Konten dari Pengguna

Mengulas Persoalan Novel Burung Kayu

Rizkiyatul Mufidah

Rizkiyatul Mufidah

Mahasiswi universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizkiyatul Mufidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Novel Burung Kayu Karya Niduparas Erlang
zoom-in-whitePerbesar
Novel Burung Kayu Karya Niduparas Erlang

Burung kayu merupakan sebuah Novel Karya Niduparas Erlang yang menceritakan mengenai kehidupan Masyarakat Mentawai, konflik antar suku yang ada, tradisi dan budaya, sampai kelokalan yang mulai berubah saat ada campur tangan penguasa.

Buku ini mengisahkan tentang sekelumit kehidupan suku Mentawai yang menghuni kepulauan Mentawai di Sumatera Barat. Berbagai kebijakan pemerintah setelah Indonesia merdeka dipaksakan kepada suku pedalaman ini. Agama mereka, Arat Sabulungan, dihapuskan dan mereka diharuskan memeluk salah satu agama yang diakui oleh Pancasila. Mereka diharuskan berpakaian dan dilarang memamerkan tato (yang sebetulnya merupakan simbol prestasi dan kebanggaan), dilarang berburu karena itu akan “merusak alam”, dan pindah ke permukiman-permukiman yang dibangun pemerintah (agar mereka lebih mudah dipantau dan dikontrol). Perlahan, keinginan pemerintah untuk memajukan rakyat mengikis kepribadian, tradisi, dan budaya dari suku tertua di Indonesia ini.

Novel Burung Kayu ini terbilang unik, karena dalam isi bacaannya banyak sekali kata bercetak miring tanpa catatan kaki dan tanpa glosari. Saya sendiri sebagai pembaca kebingungan dalam mengartikan kata yang bercetak miring tersebut. Saya cari di Google hampir setiap istilah Mentawai yang ada. Beberapa ketemu, kebanyakan tidak. Bahkan jika karya ini menyertakan glosarium untuk membantu pembaca memahami istilah, karya ini tetap sulit untuk diselami. Penulis tidak menuliskan catatan kaki dalam karyanya, tentu bukan tanpa unsur kesengajaan dan tanpa sebab, salah satu alasannya yaitu menambah khasanah pengetahuan adat Mentawai. Pembaca mencari tahu sendiri arti kata perkata dan akan melestarikan bahasa daerah suku Mentawai tersebut.

Disamping itu, Niduparas Erlang menuturkan cerita kehidupan suku Mentawai dengan teramat apik. caranya menggambarkan kondisi alam, kehidupan sosial suku Mentawai, dan terutama tradisi dan adat istiadat mereka yang menakjubkan sangat menyihir. Tentu di bagian awal aku cukup dibuat kebingungan dengan istilah-istilah asing dan nama-nama yang sulit dilafalkan, namun lama-kelamaan menjadi terbiasa juga,bahkan akhirnya dibuat terpesona. Belum banyak buku yang kubaca tentang suku-suku pedalaman, dan bagiku, buku ini adalah harta karun berharga.