Entertainment
·
25 Agustus 2021 11:47
·
waktu baca 7 menit

'Wonderland Indonesia' dalam Lensa Diplomasi Budaya di Era Digital

Konten ini diproduksi oleh Ferdian Ahya Al Putra
'Wonderland Indonesia' dalam Lensa Diplomasi Budaya di Era Digital (37580)
searchPerbesar
Alffy Rev mebawa bendera merah putih di atas bukit. Foto: Tangkapan Layar dalam "Wonderland Indonesia".
Tepat pada 17 Agustus 2021 pukul 19.45, sebuah mahakarya diterbitkan oleh Youtuber asal Indonesia, Alffy Rev dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Setiap tahunnya, pada momen tertentu pria bernama lengkap Awwalur Rizqi Al-firofi ini selalu mempersembahkan karyanya bagi Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pada momen kemerdekaan kali ini, Alffy Rev, dengan menggandeng Novia Bachmid membuat karya yang bertajuk "Wonderland Indonesia". Sedangkan, Novia Bachmid sendiri merupakan penyanyi asal Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara yang juga jebolan beberapa ajang pencarian bakat di Indonesia, seperti Indonesian Idol.
Wonderland Indonesia menceritakan Indonesia sebagai negeri yang ajaib dengan menampilkan ragam kebudayaan Indonesia mulai dari lagu daerah, pakaian adat, hingga rumah adat dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Hingga 25 Agustus 2021, "Wonderland Indonesia" telah ditonton lebih dari 8,4 juta pengguna Youtube dari berbagai dunia serta menjadi trending pertama di Youtube, khususnya pada kategori musik.
Berbicara mengenai musik dalam ranah yang lebih luas, berhubungan erat dengan penggunaannya sebagai instrumen diplomasi, khususnya diplomasi budaya. Dalam tulisan Pajtinka (2014), disebutkan bahwa konsep Diplomasi Budaya didefinisikan secara beragam oleh berbagai tokoh. Kurucz (2007) misalnya, yang berpendapat bahwa Diplomasi Budaya merupakan suatu kegiatan khusus yang berorientasi pada pertukaran nilai-nilai budaya, yang sejalan dengan tujuan politik luar negeri.
ADVERTISEMENT
Kemudian, Berridge dan James (2003), mendefinisikannya sebagai upaya untuk mempromosikan prestasi budaya negara ke luar negeri. Sedangkan, Hubinger (2006), menjelaskan bahwa itu merupakan instrumen penting kebijakan luar negeri negara, yang terkait dengan presentasi, promosi, dan pembangunan citra positif suatu negara, melalui kegiatan budaya.
Sejatinya, terdapat berbagai penelitian mengenai penggunaan musik sebagai instrumen diplomasi. Rizky (2017) meneliti mengenai diplomasi Hip-Hop Amerika Serikat. Sedangkan, Marpaung (2019) menulis mengenai pemanfaatan program One Beat oleh pemerintahan presiden Obama sebagai strategi diplomasi musik Amerika Serikat. Kemudian, Trisni dkk (2019) mendiskusikan peran pemerintah Korea dalam diplomasi publik yang mendukung Korean Wave, yang turut berbicara mengenai K-Pop.
Dalam perkembangannya, aktivitas yang berhubungan dengan diplomasi, khususnya diplomasi budaya, tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah suatu negara melainkan dapat dilakukan pula oleh masyarakat di dalamnya. Ini menunjukkan bahwasanya diplomasi bersifat fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
ADVERTISEMENT
Karya yang dihasilkan oleh Alffy Rev ini dapat dikatakan sebagai bagian dari diplomasi budaya yang penerapannya memanfaatkan kemajuan teknologi, serta berhubungan erat dengan diplomasi di era digital. Dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia, diplomasi di era digital mengacu pada pemanfaatan berbagai platform media sosial dan inovasi lain berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam melakukan tujuan diplomatik.
