Konten dari Pengguna

Inisiasi Pengelolaan Plastik Residu melalui Teknologi Pirolisis di Jember

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fidyasari K Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Plastik Residu dan Upaya Mencari Alternatif Pengelolaannya

Uji coba alat pirolisis di BSU Si KUPIK, Kab. Jember
zoom-in-whitePerbesar
Uji coba alat pirolisis di BSU Si KUPIK, Kab. Jember

Plastik residu menjadi salah satu persoalan dalam pengelolaan sampah karena tidak seluruhnya memiliki nilai ekonomi dan mudah dimanfaatkan kembali. Di Kabupaten Jember, persoalan sampah telah memasuki babak baru seiring kebijakan pemerintah daerah untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya dan menghentikan praktik open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari. Pemerintah Kabupaten Jember mendorong masyarakat, instansi pemerintah, hingga pelaku usaha untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, termasuk melalui pemilahan dan pengurangan timbulan sampah.

Kebijakan tersebut menempatkan pengelolaan sampah dari tingkat lingkungan dan masyarakat sebagai bagian penting dalam mengurangi beban pengelolaan di TPA. Di tengah kondisi tersebut, berbagai inisiatif pemanfaatan sampah terus diperlukan, terutama untuk jenis sampah yang tidak lagi memiliki nilai ekonomi dan sulit masuk ke dalam rantai pemanfaatan kembali.

Menanggapi persoalan tersebut, Kelompok Riset SAFETY Universitas Jember melalui Program Dosen Mengabdi di Desa Asal (PROSENDI) menginisiasi pengembangan teknologi pirolisis untuk mengolah plastik residu menjadi minyak. Kegiatan ini melibatkan bidang Teknik Mesin dan Rekayasa Perancangan Mekanik dalam perancangan alat, Teknik Lingkungan dalam analisis keberlanjutan, serta Teknik Sipil dan Kesejahteraan Sosial dalam standarisasi prosedur dan K3L.

Pengembangan dan pengujian alat dilakukan bersama Bank Sampah Unit (BSU) Si KUPIK yang berada di Perumahan Bumi Este Muktisari, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember.

Tidak semua sampah plastik yang diterima bank sampah memiliki nilai guna dan nilai jual. Setelah proses pemilahan, masih terdapat kelompok plastik yang sulit dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi yang rendah. Di bank sampah setempat, kelompok tersebut antara lain berupa plastik kemasan makanan ringan (snack), metalizing, mika, dan styrofoam, yang kemudian dikelompokkan sebagai plastik residu.

Berbagai upaya pemanfaatan kembali sebenarnya dapat dilakukan, termasuk mengolah sebagian material tersebut menjadi produk reuse seperti ecobrick, produk fesyen dan kerajinan. Namun, produk-produk tersebut tidak memiliki pasar yang cukup sehingga nilai jualnya pun rendah.

Kondisi tersebut membuat plastik residu tetap menjadi persoalan dalam pengelolaan sampah di lingkungan. Ketika tidak terserap oleh pasar, diperlukan alternatif lain agar material tersebut tidak berhenti sebagai sampah yang tidak bernilai.

Kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu perhatian kelompok riset SAFETY Universitas Jember. Tim mengembangkan alat pirolisis sebagai salah satu alternatif untuk mengolah plastik residu.

“Padahal bahan baku plastik berasal dari minyak bumi dan gas alam, yang juga merupakan sumber bahan baku berbagai produk bahan bakar dan petrokimia. Sehingga, dengan melihat siklusnya, plastik sebenarnya masih dapat dikonversi menjadi produk hidrokarbon melalui proses pirolisis,” ujar Lyaa Supriono, Ketua Tim Program.

Alat pirolisis yang dikembangkan tim SAFETY kemudian diuji secara langsung di BSU Si KUPIK. Pengujian tersebut menghasilkan minyak pirolisis, meskipun jumlah yang diperoleh pada tahap awal masih terbatas.

Minyak hasil pengujian tersebut belum dapat dikategorikan sebagai bahan bakar komersial. Karakteristik dan kualitas minyak masih perlu diuji lebih lanjut untuk mengetahui sifat serta potensi pemanfaatannya.

Bagi tim, pengujian tidak berhenti pada hasil minyak yang diperoleh. Uji coba langsung di lokasi mitra juga memberikan masukan mengenai rancangan alat dan kebutuhan operasionalnya.

Alat yang telah dibuat perlu disesuaikan dengan kondisi sumber daya yang tersedia di lapangan, termasuk ketersediaan listrik, kebutuhan air, ruang operasional, karakteristik bahan baku, serta aspek pengoperasian alat.

Hasil pengujian tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan modifikasi pada tahap berikutnya. “Saat ini, mesin terus kami perbaiki dan sesuaikan dengan kebutuhan mitra, agar nantinya alat ini tidak hanya sebagai pajangan, tapi betul-betul bisa dimanfaatkan,” ujar Dani Hari Tunggal Prasetiyo, Anggota Tim Program.

Inisiatif pengolahan plastik residu melalui teknologi pirolisis ini masih berada pada tahap awal. Uji coba di BSU Si KUPIK menjadi bagian dari proses untuk memperoleh pengalaman dan data lapangan yang diperlukan dalam pengembangan alat selanjutnya.

Keterlibatan BSU Si KUPIK menjadi bagian penting dari proses tersebut. Perguruan tinggi membawa proses riset dan rekayasa, sementara mitra menyediakan lingkungan nyata untuk menguji rancangan yang telah dikembangkan.

Bagi tiga mahasiswa Rekayasa Perancangan Mekanik yang terlibat, proses ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah rancangan diterapkan dan dievaluasi ketika berhadapan dengan kondisi penggunaan yang sebenarnya.

Tahap berikutnya akan diarahkan pada penyempurnaan alat dan pengujian lebih lanjut terhadap minyak hasil pirolisis. “Kami senang sekali. Jika nantinya bisa berjalan sesuai harapan, maka BSU Si KUPIK bisa memberikan kontribusi lebih dan mendukung program Pemkab Jember,” ujar Susiyatik, Ketua BSU Si KUPIK.

Bagi tim SAFETY Universitas Jember, pengembangan ini bukanlah akhir dari proses, melainkan langkah awal untuk mencari bentuk teknologi yang lebih tepat dalam memanfaatkan plastik residu. Di tengah persoalan sampah yang dihadapi Kabupaten Jember, upaya tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk mencari alternatif pengelolaan sampah yang dapat terus dikembangkan.