Konten dari Pengguna

Di Balik Pintu Pelayanan, Ada Perempuan yang Ingin Memulai Lagi

Feri Setiadi

Feri Setiadi

Pekeja Sosial

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Feri Setiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana kegiatan bimbingan sosial pada penerima manfaat sebagai bagian dari proses intervensi rehabilitasi sosial. (Sumber: Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kegiatan bimbingan sosial pada penerima manfaat sebagai bagian dari proses intervensi rehabilitasi sosial. (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Ada kalanya seseorang pergi dari rumah bukan karena tidak memiliki keluarga. Bisa jadi ia pergi karena merasa tidak menemukan jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya.

Itulah yang terjadi ketika “Ika” (bukan nama sebenarnya) datang ke tempat rehabilitasi sosial di mana saya bekerja. Sebagai penyadang masalah sosial tentunya dia membawa persoalan sosial. Di belakangnya masih ada keluarga, tetapi pada saat itu ia memilih meninggalkan rumah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Ada luka, harapan yang hampir padam, dan ketidakpastian tentang ke mana hidup akan membawanya. Saya tidak melihat Ika hanya sebagai seseorang yang membutuhkan pelayanan, tetapi sebagai seorang perempuan yang sedang berusaha mencari jalan untuk kehidupannya.

Pada awal kedatangannya, yang paling penting bukan segera mencari jawaban permasalahanya. Yang ia butuhkan adalah ruang untuk berbicara dan didengarkan. Dalam proses pelayanan, saya belajar bahwa tidak semua permasalahan sosial dapat diselesaikan hanya dengan nasihat semata. Terkadang seseorang membutuhkan orang lain yang bersedia mendengarkan dan memahaminya tanpa terburu-buru untuk memberikan penilaian.

Perlahan, persoalan yang dihadapi Ika satu persatu mulai dapat saya analisis. Berusaha memahami kebutuhannya, harapan, dan kehidupan yang ingin ia jalani. Memahami Ika bukan hanya tentang mengetahui alasan mengapa meninggalkan keluarga, tetapi juga tentang melihat apa yang ia butuhkan untuk kembali menata kehidupannya. Karena itu, saya berusaha membantunya mengenali kembali dirinya, melihat pilihan yang ada, dan menentukan langkah yang terbaik bagi kehidupannya.

Saya menyadari bahwa rehabilitasi sosial bukan sekadar memberikan bantuan dan perlindungan. Lebih dari itu, ada proses untuk membantu seseorang mengenali kembali dirinya, mempertimbangkan pilihan, dan menentukan langkah bagi kehidupannya.

Pendampingan menjadi bagian penting dalam proses rehabilitasi sosial, membantu penerima layanan membangun kembali kepercayaan diri dan keberfungsian sosial. (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Dalam proses pelayanan, Ika mulai menunjukkan perkembangan, baik secara mental maupun dalam keberfungsian sosialnya. Ia mulai menunjukkan keinginan untuk memperbaiki kehidupannya. Namun, ia masih teguh menolak untuk kembali kepada keluarganya.

Keinginan untuk pulang mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seseorang yang meninggalkan keluarga karena persoalan yang berat, pulang tidak selalu semudah melakukan perjalanan dan membuka kembali pintu rumah. Ada hubungan yang perlu diperbaiki, perasaan yang perlu dibicarakan, dan kekhawatiran tentang apakah keluarga masih dapat menerima dirinya.

Karena itu, kepulangannya tidak dapat dipandang sekadar sebagai pengakhiran masa pelayanan. Kepulangan tersebut harus dipersiapkan secara matang. Ika tidak hanya perlu kembali secara fisik kepada keluarganya, tetapi juga membutuhkan harapan dan keyakinan untuk membangun kembali kehidupannya bersama mereka.

Komunikasi menjadi bagian penting. Saya harus memastikan bahwa kepulangan Ika bukan semata-mata keputusan sepihak. Ika perlu memiliki keyakinan untuk kembali, sementara keluarga juga harus memiliki kesiapan untuk menerimanya. Keduanya perlu membuka ruang untuk berubah, saling memahami, dan membangun kembali hubungan dengan komitmen bersama.

Berbagai upaya saya lakukan untuk mempertemukan kembali keduanya. Mulai dari pendalaman kondisi keluarga, berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, hingga mendampingi Ika melihat kembali keluarganya dari sudut pandang yang berbeda. Proses itu tidak mudah. Mengubah cara pandang seseorang terhadap pengalaman yang telah melukainya membutuhkan waktu, kesabaran, dan kepercayaan.

Hingga akhirnya datang sebuah kabar yang bagi saya sangat berarti.

Keluarga ternyata sangat mengharapkan Ika kembali. Mereka tidak hanya bersedia menerimanya, tetapi juga menyatakan dukungan terhadap keinginannya dan kesediaan untuk berusaha bersama. Di sisi lain, Ika yang sejak awal teguh dengan keputusannya untuk tidak kembali kepada keluarga akhirnya dihadapkan pada pilihan ketika masa pelayanannya berakhir: "pergi menuju tempat yang belum tentu memberinya kepastian, atau kembali kepada keluarga yang ternyata masih membuka pintu untuknya".

Pilihan itu tidak mudah. Namun, perlahan ia mulai menyadari bahwa kembali kepada keluarga mungkin bukan berarti kembali kepada persoalan yang sama. Kepulangan dapat menjadi kesempatan untuk membangun sesuatu yang baru, dengan cara pandang dan komitmen yang berbeda.

Bagi saya, itulah salah satu bagian paling bermakna dari proses pelayanan yang kami jalani. Bukan karena berhasil memulangkan seorang penerima layanan, melainkan karena seorang perempuan yang sebelumnya merasa tidak memiliki jalan pulang akhirnya menemukan kembali keberanian untuk pulang, sementara keluarganya memilih membuka pintu dan berjalan bersamanya.

Tibalah saat terminasinya, saya merasa lega karena proses pendampingan telah berakhir dan sampai pada tahap pemulangan. Namun, saya menyadari bahwa kepulangan Ika bukanlah akhir dari perjalanan nya. Setelah kembali kepada keluarga, ia akan menghadapi kehidupan nyata.

Karena itu, yang paling penting bukan memastikan Ika sekadar pulang, tetapi memastikan ia pulang dengan harapan. Harapan bahwa keluarganya dapat menjadi tempat untuk kembali, hubungan yang sempat renggang dapat diperbaiki, dan kehidupan ke depan masih dapat dibangun bersama.

Dari pengalaman itu, saya memahami bahwa menjadi seorang ASN bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan sesuai prosedur, tetapi juga tentang memberikan dampak terhadap apa yang kita kerjakan. Ika mengajarkan kepada saya bahwa pengabdian tidak hanya tentang selalu hadir di tempat kerja, tetapi juga tentang bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin mencurahkan tenaga dan pikiran dalam menjalankan tugas.