Konten dari Pengguna

Ketimpangan Pendidikan

Feliks Rolandus

Feliks Rolandus

Mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Feliks Rolandus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar : Siswa berjalan kaki menuju sekolah. Sumber : Doc. Erik Jumpar
zoom-in-whitePerbesar
Gambar : Siswa berjalan kaki menuju sekolah. Sumber : Doc. Erik Jumpar

Sinar mentari mulai muncul di antara kabut pagi yang mulai sirna dan menguap ke angkasa. Cahayanya juga tampak melalui celah pepohonan jati yang sudah merontokan daunya untuk bertahan dari penguapan berlebih di musim kemarau. Segerombolan anak berseragam merah putih berjalan melewati jalan setapak, beberapa di antara mereka hanya beralaskan sandal jepit, tampak juga di punggung mereka menyandang ransel berisi buku. Ada juga yang menenteng kresek sebagai pengganti tas karena tidak mampu membeli atau tas mereka sudah rusak atau usang dimakan usia. Seperti itulah kurang lebih pemandangan ketika menyaksikan generasi bangsa ini berjuang untuk mendapatkan pendidikan di pelosok Nusantara, kesempatan itu saya saksikan ketika berlibur ke kampung halaman saya di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Ketika pagi hari melewati jalan Trans Flores, pemandangan siswa-siswi yang hendak berangkat ke sekolah menjadi pemandangan unik tersendiri sekaligus membawa kenangan masa sekolah dulu. Raut wajah yang disinari warna kuning kemerahan mentari pagi membawa nuansa semangat yang berbeda. Pada umumnya, mereka berjalan kaki dari rumah menuju sekolah. Jarang sekali kita mendapati mereka diantar oleh orang tuanya, atau menaiki kendaraan umum, apalagi kendaraan pribadi. Jika pun ada, hal tersebut jarang terjadi.

Jarak yang ditempuh untuk mencapai sekolah juga beragam, beruntung jika mereka tinggal dekat dengan sekolah sehingga tidak membutuhkan perjuangan yang besar. Namun, ada juga mereka yang harus berjuang lebih karena sekolahnya jauh dari kampung tempat tinggalnya. Contohnya di Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur. Terdapat Sekolah Dasar Impres (SDI) Munde. Beberapa tahun silam, saya menempuh pendidikan dasar di sekolah ini. Setiap hari saya harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer dan melewati jalan setapak yang mendaki sehingga butuh energi lebih untuk sampai ke sekolah. Belum lagi jika hari itu ditugaskan untuk membawa satu jerigen air lima liter, maka beban yang ditanggung semakin besar. Selain dari kampungku, terdapat beberapa siswa lain dari kampung Danggalu, yang jarak tempuhnya lebih jauh lagi dan harus melewati jalanan yang cukup terjal, apalagi kalau sudah masuk musim hujan, jalanan mereka jadi licin dan berlumpur.

Gambar: Siswa menaiki tangga jalanan terjal menuju sekolah. Sumber : Doc. Erik Jumpar

Di samping gedung SD itu, berdiri juga gedung SMPN Satap Munde, yang telah berdiri sejak 2010. Karena lokasinya yang bersebelahan, kedua sekolah ini disebut sekolah satu atap atau SATAP. Dengan dibangunnya sekolah ini, masyarakat di Desa Komba terutama di Kampung Munde, Paundoa dan sekitarnya mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih dekat. Sebelumnyam, sekolah menengah pertama terdekat dari kampung tersebut berjarak empat kilometer, yakni SMPK Rosamistika Waerana. Jika ditempuh dengan berjalan kaki akan menghabiskan waktu kurang lebih lima puluh menit hingga satu jam.

Kurang lebih tujuh tahun saya meninggalkan kampung halaman. Namun, realita pendidikan masih sama, masih ada yang menuju sekolah dengan berjalan kaki dengan jarak tempuh yang jauh. Terlebih mereka yang menempuh sekolah menengah atas atau SMA. SMA terdekat dari kampung tersebut berjarak empat kilometer dan lagi-lagi ditempuh dengan berjalan kaki. Tak sampai di situ, ada juga yang harus menempuh jarak yang lebih jauh, yakni sepuluh kilometer dari kampungnya. Jarak tersebut bisa saja mereka tempuh dengan angkutan desa. Namun, ketika uang tak cukup, terpaksa harus berjalan kaki. Meski telah dibangun banyak fasilitas pendidikan, tetapi masih banyak anak di Kecamatan Kota Komba yang kesulitan mengakses pendidikan.

Sekolah di Kota

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pertama di Manggarai Timur, saya berkesempatan melanjutkan sekolah menengah atas di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Realita pendidikan yang terlihat sangat berbeda. Jarang sekali ada siswa yang berjalan kaki, biasanya mereka diantar orang tua, sopir pribadi, atau saudara. Bahkan, ada juga yang menggunakan transportasi umum, biaya transportasi umum juga sangat terjangkau. Pembangunan sekolah juga sudah merata, setiap daerah rata-rata sudah dibangun sekolah. Pembangunan sarana dan prasarana juga mendukung tumbuh kembang dan minat siswa. Buku pelajaran yang lengkap, berbagai ekstrakurikuler tersedia, menghadirkan banyak pilihan untuk menunjang kemampuan. Ruang kelas juga sangat memadai proses belajar mengajar, tak jarang pula ruang tersebut dilengkapi kipas angin dan lab komputer. Semua tersedia dan memberikan kenyamanan dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya itu, mereka difasilitasi tenaga pengajar yang kompeten di bidangnya. Dimanjakan oleh teknologi dan kelengkapan sarana, tak heran mereka cakap menggunakan berbagai teknologi dan cepat beradaptasi. Dengan fitur-fitur tersebut, jelas terasa perbedaan pendidikan di pelosok dengan di kota.

