Bertahun-tahun Bekerja, tetapi Jalan Karier Tak ke Mana-Mana
Tulisan dari DINDA FEBRIANTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah lama bekerja bukan berarti seseorang berhenti ingin berkembang. Ketika promosi tak kunjung datang, rotasi tidak pernah diberikan, dan mutasi hanya menjadi wacana, semangat kerja perlahan bisa memudar.
Setiap pagi, ia tetap bangun pada jam yang sama, bersiap, lalu berangkat bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Ia sudah hafal rutinitasnya, memahami tugas yang harus diselesaikan, bahkan bisa memperkirakan masalah apa saja yang mungkin muncul sebelum hari kerja berakhir.
Bagi orang lain, ia mungkin terlihat sebagai karyawan yang berpengalaman dan bisa diandalkan. Ia sudah cukup lama berada di tempat itu. Pekerjaan yang dahulu terasa sulit kini menjadi sesuatu yang biasa dilakukan.
Namun, ada satu hal yang perlahan berubah: semangatnya.
Dulu, ia datang bekerja dengan keinginan untuk belajar lebih banyak. Ia berharap suatu hari bisa mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar, menduduki posisi yang lebih baik, atau setidaknya merasakan pengalaman baru di lingkungan kerja yang sama.
Sayangnya, waktu terus berjalan, sedangkan kariernya terasa berada di tempat yang sama.
Ketika Rutinitas Mulai Terasa Melelahkan
Awalnya, ia tidak terlalu mempermasalahkan keadaan tersebut. Baginya, bekerja dengan baik adalah kewajiban. Selama tugas selesai dan tanggung jawab terpenuhi, ia merasa tidak ada alasan untuk mengeluh.
Ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan benar. Ia juga mencoba memahami bahwa promosi jabatan tidak selalu bisa diberikan kepada semua orang dalam waktu bersamaan.
Namun, tahun demi tahun berlalu. Tidak ada perubahan posisi, tidak ada kesempatan rotasi ke bagian lain, dan tidak ada mutasi yang memberinya pengalaman baru.
Pekerjaan yang sebelumnya menantang mulai terasa monoton. Ia melakukan hal yang sama, menghadapi situasi yang hampir serupa, dan menjalani pola kerja yang tidak banyak berubah.
Di titik tertentu, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: Kalau sudah bekerja selama ini, sebenarnya saya sedang berkembang atau hanya mengulang pekerjaan yang sama setiap hari?
Pertanyaan itu bukan semata-mata tentang jabatan atau penghasilan. Ada keinginan untuk merasa bahwa waktu, tenaga, dan pengalaman yang telah diberikan selama bertahun-tahun membawa dirinya menuju sesuatu yang lebih baik.
Ketika harapan tersebut tidak kunjung menemukan jawaban, bekerja perlahan terasa seperti kewajiban yang harus diselesaikan, bukan lagi kesempatan untuk berkembang.
Tidak Ada Promosi, Rotasi, atau Mutasi: Apa yang Berubah?
Dalam dunia kerja, promosi jabatan sering dipandang sebagai bentuk kemajuan karier. Sementara itu, rotasi dan mutasi dapat menjadi kesempatan bagi karyawan untuk mempelajari pekerjaan berbeda, memperluas kemampuan, dan mengenal lingkungan kerja yang baru.
Ketiganya memang tidak selalu harus diberikan kepada setiap karyawan. Perusahaan memiliki kebutuhan organisasi, struktur jabatan, dan pertimbangan kinerja yang perlu diperhatikan.
Namun, persoalan muncul ketika seorang karyawan tidak melihat adanya arah pengembangan karier yang jelas. Ia tidak tahu keterampilan apa yang perlu ditingkatkan, apa yang harus dicapai agar memperoleh kesempatan baru, atau kapan kontribusinya akan dievaluasi untuk perkembangan karier.
Lama-kelamaan, ketidakpastian itu bisa mengubah cara seseorang memandang pekerjaannya.
Ia mungkin tetap datang tepat waktu dan menyelesaikan tugas sesuai prosedur. Akan tetapi, inisiatif untuk melakukan lebih banyak hal bisa berkurang. Keinginan untuk memberikan ide baru juga tidak lagi sebesar dulu.
Bukan berarti ia sengaja ingin bekerja buruk. Bisa jadi, ia mulai merasa bahwa usaha tambahan tidak akan membawa perubahan berarti bagi dirinya.
Produktivitas Menurun Bukan Selalu karena Malas
Ketika produktivitas seorang karyawan mulai menurun, penilaian yang paling mudah muncul adalah ia sudah kehilangan motivasi atau tidak lagi memiliki etos kerja yang baik.
Padahal, persoalannya belum tentu sesederhana itu.
Dalam sebuah ulasan penelitian yang diterbitkan di "Journal of Vocational Behavior" pada 2019, Wei-Ning Yang, Karen Niven, dan Sheena Johnson meninjau 72 penelitian empiris mengenai "career plateau", yaitu kondisi ketika perkembangan karier seseorang terasa terhenti. Ulasan tersebut menemukan bahwa kondisi ini berkaitan dengan sejumlah hasil kerja yang kurang menguntungkan, termasuk kepuasan kerja dan kinerja yang lebih rendah serta meningkatnya keinginan untuk meninggalkan organisasi. Hubungan tersebut juga dipengaruhi oleh dukungan yang dirasakan karyawan dari tempat kerjanya.
Temuan itu tidak berarti setiap karyawan yang lama berada di posisi sama pasti mengalami penurunan produktivitas. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa stagnasi karier layak diperhatikan sebagai salah satu faktor yang mungkin memengaruhi pengalaman dan perilaku seseorang di tempat kerja.
