil yang setiap hari menerima pesanan melalui aplikasi pesan antar dan media sosial. Pemiliknya harus memikirkan banyak hal sekaligus: mencatat pemasukan, menghitung biaya bahan baku, menentukan harga jual, memantau stok, dan mencari cara agar pelanggan kembali membeli.

Dengan bantuan perangkat digital yang dilengkapi AI, sebagian aktivitas tersebut dapat dibuat lebih efisien. Pemilik usaha dapat menggunakan AI untuk membantu merangkum data penjualan, menyusun konsep promosi, membuat draf balasan pelanggan, atau memperkirakan kebutuhan stok berdasarkan data yang tersedia.

Misalnya, data penjualan menunjukkan bahwa menu ayam barbeque lebih banyak dipesan pada akhir pekan. Informasi ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menyiapkan persediaan bahan baku atau merancang promosi pada waktu yang tepat.

Meski begitu, AI tidak otomatis mengetahui kondisi bisnis secara lengkap. Hasil analisisnya tetap bergantung pada kualitas data, informasi yang diberikan, dan kemampuan manusia dalam menilai apakah rekomendasinya masuk akal.

Pemilik usaha juga tidak seharusnya mengambil keputusan hanya berdasarkan saran AI. Perubahan harga bahan baku, selera pelanggan, kondisi pesaing, dan situasi ekonomi tetap perlu dipertimbangkan.

Dengan kata lain, AI dapat membantu mengolah informasi, tetapi keputusan bisnis yang baik tetap membutuhkan pemahaman terhadap kondisi nyata di lapangan.

Apakah Pekerjaan Akuntan Akan Tergantikan?

Kekhawatiran mengenai pekerjaan yang tergantikan teknologi bukanlah sesuatu yang muncul tanpa alasan. Seiring berkembangnya kemampuan AI, beberapa tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia memang berpotensi mengalami otomatisasi.

World Economic Forum (WEF) dalam The Future of Jobs Report 2025 mencatat bahwa pemberi kerja memperkirakan sejumlah pekerjaan administratif dan pekerjaan yang berkaitan dengan pencatatan akan mengalami tekanan akibat perkembangan teknologi. Akuntan dan auditor juga termasuk dalam kelompok pekerjaan yang diperkirakan menghadapi penurunan kebutuhan tenaga kerja dalam survei tersebut untuk periode 2025–2030.

Namun, temuan tersebut merupakan proyeksi berdasarkan survei pemberi kerja, bukan kepastian bahwa semua akuntan akan kehilangan pekerjaan.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa satu profesi terdiri atas banyak jenis tugas. AI mungkin dapat membantu mengolah transaksi rutin, tetapi pekerjaan akuntan tidak berhenti pada pencatatan angka.

Akuntan juga perlu menilai kewajaran laporan, memahami aturan yang berlaku, menjaga integritas informasi keuangan, mengevaluasi risiko, dan menjelaskan kondisi keuangan kepada pihak yang membutuhkan. Tugas-tugas tersebut memerlukan pemahaman konteks, pertimbangan profesional, dan tanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya apakah AI akan menggantikan akuntan, melainkan bagaimana pekerjaan akuntan akan berubah ketika AI semakin banyak digunakan.

Sebagian tugas mungkin berkurang, sementara kebutuhan terhadap kemampuan analisis, pengawasan teknologi, komunikasi, dan pengambilan keputusan dapat menjadi semakin penting.

Ada Kemudahan, tetapi Risiko Tetap Harus Diperhatikan

Meskipun menawarkan berbagai manfaat, penggunaan AI bukan tanpa masalah.

Bayangkan sebuah perusahaan meminta AI menganalisis laporan keuangan, lalu menerima hasil yang terlihat rapi dan meyakinkan. Jika hasil tersebut ternyata didasarkan pada data yang keliru atau asumsi yang tidak tepat, keputusan yang diambil perusahaan juga berpotensi salah.

AI dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, melewatkan konteks penting, atau memberikan kesimpulan yang terdengar masuk akal tetapi tidak didukung bukti yang memadai. Dalam pekerjaan akuntansi, kesalahan semacam ini dapat berdampak pada laporan keuangan, perencanaan anggaran, dan keputusan bisnis.