Teringat jelas ketika di pelosok, di sekolah hanya memiliki satu komputer dan itu hanya digunakan oleh guru atau tata usaha untuk keperluan yang penting saja. Siswa hanya bisa melihat komputer dari balik jendela dan tidak bisa menyentuhnya. Tenaga pendidik juga tidak sebaik di sana, apalagi di daerah pelosok yang masuk kategori 3T. Guru PNS-nya hanya satu atau dua orang sisanya guru honorer dan digaji seadanya dari uang komite atau swadaya orang tua. Namun, guru-guru tersebut begitu loyal dan memberikan pelayanan terbaik, tidak hanya mengajarkan ilmu akademik tapi juga niali-nilai moral. Ekstrakulikuler juga seadanya saja tanpa dilengkapi sarana prasarana yang lengkap. Ketika jam pelajaran selesai, para siswa pulang ke rumah masing-masing untuk membantu orang tua di ladang, menggembalakan ternak, mencari kayu bakar, atau membereskan rumah. Tidak ada kelas kursus tambahan karena memang tidak ada wadah untuk itu.

Kesulitan Tumbuhkan Mental Juang

Realita ketimpangan pendidikan mulai dari sarana prasarana penunjang pendidikan hingga keterjangkauan jarak ke fasilitas pendidikan yang jauh, menyulitkan mereka yang hidup di daerah pelosok Indonesia. Mereka harus berjuang lebih keras untuk menimba ilmu dan penunjang minat dan bakat sehingga menghambat mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

KEMENBUDRISTEK mengungkapkan bahwa khusus lulusan SMA yang mencari kerja, mereka dihadapkan pada persaingan, dari segi keterempilan dan mentalitas kerja. Selain itu, sebanyak 20 persen tenaga kerja lulusan SMA banyak bekerja di sektor tanpa keterampilan, 65 persen semi-skilled, statistik ini disebabkan minimnya akses lulusan SMA ke bursa kerja dan mengambil lapangan kerja yang diperuntukkan untuk lulusan SD dan SMP. sehingga tak heran, lulusan sekolah di daerah sangat minim kemampuan atau skill bekerja di bidang industrial, mereka jarang diserap oleh perusahan. kecuali jika ingin melanjutkan pendidikan ke kota, akan ada pengalaman baru yang bisa dipelajari untuk menambah kemampuan yang dibutuhkan. Namun ada hal lain yang menjadi perhatian ketika membandingkan sekolah di desa dan di kota. Menagang secara akses, sarana prasarana, serta kualitas pendidikan sangat jauh ketimpangannya, keadaan sekolah di desa dengan di kota. akan tetapi, ada keunggulan yang diberikan berkat kerja keras, perjuangan dan usaha yang dilakukan.

Dikutip dari artikel Harian Kompas berjudul ”Kesehatan Jiwa Remaja” yang ditulis Dr.Samsuridjal Djauzi, mengatakan bahwa, Remaja seringkali menjadi bingung ketika menghadapi kenyataan hidup di sekitarnya. Remaja yang jarang mendapat tantangan atau kesulitan, cenderung lebih mudah menyerah. Sehingga ketika berbicara mengenai ketahanan mental dan nilai juang atau kerja keras, maka orang yang dibesarkan dengan segala sesuatu yang mudah didapat dan sudah tersedia tanpa usaha, akan kurang daya juangan nya. Kehidupan dikota dewasa ini sudah serba mudah dalam satu genggaman. Ketika ingin makan, belanja, mencari buku hanya perlu memainkan jari, semua bisa didapat dengan mudah dan cepat. Tapi bagi mereka yang tinggal di desa dengan segala keterbatasan, seperti ke sekolah harus berjalan kaki, belanja ke pasar tunggu seminggu sekali, ingin beli buku, harus ke toko buku itupun kalau ada dan hanya ada di kota dengan jarak puluhan kilo, ingin makan maka harus masak terlebih dahulu. Sehingga mereka terbiasa dan segala sesuatu harus diusahakan dan berjuang, tidak ada hasil yang instan. Maka bentukan yang dihasilkan dari didikan ini juga membentuk karakter yang tangguh berdaya juang tinggi dan bekerja keras untuk menggapai sesuatu. Karena dalam pikiran mereka tidak ada hal yang instan untuk didapatkan

Dokter di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta tersebut juga mengatakan banyak remaja yang kurang memahami diri mereka. Mereka tak tahu akan menjadi apa kelak. Mereka kurang keras berjuang untuk mencapai cita-citanya. Remaja yang hidup dengan segala kemudahan yang ada mencoba mencari jalan pintas. Sehingga mereka biasanya lebih cepat menyerah, kurangnya daya juang dan rentan terhadap isu kesehatan mental. Memang secara pembangunan dan sarana, di desa jelas masih tertinggal tapi dari keterbatasan yang ada, mereka dibentuk mengahasilkan metal pejuang untuk berjuang lebih keras menghadapi kehidupan yang semakin sulit.