Meniti Jati Diri di Tengah Kehidupan yang Berliku

Feiza Ane
Undergraduate Journalist Student at Jakarta State Polytechnic
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 6:57 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Feiza Ane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pada saat ketika saya merasa hidup ini begitu sederhana. Pagi hari saya bangun, pergi ke sekolah, bermain bersama teman-teman, dan pulang ke rumah dengan tugas yang sudah menunggu. Kala itu, dunia terasa penuh warna, setiap hari membawa petualangan baru. Namun, seiring berjalannya waktu, keajaiban itu perlahan memudar, digantikan oleh realita yang keras dan kadang membingungkan.
ADVERTISEMENT
Kehidupan atmosfer perkuliahan sangat lah beda dengan lingkungan sekolah. Dimana saat ini saya harus bisa memilih dan membedakan mana yang baik dan buruk untuk diri saya. Khawatir akan salah pilih dengan keputusan yang saya buat, hingga akhirnya kecewa dengan hasil yang di dapat oleh diri sendiri. Selalu terbenak dipikiran saya, ingin menjadi apa nantinya, mungkin saya belum siap dengan apa yang nantinya akan terjadi. Tetapi waktu terus berjalan yang menjadikan saya memaksakan diri untuk terus berusaha mencari jati diri.
photo by https://img.freepik.com/free-photo/modern-beautiful-asian-woman-with-digital-tablet-pencil-taking-notes-writing-her-gadget-doing_1258-169314.jpg?t=st=1718033851~exp=1718037451~hmac=e81fbdb787b0a6e7523f138e3df57b81069796a2d61327fde35ec4f17e1ddfff&w=996
Sekarang, di usia pertengahan dua puluhan, saya merasakan bahwa menemukan jati diri adalah sebuah perjalanan yang jauh lebih rumit daripada yang pernah saya bayangkan. Dulu, saya pikir saya tahu siapa saya dan apa yang saya inginkan. Tetapi semakin dewasa, semakin saya menyadari bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis. Ia berubah, tumbuh, dan kadang bahkan lenyap, membuat saya harus kembali mencari dan merangkainya dari awal.
ADVERTISEMENT
Saya ingat waktu kecil saya ingin menjadi perawat. Cita-cita yang sederhana dan mulia, hasil dari kagum melihat tenaga kesehatan yang menyelamatkan banyak nyawa di televisi. Namun, seiring bertambahnya usia, saya mulai menyadari bahwa keinginan itu lebih didorong oleh kekaguman daripada pemahaman yang mendalam. Saat masuk SMA, saya menyadari bahwa dunia medis tidak sesuai dengan kepribadian saya yang lebih cenderung ke seni dan kreativitas.
Masuk ke bangku kuliah, saya memutuskan untuk belajar menjadi sorang jurnalis. Dunia baru ini begitu memikat, memungkinkan saya mengekspresikan diri melalui karya jurnalis seperti menjadi penulis. Tetapi meski demikian, keraguan tetap ada. Apakah ini benar-benar yang saya inginkan? Apakah saya akan bahagia dengan ini? Di tengah hiruk-pikuk kuliah dan tugas yang tiada henti, pertanyaan-pertanyaan itu terus membayang di pikiran saya.
ADVERTISEMENT
Pada saat itu, saya mulai sadar bahwa proses menemukan jati diri bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan dengan cepat. Saya melihat teman-teman yang seolah sudah menemukan jalannya masing-masing. Ada yang menjadi pengusaha sukses, ada yang melanjutkan studi ke luar negeri, dan ada pula yang menikah dan membangun keluarga. Semua tampak begitu yakin dengan pilihan mereka, sementara saya masih merasa tersesat.
Saya mencoba banyak hal untuk menemukan jawaban. Bergabung dengan organisasi kampus, bekerja paruh waktu di kedai kopi, hingga mengikuti berbagai workshop dan pelatihan. Namun, semakin banyak saya mencoba, semakin besar pula kebingungan yang saya rasakan. Dunia ini begitu luas dengan jutaan pilihan, dan memilih satu jalan berarti meninggalkan yang lain.
Ada satu momen yang sangat masih teringat di benak saya. Saat itu, sedang peraan wisuda kelulusan SMA, di pinggir lapangan sekolah, seorang guru yang menasehati saya sebelum keluar dari gedung tersebut. Ia berkata, "Menemukan jati diri itu seperti meniti sebuah jalan setapak yang berliku. Terkadang, kita harus melewati jalan yang salah untuk tahu mana yang benar. Setiap langkah, baik yang penuh rintangan maupun yang mudah, akan membawa kita lebih dekat pada diri kita yang sejati."
ADVERTISEMENT
Kata-katanya itu sangat mengena. Saya menyadari bahwa mungkin tidak apa-apa jika saya belum sepenuhnya menemukan siapa diri saya. Perjalanan ini adalah bagian dari proses, dan setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, adalah bagian penting dari pencarian itu.
Saya pun mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Saya berhenti terlalu keras pada diri sendiri dan mulai menikmati setiap momen yang ada. Saya belajar menerima bahwa tidak apa-apa untuk merasa tersesat, karena dari kebingungan itu, kita akan menemukan arah yang baru. Setiap langkah yang saya ambil, setiap keputusan yang saya buat, adalah bagian dari perjalanan saya untuk menemukan jati diri.
Hari ini, saya masih dalam perjalanan itu. Saya belum sepenuhnya menemukan siapa diri saya atau apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Namun, saya belajar untuk menikmati prosesnya. Saya belajar bahwa jati diri bukanlah sesuatu yang harus ditemukan dengan segera, melainkan sesuatu yang terus berkembang seiring berjalannya waktu. Dan dalam perjalanan ini, saya menemukan banyak hal tentang diri saya yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Dalam setiap langkah, saya berusaha lebih mengenal diri sendiri. Saya belajar dari setiap kesalahan dan merayakan setiap keberhasilan. Saya memahami bahwa jati diri bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan yang akan terus berlangsung sepanjang hidup.
Jadi, jika Anda merasa tersesat atau bingung dalam mencari jati diri, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Kita semua berada dalam perjalanan yang sama, meniti jalan setapak yang berliku, mencari dan menemukan siapa diri kita sebenarnya. Dan dalam setiap langkah itu, kita akan selalu menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang membuat kita lebih dekat pada diri kita yang sejati.