Ketika Kemiskinan Menjadi Bahan Ejekan di Kalangan Anak Sekolah

Pekeja Sosial
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Feri Setiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah video yang diunggah melalui akun TikTok @feytikawulusan menyita perhatian publik. Video tersebut memperlihatkan seorang anak di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, menangis setelah mengaku diejek sebagai "anak orang miskin" oleh teman-temannya. Alih-alih membalas dengan kemarahan, sang ibu justru memberikan nasihat yang menenangkan. Respons penuh kasih itu mengundang simpati masyarakat dan membuat video tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial.
Perhatian publik memang banyak tertuju pada ketegaran sang ibu. Namun, ada persoalan yang jauh lebih penting untuk direnungkan. Kasus ini menunjukkan bahwa kemiskinan masih dipandang sebagai sesuatu yang layak dijadikan bahan ejekan. Lebih memprihatinkan lagi, pandangan tersebut telah hadir dalam interaksi anak-anak yang seharusnya sedang belajar menghargai perbedaan dan membangun persahabatan.
Bullying selama ini lebih sering dikaitkan dengan kekerasan fisik, penghinaan terhadap penampilan, atau tindakan intimidasi secara langsung. Padahal, perundungan berbasis kondisi ekonomi keluarga (economic bullying) juga merupakan bentuk kekerasan psikologis yang tidak kalah serius. Ejekan seperti "anak miskin", "rumahmu jelek", atau "orang tuamu tidak mampu" bukan sekadar candaan. Kalimat-kalimat tersebut menyerang harga diri anak pada fase ketika identitas dirinya sedang berkembang.
Kemiskinan sendiri bukanlah identitas seseorang, melainkan kondisi sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kesempatan kerja, akses pendidikan, kondisi kesehatan, hingga kebijakan pembangunan. Karena itu, menjadikan kemiskinan sebagai bahan olok-olok sama saja dengan menghakimi seseorang atas keadaan yang belum tentu berada dalam kendalinya.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa perilaku anak tidak lahir dalam ruang kosong. Anak belajar melalui proses interaksi dengan lingkungan. Mereka menyerap cara berbicara, cara memandang orang lain, bahkan standar tentang siapa yang dianggap berhasil atau gagal dari keluarga, sekolah, teman sebaya, media sosial, dan masyarakat. Ketika lingkungan tanpa sadar menempatkan kekayaan sebagai ukuran utama keberhasilan, sementara kemiskinan dipersepsikan sebagai sesuatu yang memalukan, anak dapat meniru cara pandang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, melihat bullying hanya sebagai kenakalan anak merupakan penyederhanaan terhadap persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks. Perundungan merupakan gejala dari sistem sosial yang belum sepenuhnya berhasil menanamkan nilai empati, penghormatan terhadap martabat manusia, dan penerimaan terhadap keberagaman kondisi kehidupan.
Bagi anak yang menjadi korban, dampaknya tidak berhenti pada tangisan yang terlihat dalam sebuah video. Korban dapat mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa malu terhadap keluarganya sendiri, kehilangan motivasi belajar, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga mengalami gangguan psikologis apabila tidak memperoleh dukungan yang memadai. Luka emosional semacam ini sering kali tidak tampak, tetapi dapat memengaruhi perkembangan sosial dan mental anak dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pelaku juga membutuhkan perhatian. Memberikan hukuman tanpa disertai proses pembelajaran belum tentu mengubah perilaku. Anak perlu dibimbing agar memahami bahwa kata-kata yang diucapkannya memiliki konsekuensi terhadap kehidupan orang lain. Pendidikan mengenai empati, penghargaan terhadap perbedaan, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat perlu menjadi bagian dari proses pembinaan.
Sekolah memiliki posisi yang sangat strategis dalam mencegah terulangnya kasus serupa. Lingkungan pendidikan tidak cukup hanya menjadi tempat mentransfer pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik.
Di lingkungan keluarga, orang tua juga memegang peranan penting. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari teladan. Cara orang tua berbicara pekerja, atau keluarga yang memiliki kondisi ekonomi berbeda akan membentuk cara pandang anak terhadap orang lain. Mengajarkan rasa syukur harus berjalan beriringan dengan mengajarkan penghormatan terhadap setiap manusia tanpa memandang latar belakang ekonominya.
Perspektif pekerjaan sosial memandang bahwa anak merupakan bagian dari sebuah sistem yang saling berkaitan. Perkembangan perilaku anak tidak hanya dipengaruhi oleh karakter pribadinya, tetapi juga oleh kualitas relasi yang dibangun di dalam keluarga, sekolah, kelompok sebaya, dan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, ketika terjadi perundungan, perhatian tidak cukup diarahkan pada siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang tidak kalah penting adalah memahami faktor-faktor sosial yang membentuk perilaku tersebut agar intervensi yang dilakukan mampu menyentuh akar persoalan, bukan sekadar merespons akibatnya.
Pendekatan tersebut menempatkan pencegahan sebagai langkah yang sama pentingnya dengan penanganan. Korban membutuhkan pemulihan psikososial agar kembali merasa aman dan percaya diri, sementara pelaku memerlukan pembinaan yang menumbuhkan empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap martabat orang lain. Pada saat yang sama, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu membangun lingkungan yang inklusif, bebas stigma, serta memberikan ruang bagi setiap anak untuk tumbuh tanpa dihakimi berdasarkan kondisi ekonomi keluarganya.
Kasus yang terjadi di Sulawesi Utara hendaknya tidak berhenti sebagai konten viral yang mengundang simpati sesaat. Peristiwa tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi bagaimana masyarakat membangun nilai-nilai sosial kepada generasi muda. Selama kemiskinan masih dipandang sebagai aib dan dijadikan alat untuk merendahkan orang lain, selama itu pula perundungan akan terus menemukan ruang untuk tumbuh.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya tercermin dari pertumbuhan ekonominya, melainkan juga dari kemampuannya membangun generasi yang menghormati martabat sesama manusia. Anak-anak perlu dididik untuk memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan orang tuanya, melainkan oleh karakter, sikap, dan kemanusiaannya. Empati adalah fondasi masyarakat yang inklusif, dan pendidikan tentang empati harus dimulai sejak usia dini agar tidak ada lagi anak yang merasa rendah diri hanya karena berasal dari keluarga yang hidup dalam keterbatasan.
