Bahaya Sampah Elektronik Terhadap Lingkungan dan Kesehatan

Mahasiswa Institut Teknologi Telkom Purwokerto
Tulisan dari Fendy Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada zaman modern seperti sekarang, penggunaan perangkat elektronik sudah menjadi suatu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Hadirnya berbagai macam peralatan elektronik seperti laptop, handphone dan perangkat lainya memang sangat membantu kita dalam kegiatan sehari-hari. Bahkan saat ini, ketika kita baru terbagun dari tidur pun benda yang pertama kali kita cari adalah handphone. Hal tersebut menunjukkan bahwa perangkat elektronik sangat dibutuhkan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Selain itu, masa pandemi Covid-19 juga menuntut kita untuk menggunakan teknologi digital untuk melakukan berbagai macam kegiatan dan aktivitas. Hal tersebut membuat jumlah penggunaan perangkat elektronik makin meningkat. Tanpa kita sadari, hal tersebut membuat sampah atau limbah elektronik yang dihasilkan makin meningkat seiring dengan banyaknya jumlah pengguna. Akan tetapi, saat ini masih banyak dari kita yang belum bisa menyadari hal tersebut.
Limbah atau sampah elektronik merupakan benda elektronik yang sudah tidak terpakai dan di buang begitu saja. Misalnya handphone, laptop, dan baterai yang sudah rusak dan tidak terpakai. Jumlah sampah yang makin menumpuk akibat banyaknya penggunaan peralatan elektronik tentunya harus kita pikirkan. Kita sebagai manusia harusnya mulai membuka mata dan sadar akan bahaya dari sampah elektronik.
Saat ini, kita hanya fokus terhadap permasalahan sampah plastik yang melimpah. Padahal masalah sampah elektronik juga harus kita waspadai dan kita atasi secepat mungkin. Selain itu, sampah elektronik juga memiliki kandungan yang tidak kalah berbahayanya dari sampah plastik. Sampah elektronik memiliki berbagai kandungan senyawa halogen dan logam yang berbahaya terhadap lingkungan dan kesehatan tubuh manusia. Setiap sampah elektronik mengandung bahan yang berbahaya dan beracun seperti merkuri, timbal, lithium, dan kadmium. Kandungan tersebut merupakan material yang tidak dapat diurai oleh alam, sehingga dapat mencemarkan dan merusak lingkungan jika tak ditangani dengan tepat. Masih banyak orang yang masih menganggap remeh sampah elektronik dan membuangnya secara sembarangan. Selain itu, pengolahan sampah elektronik yang di lakukan secara tidak tepat juga dapat mengancam lingkungan dan kesehatan tubuh manusia.
Berikut contoh bahaya jika sampah elektronik diolah secara tidak tepat. Apabila sampah dari perangkat elektronik seperti baterai, kabel dan lainya diolah dengan cara di bakar. Hasil dari pembakaran tersebut tentu menghasilkan kandungan senyawa baru yang lebih berbahaya. Kandungan hasil pembakaran tersebut kemudian tercampur dengan udara. Dapat dibayangkan, jika kita menghirup udara yang memiliki kandungan senyawa yang berbahaya setiap hari. Berbagai penyakit dan organ tubuh kita tentunya akan rusak karena kandungan kimia yang berbahaya.
Oleh karena itu, kita harus mulai menyadari dampak dari adanya sampah elektronik. Sudah seharusnya kita tidak membuang sampah elektronik secara sembarangan. Meskipun saat ini pengolahan sampah elektronik di Indonesia juga belum efektif. Saat ini hanya ada beberapa perusahaan pengolah sampah elektronik dan beberapa komunitas yang mengumpulkan sampah elektronik yang ada di Indonesia, jumlahnya pun masih sedikit.
Belum adanya cara yang tepat untuk mengolah sampah elektronik juga menjadi permasalahan yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Saat ini, jumlah perangkat yang digunakan oleh masyarakat selalu meningkat. Namun solusi yang ada untuk mengatasi masalah mengenai sampah elektronik tersebut belum ada yang efektif dan mumpuni. Hal tersebut membuat sebagian dari kita merasa kebingungan ketika memiliki sampah elektronik, karena belum ada solusi lain selain memberikanya kepada para pemulung dan tukang loak.
Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah sampah elektronik yang menumpuk. Kita dapat memulainya dari diri kita sendiri dan dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Hal tersebut dapat kita mulai dengan belajar untuk mengurangi berbagai macam kemungkinan timbulnya sampah elektronik yang berlebih. Selain itu, kita juga harus belajar menjadi konsumen dan pengguna perangkat elektronik yang bijak. Salah satu contohnya adalah menyeleksi antara kebutuhan dan keinginan, sehingga perangkat elektronik tersebut tidak digunakan sebagai gaya hidup saja. Dengan cara-cara kecil seperti itu, setidaknya kita dapat mengurangi dan memperlambat jumlah tumpukan sampah elektronik.
Pendidikan mengenai pengelolaan limbah dan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah adalah modal yang penting untuk ditanamkan pada diri kita. Selain itu, peran pemerintah dalam hal ini juga sangat diperlukan, dengan adanya penyuluhan mengenai dampak dari adanya sampah elektronik dan dibuatnya peraturan mengenai larangan membuang sampah elektronik secara sembarang.
Dengan adanya hal tersebut diharapkan mampu mengurangi dan memperlambat adanya kerusakan lingkungan. Karena kalau bukan kita siapa lagi?, kalau bukan sekarang kapan lagi?.
Fendy Saputra, mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITTP.
