Konten dari Pengguna

Selamat Datang Tahun 2026, Ekonomi Suram atau Cerah ?

Ferryal Abadi

Ferryal Abadi

Dosen FEB Universitas Esa Unggul / Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Bekasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ferryal Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar : AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar : AI

Tahun 2025 sudah kita lewati bersama. Banyak peristiwa yang kita lewati baik suka maupun duka. Tentunya jika tahun 2025 lebih banyak dukanya berharap tahun 2026 banyak sukanya. Semua orang pasti punya harapan yang lebih baik di setiap tahun baru.

Setelah melewati tahun politik di 2024 maka 2025 merupakan tahun awal pemeritahan Presiden Prabowo. Kinerja ekonomi sepanjang tahun 2025 relatif biasa-biasanya. Mesin ekonomi belum bergerak cepat dan efektif. Pertumbuhan ekonomi masih dikisaran 5 % sehingga efeknya tidak terlihat di masyarakat. Bagusnya memang 7-8 % sesuai target Presiden Prabowo. Ada kenaikan investasi, penuruan angka pengangguran dan indiktor ekonomi lainnya yang mencerminkan kestabilan ekonomi Indonesia di tahun 2025.

Namun indikator tersebut berbeda pada realitas kehidupan masyarakat. Terkadang angka statistik yang baik tidak mencerminkan kehidupan masyarakat yang baik. Mencari kerja tetap susah. Banyak PHK. Investasi tidak mudah masuk ke Indonesia. Harga-harga terus meningkat sedangkan gaji tidak meningkat signifikan. Masyarakat harus berjuangan sendiri ditengah kebijakan pemerintah yang tidak berpengaruh. Banyak perusahaan mengeluh semakin tahun semakin sulit. Pedagang pun demikian, untuk mendapatkan pembeli sangat sulit. Tidak seperti 5-10 tahun sebelum. Rata-rata menyatakan bahwa jaman Presiden Susilo Bambang Yudhono ( SBY ) lebih baik dari jaman Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menteri Keuangan Purbaya saat ini sudah menjelaskan bahwa jaman Presiden SBY menekan pertumbuhan dari sisi konsuntif namun menekan pembangunan Infrakstruktur sedangkan jaman Jokowi sebaliknya.

Bagi masyarakat yang penting ekonomi baik apapun strateginya. Masyarakat dengan mudah membandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya. Bahkan ada yang membandingkan jaman Presiden Soeharto. “Apa-apa murah jaman Soerharto. Kenyataan nya memang benar pada Jaman Soerharto semua murah dan waktu terjadi resesi ekonomi semua harga naik akhirnya Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Presiden Soekarno pun demikian turun karena tidak bisa mengendalikan ekonomi dan berakhir krisis politik. Jangan-jangan bagi rakyat tidak masalah jadi presiden seumur hidup kalo bisa membuat ekonomi rakyat menjadi sejahterah.

Lalu bagaimana ekonomi 2026.

Kondisi ekonomi 2025 akan menjadi landasan bagi ekonomi 2026. Dengan modal pertumbuhan ekonomi kisaran 5 % maka di tahun 2026 bisa masuk di kisaran 5,5 % tentunya dengan berbagai syarat dan usaha yang keras bagi pemerintah. Selain modal pertumbuhan 5 % maka faktor demografi menjadi modal yang sangat besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kalo kita belajar ekonomi makro maka menarik investasi sebesar-besarnya dan meningkatkan kinerja UMKM akan menjalan roda ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Apakah semudah itu ? ternyata tidak semudah itu.

Pertama, Faktor demografi yang tadinya menjadi modal besar bagi pertumbuhan ekonomi tidak maksimal karena lulusan masyarakat Indonesia rata-rata masih dibawah SMA bahkan yang tidak lulus sekolah masih tinggi. Sedangkan lapangan kerja mensyaratkan lulus S1 atau minimal SMA.

Kedua, Iklim investasi kita masih berbiaya tinggi diluar biaya resmi. Pungli dimana-mana dan korupsi dimana-mana. Oligarki pun dimana-mana dari tingkat bawah sampai atas terjadi sehingga masyarakat diluar circlenya tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Penegak hukum, militer, pejabat semua bermain.

Dua faktor ini jika dibenahi Indonesia dengan mudah mengejar pertumbuhan ekononi 5,5 % bahkan bisa melesat ke 7-8 %.

Tahun 2026 merupakan tahun ke 2 bagi Presiden Prabowo. Tentunya Pemerintah saat ini belajar dari tahun 2025 dan tahun-tahun sebelumnya. Optimisme 2026 tidak hanya sekedar harapan yang sia-sia. Semoga rakyat Indonesia semakin sejahterah dan mencerahkan. Selamat tahun baru 2026.

Ferryal Abadi

Dosen FEB Universitas Esa Unggul

Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Bekasi