Dalam kisah ini, perubahan semangat tidak terjadi dalam semalam. Ia tidak tiba-tiba berhenti peduli terhadap pekerjaan. Perubahan itu berlangsung perlahan, seiring dengan munculnya perasaan bahwa tidak ada lagi hal baru yang bisa diharapkan dari rutinitas yang dijalaninya.
Ia masih bekerja, tetapi dorongan untuk melangkah lebih jauh semakin kecil.
Karyawan Juga Membutuhkan Ruang untuk Bertumbuh
Tidak semua karyawan ingin menjadi manajer atau mengejar jabatan setinggi mungkin. Sebagian orang mungkin lebih menyukai pekerjaan teknis, kestabilan, atau keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Karena itu, pengembangan karier seharusnya tidak selalu diartikan sebagai promosi.
Karyawan juga dapat berkembang melalui pelatihan, penugasan baru, rotasi yang sesuai, kesempatan terlibat dalam proyek berbeda, atau tanggung jawab yang lebih menantang. Hal-hal tersebut dapat memberi pengalaman baru tanpa harus selalu mengubah jabatan seseorang.
Gallup, dalam artikel mengenai pengembangan karyawan yang diperbarui pada Januari 2024, menekankan bahwa organisasi berkinerja tinggi perlu membangun budaya yang mendukung pertumbuhan individu. Pengembangan tidak harus selalu berbentuk kenaikan jabatan, tetapi juga dapat dilakukan dengan membantu karyawan menggunakan kekuatan dan kemampuannya dalam pekerjaan.
Bagi karyawan yang sudah bertahun-tahun menjalani pekerjaan serupa, kesempatan untuk mencoba hal baru bisa menjadi bentuk penghargaan yang berarti. Bukan hanya karena ia memperoleh pengalaman tambahan, melainkan karena ia merasa masih dipercaya untuk berkembang.
Sebaliknya, ketika tidak ada ruang untuk belajar, tantangan, maupun pembicaraan yang jelas mengenai masa depan karier, pengalaman panjang bisa berubah menjadi rutinitas tanpa arah.
Perusahaan Perlu Mendengar Sebelum Kehilangan Semangat Karyawannya
Ada satu hal yang sering terlupakan: karyawan yang terlihat diam belum tentu benar-benar merasa baik-baik saja.
Sebagian mungkin tidak menyampaikan kekecewaan karena takut dianggap tidak bersyukur. Ada pula yang memilih tetap bertahan karena membutuhkan penghasilan, memiliki tanggungan, atau belum menemukan pekerjaan lain yang lebih sesuai.
Dari luar, semuanya terlihat normal. Pekerjaan tetap berjalan dan target masih diusahakan. Namun, perusahaan mungkin tidak menyadari bahwa keterikatan emosional karyawan terhadap pekerjaannya sudah mulai berkurang.
Di sinilah komunikasi antara atasan dan karyawan menjadi penting. Perusahaan perlu membuka ruang untuk membicarakan aspirasi karier, memberikan umpan balik yang jelas, serta menjelaskan kriteria promosi maupun kesempatan pengembangan lainnya.
Jika promosi belum memungkinkan, perusahaan tetap dapat mengevaluasi peluang rotasi, pelatihan, pendampingan, atau penugasan baru yang relevan. Jika memang belum ada kesempatan, penjelasan yang jujur dan rencana pengembangan yang realistis akan lebih berarti daripada membiarkan karyawan terus menunggu tanpa kepastian.
Karyawan pun perlu memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan mengevaluasi tujuan kariernya sendiri. Namun, tanggung jawab pengembangan tidak seharusnya dibebankan kepada individu semata. Lingkungan kerja juga memiliki peran dalam membuka kesempatan yang adil dan transparan.
Bertahan Bekerja, tetapi Mulai Mempertanyakan Masa Depan
Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang seorang karyawan yang menuntut promosi setiap tahun. Ini tentang seseorang yang sudah memberikan waktu dan tenaganya selama bertahun-tahun, tetapi mulai mempertanyakan apakah tempat kerjanya masih menyediakan ruang untuk bertumbuh.
Ia tidak selalu membutuhkan jabatan yang lebih tinggi. Mungkin ia hanya ingin mendapatkan kesempatan mencoba pekerjaan berbeda, mempelajari keterampilan baru, atau mendengar penjelasan yang masuk akal tentang arah kariernya.
Sebab, ada perbedaan antara bertahan karena masih memiliki tujuan dan bertahan karena belum memiliki pilihan lain.
Bagi perusahaan, karyawan yang telah lama bekerja menyimpan pengalaman, pemahaman terhadap proses, dan pengetahuan yang tidak selalu mudah digantikan. Mengabaikan kebutuhan pengembangan mereka berisiko membuat potensi tersebut tidak digunakan secara maksimal.
Sementara bagi karyawan, menurunnya semangat dapat menjadi tanda untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi keadaan: apakah yang dibutuhkan adalah tantangan baru, komunikasi yang lebih terbuka dengan atasan, peningkatan keterampilan, atau justru arah karier yang berbeda?
Pengalaman bertahun-tahun semestinya menjadi modal untuk berkembang, bukan alasan bagi seseorang untuk terus terjebak dalam rutinitas yang sama.
Karena pada akhirnya, bekerja bukan hanya tentang berapa lama seseorang bertahan di sebuah perusahaan, tetapi juga tentang apakah selama waktu itu ia masih memiliki kesempatan untuk belajar, berkontribusi, dan melangkah maju.

