Konten dari Pengguna

Seandainya Luka Adalah Bahasa

Felicia

Felicia

Mahasiswa Manajemen 2022 Universitas Pembangunan Jaya (UPJ)

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Felicia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sad depressed young women sitting on. Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sad depressed young women sitting on. Sumber: Shutterstock

Apabila luka adalah bahasa, mari kita yakini bahwa bahasa luka tidak dapat diterjemahkan di mana-mana karena hanya kita yang tahu apa artinya. Banyak dari kita ketika sedang terluka akan merasa puas dan lega ketika perasaan luka sudah diceritakan kepada orang yang kita percayai.

Luka adalah perasaan paling perasa, luka hadir ketika perasaan kita terluka dan itu cukup meyakinkan hati bahwa luka membawa perasaan ke arah yang menyakitkan. Namun, bisakah luka kita sebut sebagai bahasa? Karena luka bisa kita ibaratkan sebagai bahasa yang biasanya kita ucapkan menggunakan kata dan kalimat, bedanya bahasa luka tidak memiliki kata dan kalimat.

Jadikan luka sebagai bahasa, jadikan luka adalah hal biasa walau yang menyebabkan kita merasa terluka tidaklah biasa. Namun luka ada sebagai bahasa, sebab luka selalu ada setiap harinya, mengikuti jejak kemanapun kita pergi.

Seringkali perasaan luka datang karena kehilangan atau ketika seseorang melukai perasaan kita. Jadi, apa yang bisa kita maknai? Sebab luka tetaplah luka, karena luka adalah perasaan yang dibenci oleh semua orang.

Jika luka adalah bahasa, akan jadi seperti apa rupanya? Mungkin luka yang berteriak dengan lantang di keramaian, berdiri sendiri dan jadi yang paling ribut di antara sepi, atau luka yang paling diam seperti malam di sebuah desa yang paling damai se dunia. Rupanya, luka memiliki dua bahasa. Bahasa pertama diungkapkan dengan lantang, bahasa ke dua diungkapkan dengan diam.

Jika teman-teman sekalian sedang merasakan dua bahasa luka tersebut, maka terlukalah semampu yang kalian sanggupi. Terluka adalah bagian dari kehidupan, sama halnya seperti bahagia, kecewa, marah, sedih, dan segala perasaan yang ada pada diri manusia. Karena pada akhirnya, luka adalah perasaan yang tumbuh begitu saja, membuat kita menjadi jati diri sebagai manusia yang sesungguhnya.

Pada umumnya perasaan luka datang dari sakit hati, marah, kecewa, pedihnya pengkhianatan, perpisahan, sedih, dan takut akan sesuatu. Jangan takut dengan perasaan yang sedang terluka, yakinlah itu hanya bagaimana cara perasaan kita sedang membantu kita secara perlahan agar dapat melewati fase luka tersebut. Seperti luka fisik pada umumnya, awalnya terasa sakit, namun pada akhirnya akan perlahan sembuh pada waktunya, dan kita hanya perlu percaya pada setiap prosesnya.

Ilustrasi women suffering fear loneliness depression abuse. Sumber: Shutterstock

Luka memang menyakitkan, sebagaimana kita adalah manusia sering mengalami luka yang sangat menusuk perasaan. Jika teman-teman sekalian sedang terluka perasaanya, maka jadikan luka sebagai bahasa saja. Apa yang kita bincangkan akan menjadi kenangan dan akan terlewat pada akhirnya.

Topik obrolan akan selesai, kalimat demi kalimat yang terlontar pada akhirnya hanyalah menjadi ingatakan masa lalu belaka, kemudian kalimat baru akan dilontarkan di hari yang baru. Begitupun luka yang di ibaratkan sebagai bahasa, akan sama-sama terlewat dan akan datang luka yang baru.

Jika kita tidak pernah terluka, maka yakinlah bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Barangkali kita melewatkan sesuatu, karena dengan adanya luka ini ternyata bisa membuat kita berproses lebih jauh, kita dapat menghindari apa yang pernah membuat kita terluka, kita jadi belajar banyak hal, dan kita jadi lebih tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Luka adalah bahasa, menurut saya itu cara yang bagus untuk memaknai luka. Seperti bahasa, bahasa adalah alat komunikasi sosial yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan manusia. Kalau luka diartikan sebagai bahasa, maka luka adalah alat komunikasi individu yang berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh perasaan manusia.

Saya suka menyebut luka sebagai bahasa, karena bahasa akan selalu ada sampai selamanya. Luka juga ada dari waktu ke waktu, luka selalu ada di kehidupan kita.

Mari memaknai luka sebagai bahasa, karena luka mau bagaimanapun juga tidak akan pernah usai. Jadikan luka sebagai media pembelajaran dan pengalaman, jadikan luka sebagai perasaan yang layak datang dan kembali datang lagi.

Semoga tulisan saya bisa menjadi teman bagi teman-teman sekalian yang perasaannya sedang terluka. Tidak semua bahasa mudah kita pahami, begitupun juga dengan luka. Maka yang dapat memahami luka hanyalah diri kita sendiri, dan hanya diri kita yang mampu mengerti dan mengatasi luka itu.

Kita harus merasakan rasa sakit, karena setidaknya kita belajar dari apa yang kita rasakan. Jadikan perasaan luka sebagai peluang untuk belajar apa itu kehidupan yang sering kita pertanyakan. Jadikan perasaan luka sebagai media meluapkan kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan pengkhianatan. Karena sebagai manusia, kita akan selalu merasakan rasa sakit tersebut.

Jadi, jika perasaan kalian merasa pedih, ada banyak cara untuk meluapkannya, ialah dengan cara masing-masing yang menurut teman-teman sekalian mampu meredakan rasa sakit tersebut. Setidaknya dunia tidak pernah menghapus kenangan, lagu atau makanan favorit, orang-orang, dan keindahan alam yang sudah berdiri melalui tangan Tuhan.