Konflik Iran-Israel-Amerika: Permusuhan yang Saling Menguntungkan?

International Relations graduate from Diponegoro University, Passionate about navigating the world through the words
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Feizal Reza Pahlevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jumat, 13 Juni 2025, nyaris tercatat sebagai hari kelam dalam sejarah modern. Sebuah eskalasi konflik antara dua kekuatan strategis di Timur Tengah, Iran dan Israel, hampir menyeret dunia ke dalam Perang Dunia III. Skenario horor ini, dengan potensi kerugian masif bagi umat manusia di abad ke-21, dimulai dari serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran yang merenggut nyawa sejumlah ilmuwan.
Tak butuh waktu lama, rezim Ayatollah Ali Khamenei merespons dengan melancarkan serangan balasan ke Tel Aviv, menargetkan fasilitas serupa. Respons ini menegaskan posisi Iran sebagai kekuatan regional yang tidak bisa diremehkan. Sebagai pewaris peradaban Persia yang maju, Iran berhasil mengirimkan peringatan keras kepada Israel, memaksa mereka mencari perlindungan di bawah payung Amerika Serikat. Intervensi AS, dengan meluncurkan rudal ke fasilitas nuklir Iran, semakin memperburuk situasi.
Iran, dengan keberanian yang mencerminkan sejarah panjang bangsanya, membalas serangan tersebut dengan mengirimkan rudal ke Al Udeid, pangkalan militer AS di Qatar. Realitas ini akhirnya memaksa Amerika Serikat untuk mengevaluasi ulang posisinya. Konflik Iran-Israel yang berkepanjangan berisiko merugikan hegemoni AS di Timur Tengah, terutama mengingat daya tawar Iran yang signifikan melalui kontrol atas Selat Hormuz. Selat ini vital bagi perekonomian global, yang sebelumnya sudah goyah akibat instabilitas perang Ukraina-Rusia dan perang dagang AS-Tiongkok.
Sebagai warga dunia, gencatan senjata yang akhirnya tercapai antara Israel dan Iran pada 24 Juni 2025 membawa angin segar. Setidaknya, tekanan ekonomi tidak semakin memburuk, dan potensi kerugian material maupun imaterial dapat diminimalisir.
Tesis Permusuhan yang Saling Menguntungkan
Peristiwa hipotetis pada Juni 2025 ini, sesungguhnya merefleksikan dinamika kompleks yang telah lama menjadi perhatian para analis geopolitik. Premis utamanya adalah bahwa permusuhan Iran terhadap Israel dan Amerika Serikat merupakan sebuah status quo yang secara strategis dipelihara karena saling menguntungkan ketiga pihak. Analisis ini sejalan dengan pandangan Trita Parsi dalam bukunya, Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States (2007). Meskipun ditulis hampir dua dekade lalu, tesis Parsi, seorang akademisi keturunan Iran-Swedia, tampak masih relevan hingga kini.
Bagi Israel, isu Iran berfungsi sebagai "kartu pass" untuk mengamankan dukungan tak terbatas dari Washington, baik dalam bentuk pasokan persenjataan canggih maupun bantuan finansial. Hasilnya, Israel menjadi kekuatan militer dan teknologi terdepan di kawasan tersebut. Sementara itu, Amerika Serikat seringkali dihadapkan pada dilema. Dukungan penuhnya terhadap Israel terkadang mempersulit upaya dialog dengan Iran, dan sebaliknya. Namun, memelihara ketegangan pada level tertentu juga dapat dilihat sebagai strategi untuk mempertahankan pengaruh dan kehadiran militernya di kawasan yang kaya sumber daya ini.
Di sisi lain, bagi Iran, permusuhan dengan Israel dan Amerika Serikat juga dapat berfungsi sebagai instrumen legitimasi rezim di mata publik domestik, khususnya di kalangan konservatif dan loyalis. Narasi "perlawanan" ini membantu pemerintah memobilisasi dukungan rakyat dan mengalihkan perhatian dari isu-isu internal yang mendesak.
Belajar dari Skenario 2025?
Gencatan senjata pada 24 Juni 2025 memang memberikan jeda, namun dinamika hubungan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat belumlah usai. Seperti yang diutarakan Trita Parsi, ketiga aktor ini seolah terjebak dalam lingkaran mempertahankan status quo dengan bermusuhan, namun secara pragmatis saling membutuhkan. Konflik semacam ini mengingatkan kita bahwa di balik retorika politik dan rudal, terdapat dampak nyata pada harga minyak yang membebani masyarakat global, serta harapan keluarga di Teheran maupun Tel Aviv yang mendambakan kehidupan yang tenang.
Indonesia, dengan tradisi diplomasi bebas aktifnya, memiliki potensi untuk menjadi salah satu suara yang mendorong perdamaian berkelanjutan. Pertanyaannya, apakah dunia akan benar-benar belajar dari peristiwa hipotetis Juni 2025, ataukah kita hanya menanti eskalasi berikutnya?
Artikel ini ditulis oleh Feizal Reza Pahlevi, seorang Sarjana Ilmu Hubungan Internasional dari FISIP UNDIP. Sebagai tambahan, artikel ini ditulis oleh bantuan Akal Imitasi yang sudah disesuaikan dengan gaya bahasa yang manusiawi