Ada pula persoalan kerahasiaan. Data gaji karyawan, informasi pelanggan, transaksi perusahaan, dan dokumen keuangan bukanlah informasi yang boleh dimasukkan begitu saja ke sembarang aplikasi AI.

Karena itu, perusahaan perlu memiliki aturan yang jelas mengenai penggunaan AI, pemilihan aplikasi, akses terhadap data, dan pemeriksaan hasil kerja. Informasi yang dihasilkan AI harus diverifikasi sebelum digunakan untuk mengambil keputusan penting.

IFAC juga menyoroti pentingnya tata kelola, pengendalian internal, perlindungan data, serta pengawasan manusia dalam penerapan teknologi AI di bidang keuangan.

Pada akhirnya, teknologi yang canggih tidak akan banyak membantu jika digunakan tanpa pemahaman dan pengawasan yang memadai.

Sumber Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Mahasiswa dan Pekerja Perlu Mulai Beradaptasi

Perubahan ini juga menjadi pengingat bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Menguasai teori akuntansi, manajemen, dan keuangan tetap penting, tetapi kemampuan menggunakan teknologi juga perlu dikembangkan.

Mahasiswa akuntansi, misalnya, dapat mulai mempelajari perangkat lunak akuntansi, pengolahan data menggunakan spreadsheet, serta penggunaan AI untuk membantu memahami laporan keuangan. Namun, mereka juga harus mampu memeriksa perhitungan, mencari sumber yang dapat dipercaya, dan menjelaskan alasan di balik suatu kesimpulan.

Hal yang sama berlaku bagi mahasiswa bisnis dan manajemen. AI dapat membantu membuat analisis awal, menyusun ide pemasaran, atau merangkum data pelanggan. Akan tetapi, kemampuan memahami kebutuhan konsumen, berkomunikasi, bernegosiasi, dan menentukan strategi tetap perlu diasah.

OECD dalam kajiannya mengenai AI dan perubahan keterampilan tenaga kerja menjelaskan bahwa perkembangan AI turut mengubah jenis tugas dan keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja. Artinya, beradaptasi bukan hanya berarti belajar menggunakan aplikasi baru, tetapi juga memahami bagaimana pekerjaan dan kebutuhan organisasi ikut berubah.

Kita tidak harus menjadi ahli teknologi untuk mulai beradaptasi. Langkah sederhana seperti mencoba alat AI untuk tugas berisiko rendah, memeriksa kembali hasilnya, dan memahami keterbatasannya dapat menjadi awal yang baik.

Yang terpenting, jangan sampai kemudahan teknologi membuat kita berhenti berpikir kritis.

Bukan Sekadar Siapa yang Digantikan, tetapi Siapa yang Siap Berubah

Kehadiran AI dalam akuntansi dan bisnis memang membawa perubahan besar. Pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat menjadi lebih efisien, data dapat dianalisis dengan cara baru, dan pelaku usaha memiliki lebih banyak pilihan untuk mengembangkan bisnisnya.

Namun, perubahan tersebut juga membawa tantangan. Pekerja perlu meningkatkan keterampilan, perusahaan harus menjaga keamanan data, dan setiap pengguna perlu memahami bahwa hasil AI tidak selalu benar.

AI sebaiknya tidak dipandang sebagai teknologi yang pasti akan mengambil alih seluruh pekerjaan manusia. Sebaliknya, AI perlu dipahami sebagai alat yang dapat membantu manusia bekerja dengan cara berbeda, selama digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.

Bagi mahasiswa, sekarang adalah waktu yang baik untuk mulai belajar. Bagi pekerja, ini kesempatan untuk meningkatkan kemampuan. Sementara bagi pelaku usaha, AI dapat menjadi alat pendukung untuk mengambil keputusan yang lebih terarah.

Pada akhirnya, masa depan akuntansi dan bisnis bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan. Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan manusia untuk berpikir kritis, menjaga integritas, memahami risiko, dan menggunakan teknologi secara bijak.