Konten dari Pengguna

Mengenal Bubur Cido, Makanan Tradisional Kota Payakumbuh yang Berkhasiat

Felga Zulfia Rasdiana

Felga Zulfia Rasdiana

Dosen Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Andalas

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Felga Zulfia Rasdiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bubur Cido. Foto oleh Amira Amalia
zoom-in-whitePerbesar
Bubur Cido. Foto oleh Amira Amalia

Sumatera barat merupakan salah satu daerah dengan kazanah kuliner tradisional yang beragam mulai dari rendang, galamai, karak kaliang, kerupuk sanjai, pinyaram, teh telur dan masih banyak lagi. Setiap daerah di Sumatera Barat memiliki makanan tradisional masing-masing, salah satunya Kota Payakumbuh terdapat makanan tradisional yang berkhasiat yaitu bubur cido.

Arti kata “Cido”?

Penamaan Bubur Cido berasal dari kata “Cido” yang bermakna sakit, tubuh tidak berkembang, dan tidak enak badan. Jadi bubur cido adalah bubur yang memiliki manfaat kesehatan ketika dikonsumsi karena kandungan bahan di dalamnya.

Bahan Baku Pembuatan Bubur Cido

Bubur cido merupakan makanan yang terbuat dari berbagai macam pisang yang ditambahkan dengan rempah-rempah dan bahan tambahan lainnya. Pisang yang dijadikan bahan baku utama pembuatan bubur cido yaitu pisang lokal yang banyak dijumpai di Kota Payakumbuh.

Pisang lokal yang digunakan tersebut terdiri dari tiga jenis pisang yaitu: pisang kalek dengan nama nasional pisang raja sereh (Musa x paradisiaca), pisang buai dengan nama nasional pisang ambon lumut (Musa acuminate Colla), dan pisang gadang dengan nama nasional pisang raja (Musa x paradisiaca) (Lipi, 2010).

Pisang yang digunakan pada pembuatan bubur cido tidak dapat diganti dengan pisang jenis lainnya. Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan bubur cido yaitu kacang hijau, beras ketan, gula aren, santan, jahe, kayu manis, dan pala.

Metode Pembuatan Bubur Cido

Bubur cido diolah dengan cara merebus tiga jenis pisang secara bersamaan kemudian ditambahkan rempah-rempah seperti jahe, kayu manis, pala, beras ketan putih, garam dan air. Dimasak selama kurang lebih 2 jam sambil diaduk.

Selanjutnya ditambahkan kacang hijau, santan dan gula aren kemudian masak kembali sampai mendidih, lalu diaduk hingga semuanya hancur dan berubah tekstur menjadi seperti bubur. Bubur cido memiliki rasa yang enak dan aroma yang khas dari rempah-rempah yang ditambahkan.

Khasiat Fungsional Bubur Cido

Pangan fungsional adalah pangan yang mengandung komponen aktif dalam bahannya yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di samping manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan cara pengolahannya pangan fungsional terbagi 3 yaitu:

  • Pangan fungsional alami, pangan yang bahannya sudah tersedia di alam dan tidak perlu dilakukan pengolahan kembali

  • Pangan fungsional tradisional, pangan yang bahannya sesuai resep warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya

  • Pangan fungsional modern, pangan yang diolah dengan resep atau formula baru

Bubur cido digunakan sebagai pangan fungsional yang berfungsi untuk memperlancar pencernaan, mengatasi perut kembung, panas dalam, meningkatkan nafsu makan, membuat tubuh menjadi segar. Bubur cido disajikan di dalam piring dalam keadaan hangat. Bubur cido biasanya juga disajikan dengan minuman pahit yang disebut ampadu tanah yang berasal dari tumbuhan sambiloto yang digunakan untuk mengurangi rasa pahit saat meminum ampadu tanah. Bubur cido biasa di konsumsi pada sore hingga malam hari.

Penjual Bubur Cido

Penjual bubur cido satu-satunya yang masih bertahan berjualan sampai saat ini di Kota Payakumbuh adalah bubur cido M. Janawi. Bubur cido M. Janawi sudah berdiri sejak tahun 1966. Bubur cido ini merupakan resep turun temurun yang dimiliki keluarganya. Sekarang usaha bubur cido diteruskan oleh generasi kedua. Lokasi penjualan bubur cido berada di pasar Kota Payakumbuh.