Konten dari Pengguna

Drakor Membentuk Standar Cinta, Ibnu Hazm Mengingatkan Kita untuk Waras

Ferdiansyah Ishaq

Ferdiansyah Ishaq

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ferdiansyah Ishaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto : Generate AI
zoom-in-whitePerbesar
foto : Generate AI

Bagi banyak anak muda, drama Korea bukan sekadar tontonan pengisi waktu luang. Ia menjadi ruang belajar emosional—tempat mengenali bagaimana cinta seharusnya dirasakan, diucapkan, dan diperjuangkan. Dari sana, perlahan terbentuk keyakinan diam-diam: bahwa cinta yang ideal mestilah menggugah, intens, dan selalu berarti. Bukan cinta yang biasa-biasa saja.

Masalahnya bukan pada drakor itu sendiri, melainkan pada cara ia menetap terlalu lama di kepala.

Dalam cerita-cerita itu, cinta bergerak cepat dan penuh kepastian. Dua manusia bisa saling menemukan hanya lewat tatapan singkat, lalu bertahan dari badai apa pun dengan satu pelukan atau pengakuan emosional. Sosok pasangan hadir nyaris sempurna—selalu tahu kapan harus datang, kapan harus mengerti, dan kapan harus berkorban. Cinta terasa seperti takdir yang sudah dirapikan naskahnya.

Tanpa disadari, cara pandang semacam ini membentuk harapan. Bukan harapan yang disadari secara rasional, tetapi yang bersemayam di bawah sadar: bahwa cinta yang tidak menggetarkan mungkin tidak cukup cinta. Bahwa hubungan yang sunyi dari drama barangkali kurang layak diperjuangkan.

Ketika harapan itu dibawa ke dunia nyata, benturannya tak terelakkan, di kehidupan sehari-hari, cinta justru sering hadir dalam bentuk yang tidak sinematis. Ia lahir dari percakapan yang canggung, dari kesalahpahaman yang berulang, dari upaya saling memahami di tengah keterbatasan ekonomi, waktu, dan emosi. Tidak ada musik latar yang menguatkan perasaan. Tidak ada kepastian bahwa semua luka akan pulih dalam satu episode.

Di titik inilah banyak orang mulai kecewa—bukan karena pasangannya buruk, melainkan karena realitas tidak seindah imajinasi.

Cinta lalu berubah menjadi proyek pembuktian. Pasangan diuji: seberapa romantis, seberapa berkorban, seberapa mirip tokoh drama. Hubungan tidak lagi menjadi ruang bertumbuh, melainkan panggung perbandingan. Yang sederhana dianggap kurang usaha, yang tenang dianggap kurang cinta.

Padahal, tradisi pemikiran lama telah lama mengingatkan bahwa cinta tidak bekerja seperti itu.

Ibnu Hazm, melalui Ṭauq al-Ḥamāmah (Kalung Merpati), tidak memandang cinta sebagai ledakan emosi yang harus selalu ditampilkan. Ia melihat cinta sebagai kecocokan batin yang tenang, sesuatu yang tumbuh tanpa perlu pamer pengorbanan. Dalam pandangannya, cinta tidak memusuhi akal dan tidak menuntut kehancuran diri demi membuktikan kesetiaan.

Berbeda dengan narasi populer yang memuja pengorbanan ekstrem, Ibnu Hazm justru berhati-hati. Baginya, cinta yang membuat seseorang kehilangan martabat, nalar, dan nilai hidup bukanlah cinta yang layak dirayakan. Ia hanyalah keinginan yang tersamar oleh perasaan.

Yang menarik, Ibnu Hazm juga tidak menjadikan “bersatu” sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan cinta. Ada cinta yang berakhir tanpa kebersamaan, namun tetap bermakna karena dijaga dengan adab dan kejujuran. Cinta semacam ini tidak kalah bernilai, meski tidak memiliki akhir bahagia yang bisa dipamerkan.

Pandangan ini terasa asing di zaman sekarang—zaman yang gemar mengukur cinta dari seberapa lama bertahan dan seberapa dramatis diperjuangkan.

Maka mungkin yang perlu dikaji ulang bukan drakornya, melainkan cara kita menggunakannya sebagai lensa hidup. Ketika fiksi dijadikan standar, realitas hampir selalu tampak mengecewakan. Padahal, cinta di dunia nyata memang tidak dibuat untuk menghibur penonton.

Ia dibuat untuk dijalani.

Cinta yang nyata sering kali sunyi, tidak viral, dan tidak heroik. Namun justru di sanalah ia paling manusiawi: jujur, rapuh, dan menuntut tanggung jawab. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan instan, tetapi menawarkan kedewasaan.

Maka biarlah drakor tetap menjadi cerita—indah di layar, selesai di episode terakhir. Sementara cinta, sebagaimana diingatkan para pemikir lama, kita rawat sebagai laku hidup: dengan kesadaran, keseimbangan, dan akal sehat.

Sebab cinta yang paling bertahan bukan yang paling gemerlap, melainkan yang tetap utuh ketika romantisme tidak lagi bekerja.