News
·
29 Desember 2020 18:08

PISA: Skor Pendidikan Indonesia Masih di Bawah Rata-rata Dunia

Konten ini diproduksi oleh Ferdy Ramesyah
PISA: Skor Pendidikan Indonesia Masih di Bawah Rata-rata Dunia (70315)
siswapelajar.com
Kualitas Pendidikan negara di seluruh dunia telah disurvei dalam 3 tahun sekali oleh , dan dalam survei kualtias Pendidikan tersebut tiap negara akan diukur kualitasnya dan akan diberikan skor agar dapat diketahui di tingkat berapa negara tersebut akan berdiri. Programme for International Student Assessment (PISA) adalah yang mensurvei dan memberikan peringkat untuk kualitas Pendidikan seluruh negara di dunia, mereka mensurvei dengan mengambil sampel para siswa dari umur 15 tahun keatas dan mengukur kinerja para siswa pada tiga bagian utama yaitu matematika, sains dan literasi. Indonesia mulai berpartisipasi dalam PISA pada tahun 2000 yang merupakan awal pertama kali PISA diadakan, pada saat itu PISA hanya diisi oleh 41 negara, pada 3 periode berikutnya yaitu tahun 2009 negara yang berpatrisipasi bertambah menjadi 65 negara, dan pada tahun 2015 bertambah lagi menjadi 72 negara yang berpartisipasi, hingga pada tahun 2018 partisipan PISA sudah 79 negara dan sudah mengukur kemampuan 600 ribu anak.
ADVERTISEMENT
Survei PISA
Beberapa tahun lalu yaitu tahun 2018, The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengumumkan hasil survei Programme for International Student Assesment (PISA) yang mendapatkan peringkat kurang memuaskan seperti tahun-tahun sebelumnya, berdasarkan survei dan data yang diterbitkan oleh OECD pada periode 2009 sampai 2015 Indonesia menetap pada peringkat 10 terbawah yang berarti mendapatkan skor yang hampir selalu dibawah rata-rata. Pada survei tahun 2018 tersebut, survei menyatakan bahwa siswa Indonesia berada pada peringkat yang sangat rendah pada ketiga kategori yang ada yaitu matematika, sains dan membaca, pada kategori membaca Indonesia mendapatkan peringkat 6 terendah (73 dari 79 negara) dengan skor rata-ratanya adalah 371 yang berarti mengalami penurunan jika sebelumnya pada tahun 2015 berada pada peringkat ke 64. Pada kategori matematika, Indonesia menempati peringkat ke-7 paling rendah (72 dari 79 negara) dengan skor rata-ratanya adalah 379 yang berarti juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2015 Indonesia berdiri pada peringkat 63. dan pada kategori terakhir yaitu sains, Indonesia berada pada peringkat ke-9 terendah (70 dari 79 negara) dengan skor rata-ratanya adalah 396, pada kategori ini Indonesia juga mengalami penurunan dari tahun sebelumnya tahun 2015 Indonesia berdiri di peringkat 62.
ADVERTISEMENT
Pada survei PISA tahun 2018 ini, negara yang mendapatkan 2 peringkat tertinggi adalah China (590) dan Singapura (551), dalam pemahaman literasi China mendapatkan skor 555 dan Singapura 549, untuk matematika china mendapatkan skor 591 dan Singapura mendapatkan skor 569, dan untuk kategori sains China mendapatkan skor 590 dan Singapura 551, pada laporan survei tersebut dituliskan bahwa “Rata-Rata skor dunia untuk literasi adalah 487, matematika 489, dan sains 498”.
Dapat kita ketahui dari rata-rata skor dunia tersebut, Indonesia masih berada dibawah rata-rata dalam ketiga kategorinya (kemampuan literasi, matematika dan sains), seperti berita yang diterbirkan oleh Antara, Indonesia sudah berpartisipasi dalam PISA sedari awal PISA diadakan, yang berarti sudah 18 tahun hingga penilaian terakhir pada tahun 2018, namun selama 18 tahun penilaian itu skor kemampuan siswa tidak pernah berada di atas skor standar dunia. Pada tahun 2000 saat PISA pertama kali diadakan, Indonesia berdiri di peringkat 39 dari 41 negara untuk kategori kemampuan literasi dan matematika, sedangkan untuk sains Indonesia berada di urutan 38, pada periode berikutnya tahun 2003 kemampuan literasi siswa Indonesia sempat mengalami penaikan menjadi peringkat ke-29, sementara untuk matematika dan sains menetap pada peringkat ke-38. Pada dua periode yang berikutnya yaitu tahun 2009, kemampuan literasi siswa Indonesia berada di peringkat 57 dari 65 negara, matematika 61 dari 65 negara, dan sains 60 dari 65 negara, lalu pada periode berikutnya tahun 2012 peringkat tersebut kembali menurun ke peringkat 61 untuk literasi, peringkat 65 untuk matematika dan sains.