Wonderland Indonesia memanfaatkan Youtube sebagai platform untuk memperkenalkan seni dan kebudayaan Indonesia. Dalam karya tersebut, terdapat 9 lagu daerah dan 1 lagu perjuangan yang dikemas dalam bentuk medley. Kesepuluh lagu tersebut meliputi Paris Barantai-Kalimantan (ciptaan: H. Anang Ardiansyah), Si Patokaan-Sulawesi Utara (ciptaan: N.N), Sajojo-Papua (ciptaan: R.H. Hardjosubroto), Janger-Bali (ciptaan: I Gede Dharna), Anak Kambing Saya-NTT (ciptaan: Ibu Sud), Manuk Dadali-Jawa Barat (ciptaan: Sambas Mangundikarta), Lelo Ledhung-Jawa Tengah (ciptaan: Markasan), Kampuang nan Jauh di Mato-Sumatera Barat (ciptaan: Oslan Husein), Soleram-Riau (ciptaan: Muhammad Arief), dan Bagimu Negeri (ciptaan: Kusbini).
ADVERTISEMENT
Pengemasan unsur-unsur kebudayaan di dalamnya disusun sedemikian rupa hingga mampu memberikan daya tarik kepada warganet dari berbagai dunia untuk memberikan respons pada karya tersebut serta memahami lebih dalam mengenai Indonesia. Frank Valchiria misalnya, yang penasaran apakah berbagai latar seperti rumah adat, dan berbagai unsur lain di dalamnya merepresentasikan sesuatu tentang Indonesia. Hal yang senada juga disampaikan oleh pemilik saluran The Life of Tinos, yang berusaha mencari tahu mengenai provinsi atau daerah berdasarkan lagu-lagu daerah yang disajikan dalam Wonderland Indonesia.
Sedangkan, pemilik saluran drew Nation bertanya-tanya mengenai salah satu instrumen yang dimainkan Alffy. Instrumen tersebut merujuk pada alat musik yang berasal dari masyarakat Dayak, Kalimantan yang bernama Sape'. Selain menampilkan unsur budaya, Wonderland Indonesia menyajikan perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaannya, yang nampak pada rekaman proklamasi oleh Presiden Soekarno yang diikuti oleh paduan suara dengan membawakan lagu 'Bagimu Negeri' beserta lirik dan terjemahannya.
ADVERTISEMENT
Nampaknya, Alffy dan seluruh pihak yang terlibat berhasil membangun atmosfer dalam Wonderland Indonesia, sehingga mampu menggetarkan mereka yang bahkan bukan berasal dari Indonesia. Hal ini dirasakan oleh berbagai pemilik saluran di Youtube, seperti pemilik saluran yan cobain studio dan Adifasha Eren asal Malaysia yang dibuat merinding olehnya. Bahkan, pemilik akun Joyceflang Vlog asal Filipina pun sampai menangis ketika menyaksikan video tersebut. Sementara itu, pemilik akun Disfunktional TeeVee, menyebutkan bahwa ini merupakan salah satu proyek musik terbaik yang pernah ia saksikan.
Beberapa pendapat di atas merupakan sedikit dari banyak pujian yang dilontarkan terhadap karya Alffy dan seluruh pihak yang terlibat. Dalam prosesnya, karya yang memadukan kondisi nyata dan penggunaan teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) ini menghadapi berbagai tantangan, khususnya keterbatasan pada pembiayaan dan pembuatan di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali.
ADVERTISEMENT
Dalam tayangan yang bertajuk Behind The Scenes of Wonderland Indonesia (Episode 1), Alffy menuturkan bahwa proyek ini berawal dari keprihatinan mereka pada kondisi Bali yang terpuruk akibat pandemi. "Warganya sedang butuh sebuah momen mereka harus bangkit gitu lho, jadi aku pun mau liburan kayak merasa enggak sih aku ga bisa seneng-seneng doang, sedangkan rakyat Balinya sedang butuh sesuatu untuk mereka pulih," ungkapnya.
Keprihatinan tersebut mendorong mereka untuk mempersembahkan sebuah karya untuk Bali. Ia juga tersentuh dengan keinginan kuat masyarakat Bali yang ingin mengangkat kesenian meskipun memiliki keterbatasan dari segi biaya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, mereka sepakat mengubah dari yang sebelumnya bertajuk Wonderland Bali menjadi Wonderland Indonesia. Mereka berkarya di Bali, tetapi dipersembahkan untuk Indonesia.
