Ketika Hijrah Jadi Syarat Untuk Dicintai

Mahasiswi UIN Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fia Alfiyatun Munawaroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pertanyaan yang sering terlupakan dalam kisah cinta remaja: apakah kita berubah karena ingin menjadi lebih baik, atau karena ingin diterima oleh seseorang? Novel Ali & Zahra karya Hana Lestari menjawab pertanyaan itu dengan cara yang sederhana, tetapi menyakitkan. Melalui sosok Zahra, pembaca diajak melihat sisi lain dari kata “hijrah”—ketika perubahan diri justru dilakukan demi mendapatkan cinta seseorang.
Dalam novel ini, Zahra jatuh cinta kepada Ali, kakak kelasnya, setelah sebuah pertemuan kecil yang bermula dari bola basket yang mengenai kakinya. Cinta itu kemudian mendorong Zahra untuk mengubah penampilan dan menjalani hijrah. Ia ingin tampil lebih baik, lebih religius, dan lebih pantas berada di dekat Ali.
Pada permukaan, cerita ini terdengar manis. Seorang perempuan muda berusaha memperbaiki diri karena cinta. Namun, justru di situ letak persoalannya: apakah hijrah yang dilakukan Zahra benar-benar lahir dari kesadaran spiritual, ataukah dari ketakutan akan ditolak? Novel ini tidak menyederhanakan jawabannya. Ia memperlihatkan bahwa niat baik pun bisa bercampur dengan harapan, ketidakpastian, dan keinginan untuk dicintai.
Cinta yang Menuntut Perubahan
Zahra menggambarkan banyak remaja yang tumbuh dengan standar cinta yang keliru: bahwa seseorang harus “cukup baik” terlebih dahulu sebelum layak dicintai. Padahal, cinta yang sehat seharusnya tidak menuntut seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Ketika perubahan dilakukan demi Allah, ia menjadi proses pematangan diri. Tetapi ketika perubahan hanya dilakukan demi mendapat balasan cinta dari manusia, ia mudah berubah menjadi beban. Zahra mungkin ingin menjadi lebih baik, tetapi motivasinya masih terikat pada Ali. Inilah konflik yang membuat novel ini relevan bagi pembaca muda.
Hijrah Bukan Kostum Cinta
Ali & Zahra termasuk karya bergenre romance-spiritual, yaitu kisah romansa yang dikaitkan dengan nilai keislaman. Hana Lestari menekankan bahwa cinta dalam genre ini seharusnya berjalan sesuai syariat Islam.
Namun, novel ini juga membuka ruang kritik. Hijrah tidak seharusnya dijadikan “kostum” untuk menarik perhatian seseorang. Jilbab, cara berbicara, atau perubahan gaya hidup tidak boleh dipahami sebagai alat untuk memenangkan hati Ali. Jika nilai religius hanya dipakai sebagai strategi cinta, maka esensi hijrah itu sendiri menjadi kabur.
Di sinilah novel ini berhasil: ia tidak hanya menampilkan romansa, tetapi juga menghadirkan pertanyaan moral. Pembaca diajak membedakan antara hijrah karena sadar dan hijrah karena harap.
Cermin bagi Generasi Muda
Bagi pembaca remaja, kisah Zahra terasa dekat. Banyak dari kita pernah mengubah diri demi seseorang: mengikuti selera orang lain, menyembunyikan kelemahan, atau berpura-pura menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Novel ini seolah berkata bahwa perasaan itu manusiawi, tetapi tidak harus menjadi tujuan hidup.
Cinta yang baik seharusnya membuat seseorang lebih tenang, bukan lebih cemas. Ia mendorong seseorang bertumbuh, bukan memaksanya menjadi orang lain. Ketika Zahra belajar memahami makna hijrah secara lebih jujur, pembaca pun belajar bahwa harga diri tidak boleh diserahkan kepada seseorang yang belum tentu memilih kita.Ali & Zahra bukan sekadar novel cinta remaja. Ia adalah cermin kecil tentang cara generasi muda memahami cinta, agama, dan identitas diri. Novel ini mengingatkan bahwa berubah demi kebaikan adalah hal terpuji, tetapi berubah semata-mata demi dicintai dapat meninggalkan luka.
Pada akhirnya, hijrah yang paling indah bukanlah hijrah yang dilakukan agar dikatakan cantik, saleh, atau layak dicintai. Hijrah yang paling indah adalah ketika seseorang memilih mendekat kepada Allah karena ia sadar bahwa dirinya membutuhkan-Nya—bukan karena ingin dimiliki oleh seseorang.
