Konten dari Pengguna

Hacking Itu Tak Selalu Jahat

Triani Loviana

Triani Loviana

Saya seorang mahasiswa

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Triani Loviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pexels.com

Keberadaan sistem informasi sangat penting dalam dunia bisnis saat ini. Perkembangan teknologi pada sistem informasi saat ini tidak terlepas dari hal-hal yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan itu sendiri.

Segala jenis penilaian bisnis, kegiatan manajemen perusahaan, selalu berdasarkan pada data informasi yang tersedia. Dan dengan kehadiran sistem informasi manajemen dalam suatu perusahaan tentu membawa banyak kemudahan dan dampak positif.

Namun, siapa sangka di balik kemudahan tersebut terdapat risiko dampak buruk dari sistem informasi. Salah satunya adalah kejahatan dunia maya atau cybercrime. Ada begitu banyak bentuk kejahatan dunia maya, dan tentu saja merugikan perusahaan.

Kata “hacking” tentu bukan hal yang asing di telinga kita jika dikaitkan dengan cybercrime. Begitu mendengar kata "hacking" di benak kita akan mengarah pada tindakan dan kejahatan negatif. Padahal dalam praktiknya, peretasan itu sendiri tidak selalu mengarah pada aktivitas kriminal dan hal negatif lho.

Hacking adalah teknik yang digunakan untuk menyerang sistem, jaringan, dan aplikasi dengan memanfaatkan kerentanan sistem, jaringan, dan aplikasi untuk mendapatkan akses ke data dan sistem. Orang yang meretas disebut hacker.

Beberapa melakukannya untuk kesenangan, beberapa untuk keuntungan, beberapa untuk alasan bisnis. Kegiatan hacking memiliki banyak motivasi dan tujuan, baik positif maupun negatif. Tujuannya berbeda, tetapi kuncinya adalah menemukan fitur dan mengeksploitasi kerentanan dalam sistem ataupun aplikasi.

Peretas atau hacker dapat dipekerjakan atau dipekerjakan secara legal di bawah naungan Ethical Hacking. Ethical Hacking adalah peretasan keamanan hukum yang dirancang untuk membantu perusahaan menguji keamanan jaringan mereka untuk mengetahui potensi celah dan kerentanan.

Teknik-teknik yang digunakan dalam Ethical Hacking pada dasarnya sama. Namun, tujuan dilakukannya aktivitas hacking tersebut berbeda. Layanan Ethical Hacking diperlukan jika bisnis dan organisasi ingin melindungi sistem mereka. Dengan demikian, Ethical Hacker juga dapat menemukan kerentanan yang ada dalam sistem dan mengeksploitasinya lebih dalam untuk menemukan risiko yang muncul dari kerentanan yang ditemukan.

Berbicara tentang legal hacking, kita mungkin teringat dengan sosok Putra Aji. Remaja asal Banten berusia 15 tahun kala itu yang dalam sebuah kompetisi mencari hole atau celah dari sistem di aplikasi yang dimiliki NASA Amerika Serikat.

Ia berhasil masuk ke server NASA dan bahkan bisa mengambil alih server tersebut secara penuh. Dan kini Ia mengembangkan kemampuannya sebagai Bug Hunter dan bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk melebarkan sayapnya di dunia cyber security.

Dari kisah Putra Aji, aktivitas ini sebenarnya sangat baik jika digunakan secara positif, karena akan memberikan manfaat bagi perusahaan ataupun personal yang memiliki sistem tersebut. Sayangnya, aktivitas ini sering disalahgunakan oleh para hacker ilegal untuk kepentingan banyak pihak. Dan akhirnya, membuat pandangan yang negatif tentang aktivitas hacking.