Konten dari Pengguna

Fenomena Post-Event Blues Setelah Piala Dunia Berakhir

Feri Setiadi

Feri Setiadi

Pekeja Sosial

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Feri Setiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perayaan gelar juara Piala Dunia dengan penuh sukacita di tengah hujan konfeti emas. (Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Perayaan gelar juara Piala Dunia dengan penuh sukacita di tengah hujan konfeti emas. (Ilustrasi AI)

Spanyol resmi menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada partai final. Kemenangan tersebut disambut sukacita oleh jutaan pendukung La Roja di berbagai belahan dunia. Di sisi lain, pendukung Argentina harus menerima kenyataan bahwa perjuangan tim kesayangannya harus berakhir sebagai runner-up.

Namun, setelah euforia perayaan dan kekecewaan itu mereda, ada fenomena lain yang mulai dirasakan sebagian orang. Tidak sedikit penggemar sepak bola mengaku merasa hampa, kehilangan semangat, bahkan bingung karena rutinitas yang selama beberapa minggu terakhir mereka jalani tiba-tiba berakhir. Fenomena ini dikenal sebagai post-event blues, yaitu kondisi emosional yang muncul setelah suatu peristiwa besar yang sangat dinantikan selesai.

Bagi sebagian orang, perasaan tersebut mungkin terdengar berlebihan. Namun, dari perspektif pekerjaan sosial, kondisi ini merupakan respons yang dapat dipahami karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang hidup melalui interaksi, pengalaman bersama, dan rasa memiliki terhadap suatu komunitas.

Ribuan pendukung larut dalam euforia kemenangan, memenuhi area stadion dengan sukacita. (Ilustrasi AI)

Selama penyelenggaraan Piala Dunia, jutaan orang tidak hanya menyaksikan pertandingan. Mereka berkumpul untuk menonton bersama keluarga, berdiskusi dengan rekan kerja, bergabung dalam komunitas suporter, hingga aktif berinteraksi di media sosial. Aktivitas tersebut membentuk hubungan sosial yang intens dalam waktu singkat.

Dalam ilmu pekerjaan sosial, hubungan seperti ini merupakan bagian dari modal sosial (social capital). Ketika individu merasa menjadi bagian dari suatu komunitas, mereka memperoleh dukungan emosional, rasa memiliki, dan kesempatan berinteraksi dengan orang lain. Semua itu berkontribusi terhadap kesejahteraan psikososial seseorang.

Tidak mengherankan apabila berakhirnya Piala Dunia juga berarti berakhirnya berbagai rutinitas sosial tersebut. Grup percakapan yang sebelumnya ramai mulai sepi. Agenda menonton bersama tidak lagi ada. Diskusi mengenai strategi tim favorit perlahan menghilang. Bagi sebagian orang, perubahan mendadak ini dapat memunculkan rasa kehilangan, meskipun mereka menyadari bahwa yang berakhir hanyalah sebuah turnamen olahraga.

Pekerja sosial memandang bahwa kesejahteraan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi atau kesehatan fisik, tetapi juga oleh keberfungsian sosial, yaitu kemampuan individu menjalankan perannya dalam keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupannya.

Seorang pendukung tampak terpukul menyaksikan kekalahan tim kesayangannya di partai final. (Ilustrasi AI)

Dalam konteks ini, post-event blues menunjukkan bahwa manusia membutuhkan aktivitas yang bermakna dan hubungan sosial yang positif. Ketika salah satu sumber kegembiraan tersebut berhenti, individu memerlukan proses penyesuaian agar tetap dapat menjalankan fungsi sosialnya secara optimal.

Karena itu, pendekatan pekerjaan sosial tidak berhenti pada penjelasan bahwa kondisi tersebut "wajar". Yang lebih penting adalah membantu individu membangun kembali rutinitas yang sehat. Misalnya dengan kembali aktif dalam kegiatan keluarga, mengikuti aktivitas komunitas, berolahraga, menjalankan hobi, atau memperluas interaksi sosial di lingkungan sekitar. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat menjadi sumber pengalaman positif yang baru setelah berakhirnya euforia Piala Dunia.

Bagi sebagian besar orang, post-event blues hanya berlangsung sementara dan akan hilang seiring kembalinya aktivitas sehari-hari. Namun, apabila perasaan sedih berlangsung lama, disertai hilangnya minat terhadap aktivitas, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, atau mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, maka kondisi tersebut patut mendapat perhatian lebih. Dukungan keluarga, teman, maupun tenaga profesional dapat membantu seseorang melewati masa penyesuaian tersebut.

Seorang pendukung menerima pendampingan pekerja sosial setelah kesedihan berkepanjangan pascafinal Piala Dunia. (Ilustrasi AI)

Fenomena ini sekaligus mengingatkan bahwa olahraga memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Piala Dunia mampu menyatukan orang-orang dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang dalam satu pengalaman bersama. Di balik setiap pertandingan, terdapat ruang interaksi sosial yang memperkuat hubungan antarmanusia.

Dari perspektif pekerjaan sosial, berakhirnya Piala Dunia bukan hanya penutup sebuah turnamen, tetapi juga momentum untuk memahami betapa pentingnya relasi sosial dalam kehidupan manusia. Semangat kebersamaan yang terbangun selama kompetisi seharusnya tidak ikut berakhir ketika peluit panjang dibunyikan. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk terus membangun hubungan yang sehat, memperkuat kepedulian terhadap sesama, dan menjaga keberfungsian sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, trofi memang telah berpindah tangan, pertandingan telah usai, dan stadion kembali sunyi. Namun, nilai terbesar dari sebuah perhelatan olahraga justru terletak pada kemampuan manusia untuk tetap terhubung, saling mendukung, dan beradaptasi setelah euforia berakhir. Itulah salah satu pelajaran penting yang dapat kita lihat dari fenomena **post-event blues** melalui perspektif pekerjaan sosial.