Menyusuri Goa Bloyot, Pesona Tersembunyi di Tengah Hutan Merabu

Mahasiswa prodi ilmu komunikasi di Univeristas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Feyruz Hana Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada perjalanan yang tujuannya bukan sekadar sampai di tempat, tetapi juga menikmati setiap langkah yang membawa kita ke sana. Perjalanan menuju Goa Bloyot di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjadi salah satunya.
Dari Kampung Merabu, perjalanan menuju Goa Bloyot harus ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih dua jam. Jalurnya membawa saya masuk semakin jauh ke dalam hutan, meninggalkan permukiman dan berganti dengan pepohonan serta tumbuhan yang tumbuh di sepanjang jalan.
Di kanan dan kiri jalur, pepohonan berdiri rapat. Beberapa batang pohon bahkan melintang di tengah jalur sehingga langkah harus lebih berhati-hati. Perjalanan terasa semakin seperti sebuah petualangan ketika jalur yang dilewati tidak selalu mudah.
Namun, justru kondisi itulah yang membuat perjalanan menuju Goa Bloyot terasa berbeda. Tidak ada kendaraan yang bisa langsung membawa sampai ke lokasi. Untuk melihat apa yang tersimpan di dalam goa, saya harus terlebih dahulu melewati perjalanan panjang di tengah hutan.
Dua Pos Menjadi Titik Istirahat
Di sepanjang jalur menuju Goa Bloyot terdapat dua pos. Pos tersebut menjadi titik untuk berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan cukup jauh, keberadaan pos terasa cukup membantu. Perjalanan dua jam di tengah hutan tentu membutuhkan tenaga, terlebih ketika jalur dipenuhi akar, tumbuhan, serta batang pohon yang berada di tengah jalan.
Dari satu pos menuju pos berikutnya, perjalanan terus berlanjut. Semakin jauh berjalan, suasana hutan semakin terasa. Perjalanan ini seolah menjadi pengantar sebelum akhirnya tiba di tujuan utama.
Dan ketika akhirnya sampai di kawasan Goa Bloyot, perjalanan panjang tersebut terasa memiliki alasan.
Goa Bloyot, Ruang yang Menyimpan Jejak Masa Lalu
Goa Bloyot bukan sekadar kawasan karst yang berada di tengah hutan Merabu. Di dalamnya tersimpan jejak kehidupan manusia masa lampau berupa seni cadas.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah lukisan cap tangan yang terdapat pada bagian dinding dan langit-langit goa. Selain cap tangan, sejumlah sumber juga mencatat adanya gambar manusia dan berbagai bentuk satwa.
Ketika melihat cap-cap tangan tersebut, rasanya seperti sedang berhadapan dengan sebuah pesan yang ditinggalkan manusia dari masa yang sangat jauh.
Tidak ada tulisan yang menjelaskan siapa yang membuatnya. Tidak ada nama yang tertinggal. Hanya bentuk tangan dan gambar-gambar yang masih menempel pada permukaan batu.
Justru karena itulah lukisan tersebut terasa begitu menarik.
Sebuah tangan pernah ditempelkan di dinding goa, kemudian warna disemburkan atau diaplikasikan di sekelilingnya hingga meninggalkan bentuk telapak tangan.
Lukisan Tangan yang Membawa Kita ke Masa Lalu
Cap tangan di dinding Goa Bloyot bukan sekadar gambar biasa.
Seni cadas di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat telah menjadi bagian penting dalam memahami kehidupan manusia masa lalu. Beberapa situs lain di kawasan tersebut memiliki lukisan yang diperkirakan berasal dari puluhan ribu tahun lalu. Untuk Goa Bloyot sendiri, usia pasti lukisannya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Di dalam Goa Bloyot, jejak tersebut hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang dalam.
Bayangkan, jauh sebelum adanya kamera, buku, maupun tulisan seperti yang kita kenal sekarang, manusia telah meninggalkan tanda di dinding batu. Mereka menggunakan ruang di dalam goa untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap penting.
Ada cap tangan. Ada gambar manusia. Ada pula gambar satwa.
Semuanya menjadi bagian dari cerita yang masih bisa dilihat hingga sekarang.
Menjaga Jejak yang Tidak Bisa Diulang
Keberadaan lukisan tersebut membuat perjalanan menuju Goa Bloyot tidak berhenti sebagai perjalanan wisata.
Ada sesuatu yang perlu dijaga setelah kita melihatnya.
Lukisan-lukisan yang berada di dinding dan langit-langit goa merupakan peninggalan yang tidak mungkin dibuat kembali dengan cara yang sama. Karena itu, pengunjung perlu menjaga jarak dan tidak menyentuh permukaan yang memiliki lukisan.
Hal sederhana seperti tidak menyentuh, mencoret, atau merusak dinding goa menjadi bagian penting dari upaya menjaga peninggalan tersebut agar tetap dapat dilihat oleh generasi berikutnya.
Perjalanan selama dua jam dari Kampung Merabu akhirnya membawa saya pada sebuah ruang yang menyimpan cerita jauh lebih panjang daripada perjalanan itu sendiri.
Hutan, pepohonan, batang-batang pohon yang melintang di jalur, dua pos, hingga langkah yang terus berjalan selama berjam-jam semuanya menjadi bagian dari perjalanan menuju Goa Bloyot.
Dan ketika melihat cap tangan di dinding goa, perjalanan itu terasa seperti membawa kita bukan hanya masuk ke dalam hutan, tetapi juga sedikit lebih dekat dengan kehidupan manusia yang pernah ada jauh sebelum kita.
Goa Bloyot mungkin tersembunyi di balik hutan Merabu. Namun, jejak yang ditinggalkan di dalamnya membuat tempat ini menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata alam.
Ia adalah ruang yang menyimpan cerita.
Cerita tentang manusia, alam, dan jejak masa lalu yang masih bertahan hingga hari ini.
