Konten dari Pengguna

Tren Vintage di Kalangan Remaja: Gaya Hidup atau Perilaku Konsumtif?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Felice Devina Komara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Rak dan koleksi benda bernuansa vintage di Kopi Mandja, Bandung. (Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Rak dan koleksi benda bernuansa vintage di Kopi Mandja, Bandung. (Dokumentasi pribadi)

Perkembangan tren di media sosial membuat gaya dari masa lalu kembali populer di kalangan remaja. Salah satu yang banyak menarik perhatian adalah gaya vintage. Namun, apakah vintage dan retro memiliki arti yang sama? Vintage merujuk pada barang, pakaian, atau benda yang benar-benar berasal dari masa lalu dan memiliki ciri khas zamannya. Sementara itu, retro adalah gaya baru yang terinspirasi oleh tampilan atau suasana masa lalu. Perbedaan ini penting karena sebuah benda dapat terlihat jadul, tetapi belum tentu merupakan barang asli dari masa lalu. Saat ini, ketertarikan terhadap gaya tersebut terlihat dari cara berpakaian, tempat nongkrong, dekorasi, hingga barang yang dikoleksi.

Tren vintage semakin menarik bagi Generasi Z karena memberikan kesan unik, berbeda, dan memiliki unsur nostalgia. Remaja dapat menggunakan pakaian, aksesori, atau barang lama sebagai cara untuk mengekspresikan diri. Media sosial juga membuat gaya tersebut lebih mudah dikenal dan ditiru. Penelitian Dhanar Pradana dan Tyar Ratuannisa (2024) menunjukkan bahwa Generasi Z memahami karakteristik fashion vintage, seperti siluet, warna, motif, serta ciri khas periode tertentu. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa persepsi terhadap gaya vintage dipengaruhi oleh tren fashion dan budaya. Artinya, ketertarikan terhadap vintage berkaitan dengan lingkungan sosial dan perkembangan tren yang dilihat sehari-hari.

Di sisi positif, tren vintage dapat menjadi sarana untuk menggunakan kembali barang yang masih layak. Misalnya, remaja dapat memakai pakaian milik orang tua yang sebelumnya tidak digunakan. Pakaian tersebut dapat dipadukan dengan gaya masa kini sehingga memiliki fungsi baru. Hal serupa dapat dilakukan melalui thrifting, yaitu membeli pakaian bekas yang masih layak pakai. Cara ini dapat membantu memperpanjang penggunaan pakaian. Selain pakaian, barang lama seperti radio, televisi tabung, telepon, mesin ketik, dan buku juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai dekorasi. Dengan demikian, vintage tidak selalu berarti membeli barang baru, tetapi juga dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap barang lama.

Namun, tren vintage juga memiliki sisi negatif apabila dilakukan secara berlebihan. Keinginan untuk terlihat mengikuti tren dapat membuat seseorang membeli pakaian, aksesori, atau barang dekorasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tempat nongkrong dengan konsep vintage juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang membuat remaja lebih mementingkan pengalaman dan penampilan daripada kebutuhan. Jika seseorang membeli sesuatu hanya karena sedang populer, keputusan tersebut dapat mengarah pada perilaku konsumtif. Masalahnya bukan pada gaya vintage itu sendiri, melainkan pada kebiasaan membeli tanpa mempertimbangkan kebutuhan, manfaat, dan kemampuan.

Dari sisi pelaku usaha, tren ini dapat menjadi peluang. Munculnya minat terhadap suasana masa lalu mendorong beberapa tempat usaha untuk menggunakan furnitur dan benda jadul sebagai bagian dari konsep ruang. Dekorasi yang unik dapat membuat tempat terasa berbeda dan menarik perhatian pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan selera konsumen dapat menciptakan peluang ekonomi. Akan tetapi, konsumen tetap perlu bersikap bijak agar ketertarikan terhadap konsep vintage tidak berubah menjadi kebiasaan menghabiskan uang hanya demi mengikuti tren. Perkembangan tren dapat menguntungkan pengusaha sekaligus memberikan pilihan baru bagi konsumen, tetapi keduanya perlu berjalan seimbang.

Gambar 3. Mesin ketik dan telepon model lama di Kopi Mandja, Bandung. (Dokumentasi pribadi)

Hal tersebut terlihat dari hasil observasi yang saya lakukan di Kopi Mandja, Bandung. Di tempat tersebut, saya menemukan berbagai benda yang memberikan suasana masa lalu, seperti telepon model lama, mesin ketik, radio, televisi, buku-buku lama, dan beberapa benda lainnya. Benda-benda tersebut membantu membangun suasana yang menjadi daya tarik tempat tersebut. Dari observasi ini, saya melihat bahwa ketertarikan terhadap vintage tidak harus diwujudkan dengan membeli barang baru. Barang yang sudah ada dapat digunakan kembali sebagai dekorasi dan tetap memiliki nilai estetis. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa benda lama masih dapat memiliki fungsi dan daya tarik di tengah kehidupan modern.

Menurut saya, tren vintage dapat memberikan pengaruh baik maupun buruk bagi remaja. Pengaruhnya menjadi positif ketika vintage digunakan sebagai sarana berekspresi, berkreasi, menghargai barang lama, dan memanfaatkan kembali barang yang masih layak. Sebaliknya, pengaruhnya menjadi negatif ketika tren tersebut membuat seseorang membeli barang secara berlebihan hanya untuk mengikuti popularitas. Karena itu, remaja perlu membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum membeli sesuatu. Mengikuti tren tidak berarti harus memiliki semua barang yang sedang populer. Kita dapat mengikuti gaya vintage dengan memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki, memadukan barang lama dengan gaya masa kini, atau menikmati suasana vintage tanpa berbelanja berlebihan.

Gambar 2. Koleksi radio dan benda lama sebagai bagian dari dekorasi. (Dokumentasi pribadi)