Eksploitasi Kapitalisme di Ranah Pendidikan Indonesia

semua orang adalah seorang intelektual karena semua orang memiliki akal budi akan tidak semua orang dapat menjalankan peran dan fungsi akal budinya, oleh itu saya sebagai mahasiswa UMM selalu ingin menggali potensi apa yang ada dalam diri saya
Konten dari Pengguna
10 Maret 2023 13:28
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Ferdiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: Kemendikbudristek
Pendidikan menjadi pembicaraan menarik untuk didiskusikan dan diperdebatkan. Sebab, tidak sedikit permasalahannya dari kurikulum yang bergonta-ganti, guru tidak berkualitas, sarana dan prasarana tidak memadai, juga membeda-bedakan orang yang memiliki kemampuan dari kognitifnya. Kemudian, hari ini di tambah permasalahan yang baru yaitu eksploitasi kapitalisme di ranah pendidikan di Indonesia.
Pendidikan adalah sarana untuk memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan guna memiliki kepribadian yang baik serta berwawasan luas. Sebab tanpa adanya pendidikan kehidupan manusia akan mengalami kesulitan peningkatan dan kemajuan.
Seperti apa yang dikatakan oleh Auguste Comte, kalau kehidupan intelektual belum tertata, maka kehidupan sosial juga tidak akan tertata. Maka dari itu pendidikan merupakan salah satu pilar terpenting dalam kemajuan bangsa.
Oleh karenanya, para pendiri Repuplik Indonesia menetapkan salah satu amanah dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa dan setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana tertera Pasal 31 Ayat 1 UUD 1945.
Dalam hal ini pendidikan sejatinya merupakan hak dasar mutlak harus diperoleh oleh semua orang tanpa terkecuali. Bukan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok orang atau elite tertentu.
Namun kenyataannya, hari ini pendidikan sering kali masih dirasakan oleh masyarakat miskin sebagai beban yang berat. Tidak sedikit dari anak meraka yang tidak memperoleh pendidikan sampai ke bangku perkuliahan karena disebabkan ketiadaan biaya.
Diskusi mahasiswa Foto: Dok. ITS
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi mahasiswa Foto: Dok. ITS
Pendidikan menjadi barang mahal yang amat sulit didapat bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun tidak bagi kaum elite. Mereka mudah mendapatkannya.
Hal ini dapat kita lihat dari kasus mantan rektor Unila, Karomani, yang menerima suap dari calon mahasiswa agar dapat berkuliah dengan mudah tanpa melalui seleksi yang sulit. Tidak seperti apa yang dilakukan oleh orang miskin. Mereka harus melalui jalur seleksi yang sulit untuk mendapatkannya. Bahkan, terkadang ketika mereka mendapatkannya diganti oleh orang yang memiliki uang.
kemudian institusi pendidikan yang bernama sekolah adalah bagian dari industri. Sebab sekolah adalah penyedia tenaga kerja/buruh bagi industri. Sekolah dijadikan lahan suburnya kapitalisme yang mengakibatkan praktik-praktik sekolah yang cenderung mengarah kepada kontrol ekonomi oleh kaum elite dan pendidikan dijadikan tujuan pengetahuan sebatas mengejar keuntungan.
Akibatnya pendidikan menghilangkan nilai-nilai fundamental yang ada di dalam pendidikan. Dalam hal ini menandakan pendidikan di Indonesia hari ini telah dieksploitasi kapitalisme, di mana orang yang memiliki modal lebih mudah mendapatkan pendidikan.
Oleh sebab itu tidak sedikit anak orang miskin disekolahkan di sekolah menengah kejuruan (SMK), karena ingin anaknya setelah lulus langsung bisa bekerja. Karena mereka yakin tidak akan mampu menyekolahkan anaknya ke bangku perkuliahan mengingat biaya yang akan di keluarkan tidak sedikit.
Meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan memberikan bantuan operasional (BOS) dan beasiswa bidik misi. Namun bagi penulis kebijakan tersebut hanya sebagai alat mendinginkan tensi yang tinggi dari masyarakat yang menolak kebijakan kapitalisme di pendidikan Indonesia.
Adapun dapat kita lihat bahwa pendidikan Indonesia masih lebih banyak memihak kepada orang kaya. Di mana orang kaya bisa mendapatkan fasilitas yang berkualitas dari segi infrastruktur maupun pengajar.
Akibatnya, kualitas sumberdaya manusia tidak merata di Indonesia. Lembaga pendidikan saat ini sudah tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia (humanisasi) atau lembaga yang berperan dalam proses pembangunan negara peradaban (civilizational states), melainkan hari ini menjadi lahan pendapatan bagi para pengolola pendidikan.
Dalam hal ini, pendidikan layaknya korporasi yang hanya memikirkan profit oriented. Tidak heran, jika pendidikan semakin hari melonjak biayanya. Saat ini hampir mustahil menemukan biaya pendidikan yang bisa dijangkau oleh orang bawah (miskin), terkhususnya bagi pendidikan yang bermutu.
Semakin bagus fasilitasnya, semakin besar pula uang yang harus dikeluarkan peserta didik. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Permasalahan yang timbul juga sifat pragmatisme dari peserta didik.
Hal ini merupakan malapetaka besar bagi masa depan bangsa, khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan transformasi nilai-nilai kebangsaan. Apalagi berjuang dan melakukan advokasi terhadap pemberdayaan kaum-kaum marjinal. Sebaliknya, yang ada dalam benak peserta didik saat ini hanyalah bagaimana cepat mendapatkan ijazah, profesi yang bergengsi, cepat kaya, dan hidup mewah.
Berdasarkan uraian di atas, pendidikan bisa dibilang sebagai bidang kehidupan manusia yang paling vital dan fundamental bagi proses menuju bangsa yang cerdas sehingga berujung pada kesejahteraan dan kemakmuran. Namun, eksploitasi kapitalisme di ranah pendidikan telah melahirkan mental yang jauh dari cita-cita pendidikan, sebagai praktik pembebasan, dan agenda pembudayaan.
Sekolah saat ini tidak lagi mengembangkan semangat belajar yang sebenarnya, tetapi menjadi pelayan kepitalisme. Sekolah saat ini tidak menanamkan kecintaan kepada ilmu atau mengajarkan keadilan, antikorupsi, atau anti penindasan.
Jangan heran jika bangsa Indonesia belum maju. Sebab pendidikannya hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Kemudian juga jangan heran kalau suatu hari nanti tidak ada lagi masyarakat yang peduli terhadap permasalahan bangsanya sendiri.