ADVERTISEMENT
Faktor atau permasalahan
Dalam kualitas pendidikan Indonesia yang masih buruk atau rendah hingga sekarang ini, terdapat banyak sekali faktor-faktor penyebabnya, salah satunya adalah yang dikemukakan oleh pengamat pendidikan Budi Trikoyanto, menurutnya ada 3 permasalahan dalam pendidikan Indonesia, yaitu:
1. Kualitas pengajarnya, menurutnya kompetensi guru-guru Indonesia masih berada pada tingkat yang sangat rendah, sedangkan untuk menciptakan murid-murid yang cerdas dan berkualitas sangat bergantung pada pengajar dan memerlukan pengajar yang kompeten, tidak hanya kompeten, penjelasan yang baik dalam menyampaikan pembelajaran tidak kalah penting, dan pengajar yang kreatif dan inovatif juga diperlukan untuk dapat menarik perhatian dan keinginan para murid untuk lebih mendalami pelajaran dan lebih fokus dalam proses pembelajaran.
2. Sistem pendidikan yang membelenggu, di era pendidikan 4.0 atau pada era sekarang ini, narasumber utama seharusnya bukan hanya dari guru saja dan tidak berpatokan pada guru, melainkan harus didampingi dengan sumber-sumber lainnya, untuk itu murid-murid harus diedukasikan untuk menjadi lebih aktif dan belajar dengan mencari sendiri sumber-sumber yang ada seperti melalui situs-situs terpercaya di internet dan sumber lainnya yang berada diluar sekolah, dengan mencari tahu sendiri juga dapat membuat murid lebih memahami suatu pelajaran, terlebih lagi jika itu sesuai minat dan bakatnya.
ADVERTISEMENT
3. Lembaga pendidikan perlu pembenahan, menurut Budi kualitas lembaga pendidikan yang merekrut guru-guru di masa depan harus ditingkatkan agar terciptanya guru atau penagajar yang berkualitas, ia mencotohkan salah satunya yaitu Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).
Dalam pendidikan kita waktu sekolah, tidak jarang kita menemukan guru pengajar kita yang tidak sesuai dengan bindang yang dimilikinya atau mengajar dua mata pelajaran yang mungkin sebenarnya guru tersebut hanya benar-benar menguasai satu mata pelajaran saja, misalnya seperti guru yang mengajar dan berasal dari lulusan sains, seringkali guru tersebut menjadi pengajar juga dalam pelajaran matematika, mungkin hal ini terjadi karena pada dasarnya sains (khususnya fisika) juga berdampingan dengan matematika, akan tetapi hal ini tidak menjamin pengajar yang mempunyai bidang sains menguasai atau sangat ahli dalam matematika, dan dengan begitu hal ini akan sangat berpengaruh pada kemampuan murid-murid juga
ADVERTISEMENT
Kurangnya sarana dan prasarana juga cukup berpengaruh dalam kualitas pendidikan di Indonesia yang masih rendah, misalnya seperti masih banyaknya sekolah dan perguruan tinggi yang tidak memiliki perpustakaan yang cukup layak dan lengkap, teknologi yang tidak memadai, sarana atau alat untuk mendukung proses pembelajaran tidak memadai, dan tidak memiliki laboratorium.
Referensi:
https://tirto.id/alasan-mengapa-kualitas-pisa-siswa-indonesia-buruk-enfy
https://www.kompasiana.com/snffebui/5dea57aa097f363f960bfbb2/pisa-bagaimana-kondisi-pendidikan-indonesia-saat-ini
https://mahasiswaindonesia.id/kualitas-pendidikan-di-indonesia-rendah-apa-penyebabnya/
https://news.detik.com/dw/d-4811907/peringkat-6-terbawah-indonesia-diminta-tinggalkan-sistem-pendidikan-feodalistik