UPNVJ Ajak Siswa MA Al-Nahdlah Depok Pelajari PLTS Off-Grid dengan Solar Tracker

Dosen Teknik Elektro Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ferdyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Depok – Pengenalan energi terbarukan kepada pelajar tidak hanya dapat dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Pengalaman melihat dan mencoba teknologi secara langsung dapat membantu siswa memahami bagaimana konsep yang dipelajari bekerja dalam kehidupan nyata.

Di tengah kebutuhan energi bersih yang semakin mendesak, ruang kelas tidak lagi cukup hanya menjadi tempat menghafal teori kelistrikan. Sekolah dituntut menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan konsep sains dan teknologi dengan persoalan nyata di masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menghadirkan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa pengenalan dan praktik Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid dengan Solar Tracker Single Axis. Kegiatan yang berlangsung pada 12 Agustus 2026 ini diikuti oleh 40 siswa/i.
Lebih dari sekadar penyampaian materi, program tersebut menjadi ruang praktik langsung yang memperkenalkan panel surya, sistem penyimpanan energi, sensor, aktuator, serta mikrokontroler dalam satu kesatuan media pembelajaran. Mengusung semangat “pembelajaran berbasis praktik”, kegiatan dirancang untuk membantu siswa memahami bagaimana energi matahari dapat dikonversi menjadi listrik, sekaligus bagaimana sistem kontrol otomatis mengoptimalkan penerimaan radiasi matahari sepanjang hari.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Ir. Ferdyanto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa keberadaan instalasi PLTS di sekolah seharusnya tidak berhenti sebagai fasilitas penunjang kelistrikan semata. “Sistem PLTS yang sudah ada di sekolah belum dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang terstruktur. Padahal, ini potensi besar untuk memperkenalkan energi terbarukan, sistem kontrol, dan sensor kepada siswa,” ujarnya. Menurutnya, pembelajaran praktik seperti ini penting agar siswa tidak hanya mengenal komponen, tetapi juga mampu mengukur, menganalisis, dan menarik kesimpulan dari data yang mereka peroleh secara langsung.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta doa bersama. Selanjutnya para siswa mengikuti pre-test untuk memetakan pemahaman awal mengenai PLTS dan komponen solar tracker. Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Tim PKM UPNVJ memperkenalkan konsep dasar PLTS off-grid, prinsip kerja sel fotovoltaik, serta perbedaan antara panel surya statis dan panel pelacak matahari.
Sesi demonstrasi prototipe menjadi bagian yang paling menarik perhatian peserta. Siswa tidak hanya mengamati cara kerja sistem, tetapi juga diberi kesempatan untuk melakukan pengujian sensor LDR, mengukur keluaran panel surya, serta melihat langsung respons pergerakan panel terhadap perubahan arah cahaya. “Siswa terlihat antusias ketika mencoba alat secara langsung, khususnya saat melakukan pengujian sensor dan mengamati respons pergerakan panel,” tambah Ferdyanto.
Prototipe tersebut menggunakan panel surya 20 Wp, solar charge controller, baterai, beban, dua sensor LDR, mikrokontroler ESP32, motor driver L298N, serta motor DC gearbox. Sistem solar tracker bekerja dengan membandingkan intensitas cahaya yang diterima oleh dua sensor LDR. Perbedaan pembacaan sensor kemudian digunakan sebagai dasar pengendalian motor untuk mengarahkan posisi panel.
Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat aktif mengikuti penyampaian materi dan demonstrasi. Setelah materi diberikan, beberapa siswa mengajukan pertanyaan untuk mengetahui lebih jauh mengenai PLTS dan cara kerja prototipe.
Antusiasme juga terlihat ketika siswa diberikan kesempatan untuk mencoba alat secara langsung. Selain melakukan pengujian sensor dan pengukuran keluaran sistem, siswa memanfaatkan sesi tersebut untuk bertanya mengenai komponen dan proses kerja solar tracker.