ADVERTISEMENT
Ia menuturkan kesulitan finansial yang dialami dalam proses awal produksi, yang seharusnya dapat didukung oleh pihak-pihak tertentu. Sampai akhirnya mereka bergerilya di media sosial dan memperoleh dukungan dari Doni Salmanan, yang merupakan trader saham sekaligus Youtuber, sehingga karya ini dapat berlanjut. Dalam mempersembahkan karya untuk Indonesia, Alffy memang selalu totalitas. Bahkan, dalam karya sebelumnya yang berjudul "The beauty of Bali", ia rela menjual mobilnya untuk biaya produksi.
Tentu ini suatu ironi ketika ada seorang kreator muda yang berjuang untuk masyarakat dan negara justru kurang memperoleh dukungan dari pemerintah, meskipun pada akhirnya memperoleh dukungan dari Kementerian Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek). Langkah ini tentu perlu ditingkatkan dan diperluas lagi ke depannya, sehingga kreator-kreator lokal tidak berjuang sendiri dalam berkarya. Pemerintah, terutama kementerian terkait perlu melihat ini sebagai peluang diplomasi budaya yang proses produksinya memerlukan sinergi oleh berbagai pihak, baik dari content creator, sejarawan, hingga seniman.
ADVERTISEMENT
Bagaimana pun juga, apa yang dihasilkan oleh Alffy dan seluruh tim ini merupakan langkah untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke seluruh dunia melalui musik, sehingga manfaatnya pun dapat dirasakan oleh masyarakat. Dikutip dari bbc.com, Alffy memang dari dulu memiliki keinginan kuat untuk membuat dunia memandang Indonesia sebagai negara yang berkelas melalui karyanya. Ia turut menuturkan bahwa ia ingin menanamkan nilai-nilai kebangsaan dari lagu nasional melalui karyanya, sehingga harapannya lagu nasional dapat sejajar di tengah lagu-lagu barat yang masuk ke Indonesia.
Ini merupakan langkah yang strategis, ketika ia berhasil mengkombinasikan instrumen tradisional dengan instrumen modern sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat seiring berkembangnya zaman. Terlebih lagi di era digital saat ini, survei oleh Hootsuite menujukkan bahwa akses terhadap internet dan media sosial mengalami peningkatan dari tahun 2019 ke 2020 dengan masing-masing sebesar 7% dan 9,2%. Dengan demikian, karya anak bangsa, khususnya yang berhubungan dengan budaya Indonesia memiliki kemungkinan lebih besar untuk disaksikan oleh masyarakat dunia.
ADVERTISEMENT
Wonderland Indonesia ditutup dengan menampilkan manifestasi dari Antaboga dan Garuda, yang dalam pewayangan jawa kuno dianggap sebagai raja ular penjaga perut bumi, dan penguasa “dunia bawah”. Ia turut menyampaikan bahwa Sosok Antaboga atau Naga ini melekat pada budaya jawa dan bali, yang biasanya terdapat pada ukiran gamelan, gerbang maupun gapura sebagai simbol “penjaga”. Kemudian ia mengembangkannya dengan perpaduan kegagahan Garuda dengan sayapnya sebagai sebuah simbol penjaga dunia atas dan bawah.
Dengan kata lain, karya ini berusaha menarasikan Indonesia sebagai negara yang memiliki sejarah yang kuat dan beragam, dengan sosok Antaboga yang secara tersirat menunjukkan kegagahan Indonesia sebagai suatu negara. Dalam deskripsi disebutkan pula mengenai lokasi yang digunakan untuk pengambilan gambar, sehingga harapannya ini dapat menarik wisatawan mancanegara untuk mengunjungi Indonesia pasca pandemi.
ADVERTISEMENT
Secara keseluruhan, dapat dipahami bahwa Alffy dan tim mengkombinasikan musik, kebudayaan, sejarah, hingga teknologi dalam suatu karya yang berdurasi kurang lebih 10 menit dengan apik. Berbagai review menunjukkan bahwa karya tersebut berhasil membuktikan pada dunia, kreator asal Indonesia dapat menghasilkan karya yang berkelas.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020