Konten dari Pengguna

Menemukan Kembali Hangatnya Masa Kecil Lewat Na Willa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari felisha christy tjendrawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya saat kita merindukan masa kecil kita. Bukan karena ingin mengulang ke masa kecil itu, tapi hanya ingin merasakan kembali bagaimana masa-masa kecil kita yang terasa begitu menyenangkan dan hangat, bagaimana dunia terlihat begitu sederhana. Masa-masa di saat bermain bersama teman sepulang sekolah, pergi ke warung, mendengarkan radio, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Moment-moment kecil tersebut yang mungkin terasa biasa saja saat kita masih kecil, tetapi sekarang kenangan kecil tersebut yang kita rindukan setelah kita beranjak dewasa. Perasaan inilah yang menurut saya berhasil dihadirkan melalui film Na Willa (2026).

Sumber Foto : unplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : unplash.com

Film Na Willa, merupakan film drama keluarga musikal Indonesia yang ditayangkan pada 18 Maret 2026 di Bioskop. Film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy. Film Na Willa ini film yang diadaptasi dari novel populer Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo, yang diterbitkan pada tahun 2012.

Film Na Willa menceritakan tentang kehidupan seorang anak perempuan yang bernama Willa, yang tinggal di sebuah gang di Surabaya pada era 1960-an. Dari sudut pandang Willa, lingkungan tempat tinggalnya tidak hanya sebagai tempat untuk pulang, tetapi menjadi tempat yang penuh keajaiban menarik. Willa banyak sekali menghabiskan waktunya untuk bermain dengan para sahabatnya, menghabiskan waktu bersama Mak nya, dan banyak menemukan kebahagian dari hal-hal sederhana.

Hal Sederhana Yang Berarti

Daya tarik dari film Na Willa ini tidak hanya terletak pada cerita tentang seorang anak, tetapi menurut saya, film ini juga mengajak penonton untuk merasakan kembali kehangatan masa kecil yang terasa begitu sederhana tapi sangat berarti sekarang. Film ini menampilkan pengalaman-pengalaman yang mungkin pernah dirasakan oleh kebanyakan orang pada masa kecil, kegiatan yang mungkin sangat sederhana seperti bermain sampai lupa waktu, ikut Ibu berbelanja ke pasar, bosan disaat hanya diam saja di rumah, sekolah, dan masih banyak lagi.

Melalui pengalaman Willa yang ditampilkan dalam film ini, penonton diajak untuk mengingat kembali bahwa hal-hal yang dulu kita alami mungkin terasa sangat sederhana, tetapi ketika kita sudah dewasa, hal itu menyadarkan kita ketika melihat kembali pengalaman sederhana itu terasa sangat berarti sekarang. Ketika sudah dewasa, pengalaman sederhana itu menjadi sesuatu yang sulit diulang.

Bagi saya, nostalgia yang ditampilkan di dalam film ini bukan sekadar tentang mengingat masa lalu. Ada perasaan yang hangat sekaligus sedih ketika kita sadar bahwa beberapa hal yang dulu kita nikmati tidak akan bisa terulang kembali sekarang. Film ini seakan-akan mengingatkan kita bahwa bertumbuh memang akan membuat kita mendapatkan banyak sekali pengalaman yang baru, tetapi pada saat yang bersamaan, kita juga harus menerima bahwa pasti akan ada bagian dari masa kecil kita yang perlahan terus berubah.

Melihat Film Na Willa Melalui Genre Film

Menurut buku ajar “filmologi kajian film” karya R.A. Vita 2022, genre bisa diartikan sebagai pengelompokan film berdasarkan kesamaan tertentu, yang dapat dilihat melalui narasi, karakter, gaya visual, mise-en-scène, penyuntingan, hingga desain suara. Genre juga membantu penonton memahami gambaran cerita dan pengalaman yang ditawarkan sebuah film.

Film Na Willa bisa dikategorikan sebagai film drama musikal dengan unsur film keluarga dan cerita tentang masa kecil. Genre drama dalam film Na Willa bisa dilihat dari perjalanan emosional tokoh utamanya ketika menghadapi perubahan dalam hidupnya. Konflik yang ditampilkan dalam film ini juga tidak harus berupa pertengkaran besar, tapi yang ditampilkan dalam film ini tentang perubahan dalam pertemanan, keinginan untuk bersekolah mengikuti teman-temannya, dan usaha yang dilakukan untuk memahami dunia yang baru sudah cukup untuk membangun konflik yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari.

Unsur kekeluargaan yang ditampilkan juga memperkuat pengalaman emosional dalam film ini. Hubungan antara Willa dengan orang-orang di sekitarnya membantu menunjukkan bahwa masa kecilnya terbentuk dari lingkungan tempat seseorang bertumbuh. Mulai dari keluarga, teman, dan tempat tinggal yang menjadi bagian dari pengalaman yang nantinya bisa dikenang ketika seseorang beranjak dewasa.

Selain cerita nya yang mendukung tentang nostalgia, latar tempat yang menunjukkan latar Surabaya pada era 1960-an sangat mendukung tema nostalgia pada film ini. Mulai dari lingkungan tempat tinggal, benda-benda yang digunakan seperti radio, mobil, motor, dan juga kehidupan sehari-hari pada masa tersebut yang membantu penonton membayangkan dunia yang sangat berbeda dari kehidupan masa kini.

Sumber Foto: Unplash.com

Nostalgia Bukan Selalu Ingin Kembali

Meskipun film ini menghadirkan perasaan nostalgia tentang kenangan masa kecil yang hangat, menurut saya film Na Willa tidak hanya sekadar mengajak penonton untuk meromantisasi masa lalu. Perubahan-perubahan yang dialami Willa menjadi bagian penting dari cerita melalui scene ketika teman-temannya mulai memiliki kesibukan baru, jadinya ia harus menghadapi lingkungan yang berbeda, Willa belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginannya.

Pengalaman tersebut sangat relate bagi penonton yang sedang beranjak dewasa. Di mana kita mungkin pasti pernah merindukan masa ketika bisa bertemu teman setiap hari, bermain tanpa memikirkan banyak hal, atau menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa terburu-buru. Namun, kehidupan akan terus berjalan dan akan membawa kita pada banyak pengalaman baru yang tidak akan selalu berjalan lancar.

Pada akhirnya, film Na Willa menjadi pengingat bahwa masa kecil tidak harus diisi oleh pengalaman yang luar biasa agar layak dikenang. Mulai dari hal-hal kecil yang dulu kita anggap biasa, sekarang bisa memiliki arti yang bermakna setelah waktu berlalu. Melalui genre drama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film ini menampilkan cerita yang bukan hanya relate bagi anak-anak, tetapi juga bagi penonton dewasa yang ingin sejenak mengingat kembali bagaimana rasanya menjadi anak-anak.

Mungkin itulah alasan mengapa cerita tentang masa kecil bisa terasa begitu dekat bagi banyak orang. Meskipun pengalaman setiap orang berbeda, hampir kebanyakan orang mempunyai kenangan tentang sesuatu yang pernah membuat dunia terasa sederhana. Dan melalui film Na Willa, kita diingatkan bahwa kenangan tersebut tidak harus dilupakan, dan tidak harus juga untuk kembali ke masa itu.