Tentang Wahana Dufan dan Arti Kehidupan

Nama panggilan saya Fey, saya siswi dari SMA Trinitas Bandung. Menurut saya menulis itu mudah, yang rumit itu adalah memahami isi hati orang lain.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Felisha Aira Alfajry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, Desember menjadi bulan terakhir dalam 12 bulan yang menandai akhir tahun saat banyak orang perlahan menutup lembaran lama dan mulai menyusun lembaran baru yang lebih baik. Untuk menyusun lembaran baru itu, SMA Trinitas Bandung mengadakan Studi Industri Kelas X Tahun 2025 ke beberapa destinasi menarik, seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Sea World, dan Dunia Fantasi (Dufan). Walaupun terdengar seperti kegiatan bermain, para siswa tetap diberi tugas agar bertanggung jawab sebagai pelajar.
Meski demikian, para siswa tetap merasa senang karena dapat belajar sambil bermain bersama teman. Bagi mereka, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi setelah berjuang selama sembilan hari menghadapi Asesmen Sumatif Akhir Semester (ASAS). Kegiatan studi industri ini bertujuan untuk memperluas wawasan para siswa melalui pengamatan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari yang mencakup bidang Ekonomi, Matematika, Geografi, Fisika, hingga Bahasa Indonesia.
Dari ketiga destinasi pada kegiatan studi industri, Dunia Fantasi (Dufan) menjadi destinasi yang paling dinanti oleh para siswa karena memancing rasa penasaran untuk mencoba hal baru serta memacu adrenalin dan keberanian bersama. Sebelumnya, para siswa cukup lelah setelah menjajal setiap destinasi. Namun, saat mendengar kata “Dufan”, suasana seolah berubah menjadi angin segar yang menghilangkan rasa lelah dan kantuk–digantikan oleh rasa antusias untuk menjajal berbagai wahana yang menanti. Oleh karena itu, kunjungan ke Dufan menjadi momen yang ditunggu-tunggu para siswa. Dari sinilah pengalaman di Dufan menjadi bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi tentang kehidupan.
Saat para siswa menginjakkan kaki di Dufan, mereka tercengang melihat beragamnya wahana di Dufan yang memukau. Dari kejauhan, terlihat beberapa wahana dengan warna yang mencolok, menjulang tinggi, dan berputar cepat yang menyimpan kejutan di dalamnya yang turut menarik perhatian. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah sembari membawa gelombang suara teriakan para pengunjung yang sedang bermain wahana, melihat reaksi para pengunjung saat bermain wahana, menciptakan campuran rasa tegang dan kagum. Di tengah keramaian dengan antrean yang panjang di setiap wahana, hal itu tidak memadamkan semangat para siswa untuk mencoba wahana. Semua wahana di Dufan memiliki daya tariknya tersendiri seolah menyimpan cerita dan pelajaran yang berbeda.
Kami menyadari bahwa setiap wahana di Dufan bukan hanya tentang adrenalin, melainkan ruang untuk belajar memahami diri sendiri melalui pengalaman yang berbeda-beda. Dari setiap wahana yang kami coba, tersimpan pelajaran kehidupan yang dapat dipetik sebagai refleksi perjalanan hidup. Wahana Kora-Kora menggambarkan bahwa kehidupan tidak selalu berada di titik yang sama. Ayunan pada Kora-Kora bergerak naik tinggi lalu turun kembali dengan cepat, layaknya roda kehidupan yang terus berputar. Selain itu, wahana Tornado memberikan sensasi berputar yang membuat tubuh kami terasa terombang-ambing, mencerminkan bahwa kehidupan kadang dipenuhi masalah datang bertubi-tubi. Namun, setiap kesulitan pada akhirnya akan berakhir, layaknya badai pasti berlalu. Dari suasana yang terang dan ramai, kami pun mencoba wahana Kereta Misteri yang gelap dan penuh kejutan. Kereta melaju tanpa arah yang pasti, menggambarkan bahwa setiap kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Meski demikian, manusia harus terus melangkah agar tidak kehilangan arah dalam perjalanan hidupnya.
Dari seluruh wahana yang kami coba, Hysteria ternyata menjadi wahana yang paling menguji keberanian kami karena menantang rasa takut secara perlahan sehingga wahana ini memiliki daya tarik tersendiri. Meski sedikit ragu, ada rasa penasaran yang kuat untuk mencoba. Perlahan kami melangkah mendekati wahana dengan meyakinkan diri: "Ah, ini cuma wahana biasa." Kami pun duduk di kursi wahana, mengenakan sabuk pengaman, dan jantung mulai berdebar sambil menunggu wahana dijalankan.
Seketika Hysteria pun meluncur naik dengan kecepatan tinggi. Kami berteriak karena terkejut, tubuh kami terdorong ke atas oleh gaya hingga mencapai ketinggian enam puluh meter hanya dalam beberapa detik. Rasanya semua beban tugas di pundak kami hilang dalam sekejap, seolah dihempaskan oleh angin. Sebelum ditarik kembali ke bawah oleh gaya gravitasi, pada ketinggian 60 meter, kami sempat menikmati pemandangan Kota Jakarta yang tampak indah pada sore hari. Momen ini mengajarkan bahwa untuk mencapai keberhasilan, manusia harus berani mengambil risiko untuk mendapatkan hasil yang baik, layaknya prinsip high risk, high return. Dari segi sastra, bagai peribahasa “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”: setiap usaha dan ketakutan yang dilalui akan terbayar pada waktunya.
Kami menghabiskan waktu lebih dari tiga jam di Dufan dengan mencoba berbagai wahana yang menantang. Kaki kami terasa pegal karena harus berjalan dan mengantre wahana, tetapi kami menikmati momen bersama hingga tak terasa matahari mulai tenggelam. Hari berganti malam, sudah saatnya untuk pulang. Kami memulai perjalanan pulang dari Kota Jakarta menuju Kota Bandung saat langit sudah gelap. Suasana perjalanan pulang terasa sangat teduh, sebagian besar dari kami tertidur lelap di dalam bus yang remang dan dingin.
Melalui kegiatan studi industri ini, kami memperoleh pengalaman yang bermakna. Perasaan positif kami saat mengikuti studi industri ini memotivasi kami untuk menggali lebih dalam seputar dunia pasar modal, kehidupan biota laut, dan penerapan konsep Fisika pada wahana permainan. Dari studi industri ini, kami belajar bahwa teori Ekonomi, Matematika, Fisika, Geografi, hingga Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah ternyata dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari dan saling berkaitan satu sama lain. Kami berharap kegiatan studi industri ini dapat terus dilaksanakan dengan tujuan untuk mengedukasi siswa di luar kelas agar dapat melakukan pengamatan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
