Konten dari Pengguna

Ateiskah Aku?

Ferry Anggriawan

Ferry Anggriawan

Dosen fakultas hukum Universitas Merdeka Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ferry Anggriawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbagai banyak literatur tentang ateisme menyebutkan berbagai definisi yang berbeda-beda, tetapi secara substansial ateisme pada pokok pemikiran dasar adalah paham yang mengingkari adanya Tuhan, yaitu penolakan terhadap suatu wujud yang mutlak, maha tinggi atau transendental. Pembahasan tentang ateisme di era tahun 1632-1677 oleh salah satu ateis terkenal Benendict Spinoza masih berkutat di lingkar kenapa seseorang itu menjadi ateis, dan kenapa seseorang harus menjadi ateis. Dari sini muncul dua model ateisme yang mendasari seseorang itu menjadi ateis.

Pertama; ateisme falsafi yang menolak kepercayaan kepada Tuhan karena doktrin agama pada saat itu; memberikan pemahaman bahwa tubuh manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan rohani, jasmani sifatnya materiil (terlihat oleh kasat mata), sedangkan rohani sifatnya imateriil (tidak terlihat oleh kasat mata). Paham ini menolak adanya pemisahan antara jasmani dan rohani, karena menurutnya hanya ada satu substansi wujud, yaitu sesuatu yang materiil saja. Sesuatu yang imateriil tidak diakui sebagai wujud, seperti; keberadaan kerohanian dalam tubuh, surga, neraka dan Tuhan, yang didogmakan pada waktu itu sebagai sesuatu yang imateriil, ditolak oleh kaum ateis filosofis.

Kedua ateisme praktis; golongan ini adalah golongan yang tidak peduli adanya Tuhan atau tidak, karena pada era kaum ini, ilmu pengetahuan dijadikan sebagai tonggak utama menjawab kegelisahan masyarakat, semuanya bisa diselesaikan melalui ilmu pengetahuan. Contoh yang cukup nyata di era kaum ini adalah sindiran kalau zaman dulu orang-orang rela melakukan ritual keagamaan supaya rumahnya tidak terkena petir. Menurut kaum ateisme praktis, Tuhan dan ritual agama sudah tidak diperlukan lagi, karena mereka sudah menemukan alat penangkal petir yang ditemukan melalui proses ilmu pengetahuan. Dari sini Tuhan sudah tidak diberikan kewenangan untuk menyelamatkan dan mencelakakan manusia, karena manusia sudah bisa menyelematkan dirinya sendiri. Di sinilah terkenal ucapan Nietzsche seorang filsuf eropa modern yang mengatakan “Tuhan telah mati”.

Dua Jenis ateis di atas sering kita temui dalam diskusi-diskusi tentang ketuhanan, baik melalui kanal youtube ataupun buku-buku klasik yang kita baca. Saat ini muncul gejala ateisme baru yang disebut sebagai ateisme polemis dan ateisme terselebung. Dua jenis ateisme ini berbeda dengan dua jenis ateisme sebelumnya yang secara terang-terangan menolak untuk meyakini keberadaan Tuhan dengan alasan tertentu. Ateisme Polemis dan Ateisme Terselebung keduanya secara sah dan terang-terangan menyatakan dirinya percaya kepada Tuhan dan melaksanakan ritual-ritual keagamaan, tetapi stigma sebagai seorang ateis telah menempel pada dirinya.  

Ateisme Polemis  

Ateisme polemis bersifat label, apa maksudnya? Bukan dirinya yang menyatakan ateis, tetapi label ateislah yang diberikan seseorang kepada dirinya, yang mengakibatkan timbulnya stigma masyarakat terhadap dirinya sebagai seorang ateis. Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya stigma seperti ini adalah adanya perbedaan keyakinan beragama yang dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat/tokoh untuk menjustifikasi bahwa kebenaran Tuhan yang dia yakini adalah salah, dengan cara menuduh Tuhan yang berseberangan dengan dirinya, melalui label ateis. 

Berkenaan dengan ateisme polemis hampir semua agama baru di masa lalu mendapat stigma ateis yang ditujukan kepada tokoh dan pengikutnya. Hal itu bisa kita lihat ketika agama Yahudi dan Kristen disebarkan di Eropa, label ateisme tertempel di  tokoh dan pengikut kedua agama tersebut, melalui stigma yang diberikan oleh Bangsa Romawi. Penolakan kaum Yahudi dan Kristen terhadap berhala dan dewa-dewa yang mereka yakini, adalah akar permasalahan yang mengakibatkan tokoh dan pengikut kedua agama ini diberikan label ateis oleh Bangsa Romawi.

Ateisme Terselubung Barangkali ini adalah jenis ateisme yang rumit, mengapa? karena secara resmi dan terbuka yang bersangkutan menyatakan dirinya percaya kepada Tuhan dan selalu menjalankan ritual-ritual keagamaan tetapi secara keseharian jika ditilik dari tingkah laku dan perangainya, jelas tidak mencerminkan dan tidak memperhitungkan bahwa adanya Tuhan yang selalu mengawasinya. Ketika ajaran agamanya memerintahkan untuk berkata yang baik atau diam, yang bersangkutan selalu berkata kotor dan kasar kepada orang sekitarnya dan ketika agama melarang melakukan perbuatan keji dan mungkar, yang bersangkutan selalu melakukan perbuatan keji dan mungkar kepada manusia yang lain.

Anehnya perkataan kotor dan kasar serta perbuatan keji dan mungkar yang dilakukannya dia yakini atas dasar agama, dengan dalih” ini adalah peritah Tuhan dan saya harus menjalankannya, karena saya adalah wakil dari Tuhan di muka bumi”. Ini adalah gejala baru atau mungkin sudah terjadi di sekitar kita, orang-orang berbuat semena-mena atas nama agamanya yang secara ilmiah itu jauh dari nilai-nilai agama yang diyakininya. Ini adalah jenis ateisme terbaru meyakini Tuhan dan menjalankan ritual keagamaannya tetapi perilakunya jauh dari nilai-nilai agama yang diajarkan. Perilaku beragama seperti ini pernah disampaikan oleh Ulama klasik Indonesia “Syech Siti Jenar” yang hidup di era Kerajaan Demak, sebagai ibadah palson (ibadah palsu).

Tanggapan ateisme selama ini, bahwa seorang ateis adalah orang yang menisbahkan dirinya sebagai ateis, dibarengi dengan sikap, pikiran dan perilaku yang menentang adanya Tuhan dengan alasan-alasan yang melatar belakanginya. Gejala ateisme baru ternyata berbeda. Ateisme polemis adalah ruang bagi kita untuk memberikan label ateis yang didasarkan pada perbedaan konsep teologi dan cara ritual beragama yang berseberangan dengan kita, atau mungkin sebaliknya kita yang diberikan label ateis oleh orang lain karena perbedaan itu.

Gejala ateisme juga bisa kita temukan dalam diri kita sendiri dengan dasar pemikiran ateisme terselubung. Ketika secara gamblang mendeklarasikan bahwa saya penganut agama A, tetapi sikap dan perilakunya tidak mencerminkan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang diajarkan oleh agama tersebut, sebenarnya kita telah mengucilkan hakikat dari keberadaan Tuhan itu sendiri. “Di depan manusia lainnya aku harus diberikan label bahwa aku penganut agama A, tetapi dihadapan Tuhan aku meremehkan bahkan mengingkari ajaran dari agama yang aku yakini, ateiskah aku?”

Penulis: Ferry Anggriawan S.H.,M.H

Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang