Konten dari Pengguna

Bukan Cuma Ngopi, Coffee Shop Jadi Ruang Sosial Baru Gen Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Felicia Floren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa Coffee Shop, Bukan Ruang Lain?

(ilustrasi: ai)
zoom-in-whitePerbesar
(ilustrasi: ai)

Kalau kamu perhatikan, jumlah coffee shop di kota-kota besar Indonesia belakangan ini seperti tidak pernah berhenti bertambah. Satu ruko kosong bisa berubah jadi kedai kopi baru dalam hitungan bulan, lengkap dengan jendela besar, kursi kayu, dan sudut-sudut yang sengaja dibuat "instagramable". Tapi yang menarik bukan cuma soal jumlahnya—melainkan fungsi coffee shop itu sendiri yang bergeser di mata Gen Z.

Coffee shop bukan lagi sekadar tempat beli kopi lalu pergi. Ia jadi ruang nongkrong, tempat nugas atau kerja remote, sampai lokasi bikin konten buat media sosial. Satu tempat, banyak fungsi dan itu yang membuatnya terasa beda dari generasi-generasi sebelumnya.

Kopi Murah, tapi Bukan Soal Kopinya Saja

Survei JakPat terhadap 1.115 responden Gen Z Indonesia (6–9 Desember 2024) menemukan bahwa sekitar 77% dari mereka mengonsumsi kopi. Menariknya, dari kelompok peminum kopi ini, mayoritas—48%—hanya menghabiskan kurang dari Rp10 ribu untuk membeli atau membuat segelas kopi. Hanya 5% yang mengeluarkan lebih dari Rp50 ribu per gelas.

Harga (47%) dan rasa (46%) jadi dua pertimbangan utama Gen Z dalam memilih kopi, menurut survei yang sama. Data ini penting untuk meluruskan asumsi umum bahwa nongkrong di coffee shop identik dengan pengeluaran besar untuk kopi kekinian yang mahal. Faktanya, uang yang dihabiskan Gen Z untuk kopi itu sendiri cenderung kecil yang justru mahal biasanya adalah waktu yang dihabiskan di sana, bukan minumannya.

Ini sejalan dengan pengamatan bahwa yang dicari Gen Z dari coffee shop bukan semata rasa kopi, melainkan pengalaman dan ruang yang ditawarkan.

Dari Tempat Minum Kopi ke "Kantor" dan Panggung Konten

Sejumlah penelitian akademik dalam beberapa tahun terakhir mulai menyoroti pergeseran ini secara lebih spesifik. Riset di lingkungan Universitas Indonesia, misalnya, secara khusus membahas perilaku Gen Z sebagai konsumen coffee shop di Jakarta, termasuk bagaimana coffee shop berfungsi sebagai ruang sosial sekaligus tempat pembentukan identitas anak muda urban.

Studi lain yang dipublikasikan di Jurnal Sosiologi Dialektika (Universitas Airlangga, 2025) mengambil studi kasus sebuah kedai kopi bertema "Ada Apa Dengan Kopi" dan menemukan bahwa ruang kafe tersebut menjadi semacam panggung representasi bagi Gen Z: tempat identitas sosial dan estetika ditampilkan, dinikmati, sekaligus dikonsumsi. Kopi, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar minuman, tapi juga simbol status dan gaya hidup—dan fenomena fear of missing out (FOMO) disebut turut membentuk pola nongkrong ini.

Pergeseran fungsi ini juga terlihat di lapangan lewat istilah yang makin akrab di telinga: work from cafe. Bekerja atau belajar sambil ditemani secangkir kopi dan wi-fi gratis kini jadi rutinitas yang lumrah, khususnya bagi mahasiswa dan pekerja lepas yang tidak terikat ruang kantor konvensional.

Kenapa Coffee Shop, Bukan Ruang Lain?

Ada beberapa alasan yang masuk akal kenapa coffee shop jadi pilihan utama dibanding ruang publik lain seperti perpustakaan atau taman kota.

Pertama, fleksibilitas. Coffee shop menyediakan wi-fi, colokan listrik, dan suasana yang tidak terlalu kaku dibanding kantor atau perpustakaan, tapi juga tidak terlalu santai seperti di rumah.

Kedua, estetika ruang. Desain interior yang diperhatikan dengan detail membuat coffee shop jadi lokasi yang nyaman difoto dan direkam, sesuatu yang relevan buat Gen Z yang tumbuh besar dengan budaya konten media sosial.

Ketiga, keterjangkauan biaya. Seperti terlihat dari data JakPat di atas, biaya untuk "menyewa" ruang coffee shop lewat secangkir kopi bisa jadi sangat murah, jauh dari kesan mahal yang sering dilekatkan pada tren ngopi kekinian.

Bukan Fenomena yang Berlaku Rata

Perlu dicatat, pergeseran fungsi coffee shop ini paling terasa di kalangan Gen Z urban kelas menengah yang punya akses ke kawasan dengan banyak pilihan kafe terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, atau Solo, yang jadi lokasi sebagian riset di atas. Gambaran ini belum tentu berlaku sama di kota kecil atau daerah dengan ekosistem coffee shop yang belum sepadat itu.

Meski begitu, pola yang muncul cukup konsisten: coffee shop bukan lagi sekadar tempat transaksi jual-beli kopi, melainkan ruang sosial multifungsi yang menampung kebutuhan Gen Z akan produktivitas, koneksi sosial, dan ekspresi diri sekaligus, dalam satu meja dan satu gelas kopi.