Konten dari Pengguna

Korban Kekerasan Tidak Lemah, Mereka Sedang Bertahan Hidup

Feri Setiadi

Feri Setiadi

Pekeja Sosial

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Feri Setiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis dan kehilangan rasa aman yang dapat membuat korban sulit keluar dari lingkaran kekerasan. (Ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis dan kehilangan rasa aman yang dapat membuat korban sulit keluar dari lingkaran kekerasan. (Ilustrasi AI)

"Mengapa dia tidak pergi sejak awal?"

Pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali media memberitakan kasus kekerasan terhadap perempuan. Sekilas terdengar masuk akal. Namun, sebagai seorang pekerja sosial, saya melihat pertanyaan tersebut justru menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya memahami bagaimana kekerasan bekerja terhadap korbannya.

Di balik setiap kasus kekerasan terdapat proses panjang yang perlahan merampas rasa aman, harga diri, kepercayaan diri, bahkan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan. Karena itu, menyebut korban sebagai "lemah" bukan hanya keliru, tetapi juga dapat memperparah luka yang telah mereka alami.

Luka akibat ancaman, intimidasi, dan kontrol dalam hubungan sering kali tidak terlihat, tetapi dapat meninggalkan dampak psikososial yang mendalam. (Ilustrasi: AI)

Kekerasan Tidak Selalu Dimulai dengan Pukulan

Banyak orang membayangkan kekerasan hanya terjadi ketika ada luka fisik. Padahal, dalam praktik pekerjaan sosial, kekerasan sering dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana.

Pelaku membatasi pergaulan korban, mengawasi telepon genggamnya, mengontrol keuangan, melarang bekerja, hingga membuat korban perlahan menjauh dari keluarga dan teman. Semua dilakukan sedikit demi sedikit sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan.

Ketika situasi itu berlangsung terus-menerus, korban kehilangan sistem pendukung yang selama ini menjadi tempat mencari pertolongan. Akibatnya, pelaku menjadi satu-satunya orang yang dianggap memiliki kendali atas hidupnya.

Perasan seolah terisolasi pada korban kekerasan. Pemutusan hubungan dengan keluarga, teman, dan lingkungan menjadi salah satu bentuk kontrol yang membuat korban semakin sulit keluar dari lingkaran kekerasan. (Ilustrasi: AI)

Trauma Mengubah Cara Korban Melihat Dunia

Sebagian masyarakat menganggap korban tetap bertahan karena mencintai pelaku atau tidak memiliki keberanian untuk pergi. Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Trauma yang berlangsung dalam waktu lama dapat membuat korban kehilangan keyakinan bahwa hidupnya masih bisa berubah. Mereka hidup dalam ketakutan, kebingungan, dan kecemasan yang terus-menerus. Bahkan ketika kesempatan untuk pergi terbuka, korban belum tentu merasa dirinya mampu melakukannya.

Dalam pekerjaan sosial, kondisi ini dipahami sebagai dampak dari pengendalian yang terus-menerus (coercive control) dan trauma psikologis yang membuat kemampuan korban untuk mengambil keputusan menjadi sangat terbatas.

Karena itulah, keluar dari hubungan yang penuh kekerasan sering kali bukan sekadar persoalan keberanian, melainkan proses panjang untuk memulihkan rasa aman dan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Penanganan korban kekerasan memerlukan kolaborasi lintas profesi agar layanan perlindungan, pemulihan, dan rehabilitasi sosial dapat berjalan secara terpadu. (Ilustrasi: AI)

Korban Membutuhkan Dukungan, Bukan Penghakiman

Kalimat seperti "Mengapa tidak melawan?", "Mengapa tidak kabur?", atau "Mengapa masih bertahan?" mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi korban, pertanyaan-pertanyaan itu justru dapat menambah rasa bersalah dan memperkuat keyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang memahami kondisinya

Yang lebih dibutuhkan korban adalah lingkungan yang percaya pada ceritanya, mendengarkan tanpa menghakimi, serta membantu menghubungkan mereka dengan layanan perlindungan, pendampingan psikososial, bantuan hukum, dan rehabilitasi sosial.

Dukungan seperti inilah yang menjadi awal dari proses pemulihan.

Pendampingan psikososial oleh pekerja sosial kepada korban kekerasan. Hubungan yang dibangun melalui empati, kepercayaan, dan penerimaan menjadi fondasi penting dalam proses pemulihan korban. (Ilustrasi: AI)

Peran Pekerja Sosial dalam Pemulihan

Dalam penanganan kasus kekerasan, pekerjaan sosial tidak berhenti pada saat korban berhasil keluar dari lingkungan yang berbahaya.

Pekerja sosial mendampingi korban untuk memulihkan keberfungsian sosialnya, yaitu kemampuan menjalani kehidupan secara mandiri, menjalankan peran dalam keluarga dan masyarakat, memenuhi kebutuhan hidup, serta membangun kembali harapan terhadap masa depan.

Proses ini membutuhkan waktu. Setiap korban memiliki pengalaman, kebutuhan, dan kecepatan pemulihan yang berbeda. Karena itu, pendampingan harus dilakukan dengan pendekatan yang menghormati martabat, pilihan, dan kekuatan yang dimiliki setiap individu.

Pendampingan yang berkelanjutan membantu korban mendapatkan kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan keberfungsian sosial sebagai bekal untuk memulai kehidupan baru. (Ilustrasi: AI)

Mengubah Cara Pandang Masyarakat

Penanganan kekerasan terhadap perempuan bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum atau lembaga pelayanan sosial. Keluarga, tetangga, media, dunia pendidikan, dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi korban untuk mencari pertolongan.

Semakin cepat korban mendapatkan dukungan yang tepat, semakin besar peluang mereka untuk pulih dan kembali menjalankan kehidupannya secara bermartabat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa cepat pelaku dihukum, tetapi juga seberapa mampu kita membantu korban mendapatkan kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan keberfungsian sosialnya.

Korban kekerasan bukanlah orang yang lemah. Mereka adalah individu yang sedang berjuang bertahan hidup di tengah situasi yang sangat sulit. Tugas kita sebagai masyarakat bukan menghakimi pilihan mereka, melainkan membuka jalan agar mereka dapat bangkit, pulih, dan melanjutkan hidup dengan harapan baru.