Salah satu siswa menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya dilakukan melalui teori.
“Acaranya lumayan seru dan juga banyak ilmu yang didapat dari acara ini. Kita belajar banyak tentang ilmu tenaga surya. Acaranya asik, menarik, dan penyampaian materinya lumayan bagus, sehingga mudah dipahami.”
Siswa lainnya juga menyoroti kegiatan demonstrasi dan praktik sebagai bagian yang menarik dalam kegiatan tersebut.
“Materinya asik dan tidak membosankan, apalagi waktu demonstrasi prototipe. Sebelumnya kita hanya belajar PLTS secara tekstual atau teori, tetapi tadi belajar secara langsung dan praktik.”
Selain memberikan pengalaman praktik, kegiatan juga dievaluasi melalui pre-test dan post-test. Dari 40 siswa yang mengikuti kedua tahapan tes, rata-rata nilai meningkat dari 42,75 pada pre-test menjadi 61,75 pada post-test. Dengan demikian, rata-rata nilai mengalami peningkatan sebesar 19,00 poin.
Dari keseluruhan peserta yang mengikuti kedua tes, sebanyak 32 siswa mengalami peningkatan nilai, tiga siswa memperoleh nilai yang sama, dan lima siswa mengalami penurunan. Hasil tersebut menjadi salah satu indikator adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian kegiatan, meskipun perubahan hasil setiap siswa berbeda.
Peserta juga mengisi kuesioner untuk memberikan penilaian terhadap kegiatan. Dari 400 respons yang terkumpul, rata-rata skor yang diperoleh adalah 3,96 dari skala 5. Respons pada skala 5 mencapai 40,0 persen, sedangkan skala 4 sebesar 28,5 persen.
Sebagai luaran, tim telah menghasilkan prototipe PLTS off-grid dengan solar tracker single axis, modul bahan ajar praktik, serta dokumentasi kegiatan. Prototipe dan modul tersebut diserahkan kepada pihak sekolah untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai media pembelajaran.
Bagi pihak sekolah, keberadaan prototipe juga diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran mengenai energi terbarukan.
Kepala MA Al-Nahdlah menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh UPNVJ.
“Terima kasih atas kerja sama dari UPNVJ, dari FT terutama konsentrasi TTL, yang telah melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat yaitu berupa penjelasan PLTS. Acaranya sangat bermanfaat bagi kami dan siswa kami dalam memahami apa itu PLTS.”
Ia juga menyampaikan bahwa prototipe yang diberikan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
“Terkait prototipe yang diberikan bisa kami aplikasikan dalam program KBM di kelas. Semoga alat tersebut dapat bermanfaat dan menambah wawasan dan mengerti apa itu PLTS.”
Meski mendapatkan respons yang cenderung positif, hasil evaluasi juga memberikan beberapa masukan untuk pelaksanaan berikutnya. Sejumlah siswa mengharapkan materi disampaikan dengan tempo yang lebih perlahan dan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.
Peserta juga memberikan masukan agar waktu praktik diperpanjang sehingga siswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk mencoba alat, melakukan pengukuran, dan memahami respons sistem secara langsung. Masukan lainnya berkaitan dengan pembelajaran yang lebih interaktif agar peserta dapat terlibat lebih aktif selama kegiatan.
Masukan tersebut menjadi bahan bagi tim untuk mengembangkan metode penyampaian materi, memperbaiki modul bahan ajar, serta meningkatkan pelaksanaan praktik pada kegiatan berikutnya.
Dengan demikian, kegiatan PKM ini tidak hanya menghasilkan prototipe PLTS off-grid dengan solar tracker single axis dan modul bahan ajar praktik, tetapi juga memberikan pengalaman pembelajaran secara langsung kepada siswa MA Al-Nahdlah Depok. Fasilitas PLTS yang telah tersedia di sekolah kini dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai sumber listrik tambahan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran energi terbarukan, sistem kontrol, sensor, dan aktuator bagi generasi muda.
