KKN UNS 259: Kenalkan Inovasi Ubah Sampah jadi Bahan Bakar Melalui PLASTAR

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Felda Athaya Nasywa Adila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Temanggung (16/07/2026) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 259 memperkenalkan inovasi PLASTAR atau Pirolisis Plastik Menjadi Bahan Bakar kepada masyarakat Desa Ngadirejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Sosialisasi yang berlangsung di Aula Desa Ngadirejo pada Rabu (16/7/2026) mendapatkan antusiasme dari masyarakat dengan kehadiran 39 peserta. Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik diperkenalkan sebagai bahan yang dapat diolah menjadi cairan yang berpotensi sebagai bahan bakar alternatif.
Selama 45 hari menjalankan kegiatan KKN di Desa Ngadirejo, mahasiswa KKN UNS Kelompok 259 melaksanakan berbagai program kerja yang disusun dengan mempertimbangkan kondisi, kebutuhan, dan potensi masyarakat setempat. Permasalahan sampah plastik masih menjadi isu lingkungan yang butuh perhatian khusus di Desa Ngadirejo. Hal ini karena sifat sampah yang sulit terurai secara alami dan dampak serius dari penumpukan sampah plastik pada aspek lingkungan maupun kesehatan.
Apabila menguraikan sampah plastik dengan cara dibakar, maka akan menyebabkan permasalahan kesehatan yang serius, seperti masalah pernapasan, iritasi mata ataupun permasalahan kulit. Tetapi apabila sampah plastik tersebut dibiarkan maka akan berdampak pada aspek lingkungan karena dapat merusak ekosistem dan mencemari lingkungan. Meskipun dampak sampah plastik cukup besar, kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan lagi. Kondisi yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah masyarakat masih sering membuang sampah sembarangan, membakar sampah di tempat terbuka, dan kurangnya pemilahan sampah yang dilakukan.
Berakar dari permasalahan tersebut, Kelompok 259 KKN UNS memperkenalkan inovasi PLASTAR. PLASTAR merupakan salah satu program kerja unggulan KKN UNS Kelompok 259 dengan menggunakan teknologi tepat guna untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Inovasi ini sesuai dengan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals), terkhusus pada poin ke-7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau. Tujuannya tidak hanya untuk mengurangi volume sampah plastik, tetapi juga untuk memperkenalkan bentuk pengolahan limbah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Sosialisasi PLASTAR dilakukan dengan memberikan penjelasan tentang konsep dasar pirolisis, jenis sampah yang dapat digunakan, tahap pengolahan, dan diakhiri dengan praktik langsung menggunakan alat sederhana yang sudah dibuat sebelumnya. Pada dasarnya, pirolisis sendiri memanfaatkan sampah plastik yang sudah dipilah, kemudian dimasukkan ke dalam reaktor kedap udara untuk dipanaskan dalam suhu tinggi. Proses pemanasan ini akan membuat plastik menjadi terurai dan menghasilkan uap. Uap ini kemudian dialirkan melalui jalur khusus menuju bagian kondensasi untuk didinginkan hingga berubah menjadi cairan.
Sebagai bentuk teknologi tepat guna, sosialisasi PLASTAR dirancang secara sederhana supaya lebih mudah dipahami dan memiliki peluang untuk dikembangkan oleh masyarakat sekitar Desa Ngadirejo. Antusiasme peserta terlihat pada saat sesi diskusi. Pertanyaan seperti bahan yang digunakan, proses pendinginan, hasil pengolahan, hingga kemungkinan penerapan alat apabila digunakan secara luas di Desa Ngadirejo ditanyakan oleh sejumlah warga desa.
Pertanyaan pertama datang dari Anton, Sekertaris Desa Ngadirejo, yang menyoroti bahan baku yang digunakan dan mekanisme kerja alat pirolisis secara lebih lanjut. “Bahan apa yang dapat digunakan? Kemudian fungsi air pada alat tersebut dan jenis air yang digunakan apa?” ungkap nya pada saat sesi diskusi.
Kelompok KKN UNS 259 memberikan jawaban bahwa air pada alat tersebut berfungsi sebagai media pendingin pada bagian kondensor. Selain itu, proses pirolisis juga membutuhkan waktu yang relatif panjang dengan bahan baku plastik dalam jumlah tertentu untuk menghasilkan cairan dalam jumlah yang diinginkan. Salah satu jenis plastik yang dapat digunakan adalah plastik berbahan dasar tertentu seperti kemasan atau cup plastik.
Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan Indra, Kepala Dusun Demangan, yang membahas mengenai tahapan pengujian hasil pirolisis. “Setelah menghasilkan cairan seperti ini, apa masih akan dilakukan pengujian lebih lanjut?” ucapnya.
Kelompok KKN UNS 259 memberikan penjelasan bahwa cairan hasil pirolisis masih butuh pengujian laboratorium dan proses penyaringan lebih lanjut. Hal ini karena cairan yang dihasilkan masih berada di bawah kualitas solar komersial. Dengan begitu, cairan yang dihasilkan belum bisa digunakan secara langsung sebagai bahan bakar mesin tanpa melalui pengujian dan pengembangan lanjutan.
Sesi diskusi yang berlangsung aktif harus diakhiri dengan pertanyaan warga mengenai kualitas yang dihasilkan dari proses pirolisis. “Apakah cairan tersebut sudah bisa digunakan pada mesin? Lalu, bagaimana pengaruhnya? Dan apakah sebelumnya sudah pernah diuji?” ucap salah satu warga Desa Ngadirejo.
Menjawab pertanyaan tersebut, Kelompok KKN UNS 259 menegaskan bahwa hasil pirolisis yang diperoleh saat ini masih berada di bawah kualitas solar komersial dan mengakui belum pernah diuji secara langsung pada mesin. PLASTAR sendiri telah melalui beberapa tahapan sebelum diperkenalkan kepada masyarakat. Inovasi ini mulai direncanakan pada 22 Juni 2026, kemudian memasuki tahap uji coba pada 9-15 Juli 2026, dan diterapkan pada 16 Juli 2026.
Melalui sosialisasi PLASTAR, mahasiswa KKN UNS Kelompok 259 berharap pengabdian yang dilaksanakan selama 45 hari di Desa Ngadirejo tidak hanya menjadi kegiataan sesaat, tetapi harus mampu meninggalkan pengetahuan baru yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat. Meskipun hasil dari cairan pirolisis masih membutuhkan pengujian laboratorium dan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat digunakan sebagai bahan bakar secara langsung, PLASTAR bisa menjadi langkah awal untuk memperkenalkan cara baru terhadap pengolahan sampah plastik. Melalui kerja sama antara mahasiswa, masyarakat, perangkat desa, dan pihak terkait, diharapkan PLASTAR dapat terus diuji hingga menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah yang memiliki nilai guna di Desa Ngadirejo.
