Konten dari Pengguna

Pajak Hijau: Janji Hijau?

Fharel Ikhsan Azhary

Fharel Ikhsan Azhary

Mahasiswa Jurusan Ekonomi dan Bisnis, Prodi Akuntansi Perpajakan D4 yang tertarik membuat sebuah Artikel Opini maupun berita dalam sebuah website. Tertarik dalam berita News, Entertaiment, Pajak, maupun Berita E-sport.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fharel Ikhsan Azhary tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
https://www.freepik.com

Setiap tahun, isu lingkungan makin terasa nyata di depan mata. Cuaca ekstrem, polusi udara, hingga krisis air menjadi sinyal bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Di tengah urgensi itu, pemerintah mulai memperkenalkan Pajak Hijau atau Green Tax sebagai solusi. Harapannya sederhana, lewat pajak, masyarakat maupun pelaku usaha terdorong untuk lebih ramah terhadap lingkungan sekitarnya.

Namun saya mulai berpikir dan bertanya-tanya, "Apakah pajak bener-bener bisa menyelamatkan bumi, atau sekadar menambah beban ekonomi? Lalu, apakah langkah pemerintah untuk menerapakan pajak hijau adalah cara yang terbaik?"

Pajak Hijau: Ide Baik yang Tak Mudah Dijalankan

Di Indonesia, langkah seperti ini sudah mulai diterapkan dari sekarang. Pajak karbon sudah diatur, tapi pelaksanaanya masih terbatas. Tanpa adanya pengawasan ketat dan komunikasi yang jelas, kebijakan ini bisa kehilangan esensi. Alih-alih mendorong perubahan, justru berisiko menambah beban bagi industri dan masyarakat.

Bukan Soal Memungut Lebih Banyak, Tapi Mengubah Perilaku

Menurut saya, esensi dari green tax atau bisa disebut pajak hijau ini bukan sekedar memungut lebih banyak, tetapi mendorong perilaku lebih bijak terhadap bumi. Artinya, penerapan pajak ini harus diiringi dengan insentif nyata: keringanan bagi pelaku usaha ramah lingkungan, subsidi energi bershi, dan edukasi publik. Pajak hijau yang adil seharusnya menekan pencemar, bukan membebani masyarakat kecil.

Transparansimenjadi kunci. Tanpa kejelasan arah penggunaan dana, pajak hijau akan sulit dipercaya. Padahal, perubahan besar seringkali berawal dari kepercayaan kecil.

Harapan untuk Green Tax Indonesia

Green Tax seharusnya bukan sekedar warna baru dalam kebijakan fiskal, tapi simbol komitmen terhadap keberlanjutan. Bumi kita tak butuh jargon, tapi aksi nyata. Dan aksi nyata itu bisa dimulai dari kebijakan fiskal yang adil, transparan, dan berpihak pada masa depan.

Karena apa artinya menambah pendapatan negara, jika bumi tempat kita tinggal terus rusak? Pada akhirnya, pajak hijau hanya akan berhasil jika ia benar-benar berwarna hijau—bukan hanya di nama, tapi di niat dan dampaknya.