Konten dari Pengguna

AI Semakin Pintar, Apakah Pekerja Sosial Masih Dibutuhkan?

Feri Setiadi

Feri Setiadi

Pekeja Sosial

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Feri Setiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI dapat meningkatkan efisiensi layanan, tetapi tidak dapat menggantikan empati dan hubungan kemanusiaan. (Ilustrasi: AI)
zoom-in-whitePerbesar
AI dapat meningkatkan efisiensi layanan, tetapi tidak dapat menggantikan empati dan hubungan kemanusiaan. (Ilustrasi: AI)

Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu menulis laporan, menjawab pertanyaan, bahkan memberikan saran psikologis dalam hitungan detik, muncul pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah profesi yang mengandalkan hubungan antarmanusia, seperti pekerja sosial, masih akan dibutuhkan?

Sekilas, AI memang terlihat mampu menggantikan sebagian pekerjaan administratif. Di berbagai negara, teknologi ini mulai digunakan untuk membantu menyusun dokumentasi kasus, mengelompokkan data penerima layanan, hingga mempercepat proses asesmen awal. Semua itu membuat pelayanan menjadi lebih efisien.

Namun, dari sudut pandang pekerjaan sosial, pelayanan kepada manusia tidak pernah sekadar soal kecepatan.

Pekerjaan sosial berdiri di atas relasi. Di balik setiap data, ada manusia dengan pengalaman hidup yang kompleks. Seorang perempuan korban kekerasan, misalnya, mungkin datang dengan wajah tenang. Namun di balik ketenangan itu tersimpan trauma, rasa takut, dan kehilangan kepercayaan terhadap orang lain.

Semua itu tidak dapat dibaca hanya melalui algoritma.

AI dapat mengenali pola dari jutaan data, tetapi belum mampu memahami makna dari air mata yang ditahan, jeda panjang sebelum seseorang menjawab pertanyaan, atau bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa seseorang belum siap menceritakan pengalaman pahitnya.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) mampu membantu proses analisis dan administrasi, namun pemulihan psikososial tetap membutuhkan empati, hubungan terapeutik, dan kehadiran pekerja sosial. (Ilustrasi: AI)

Empati Tetap Menjadi Kekuatan Pekerja Sosial

Dalam praktik pekerjaan sosial, empati bukan sekadar rasa iba. Empati adalah kemampuan memahami pengalaman hidup seseorang tanpa menghakimi, membangun rasa aman, serta membantu mereka menemukan kembali kekuatan untuk bangkit.

Teknologi dapat membantu pekerja sosial bekerja lebih cepat, tetapi hubungan yang memulihkan tetap dibangun oleh manusia.

Justru karena perkembangan AI semakin pesat, pekerja sosial perlu meningkatkan kompetensi digital. AI dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban administrasi yang selama ini menyita waktu. Waktu yang dihemat dapat dialihkan untuk memperkuat pendampingan, konseling, asesmen mendalam, dan pemberdayaan klien.

Pekerja sosial meninjau laporan kasus yang disusun dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) sebagai pendukung proses administrasi layanan sosial. (Ilustrasi: AI)

AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti Pekerja Sosial

Perubahan ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan pekerjaan sosial. Kurikulum perlu membekali calon pekerja sosial dengan literasi digital, etika penggunaan AI, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Di masa depan, profesi pekerja sosial kemungkinan tidak akan digantikan oleh AI. Yang lebih mungkin terjadi adalah pekerja sosial yang mampu memanfaatkan AI akan menggantikan mereka yang tidak beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, teknologi terbaik sekalipun tidak dapat menggantikan sentuhan manusia. Sebab profesi pertolongan pekerja sosial bukan hanya tentang menyelesaikan masalah, melainkan memulihkan harapan, martabat, dan keberfungsian sosial seseorang.

Dan selama manusia masih membutuhkan untuk didengar, dipahami, serta didampingi, empati akan tetap menjadi kemampuan yang tidak bisa diprogram oleh mesin.