Konten dari Pengguna

Generasi Muda di Tengah Arus Digital

Fifih Nurusshofa

Fifih Nurusshofa

Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor


·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fifih Nurusshofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi generasi muda. Foto: Chay_Tee/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generasi muda. Foto: Chay_Tee/Shutterstock

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama bagi generasi muda. Saat ini, gadget dan internet bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hampir seluruh aktivitas anak muda—mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga mencari hiburan—dilakukan melalui perangkat digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa generasi muda hidup di tengah arus digital yang deras dan sulit untuk dihindari.

Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat penggunaan gadget yang tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sebanyak 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gadget. Angka tersebut terdiri atas 25,5% anak berusia 0–4 tahun dan 52,76% anak berusia 5–6 tahun yang telah terpapar penggunaan gadget dalam aktivitas sehari-hari.

Data ini menunjukkan bahwa paparan teknologi digital telah terjadi sejak usia sangat dini dan berpotensi memengaruhi pola tumbuh kembang anak.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui hasil surveinya mengungkapkan bahwa lebih dari 71,3% anak usia sekolah telah memiliki gadget dan menggunakannya dalam durasi yang relatif lama setiap hari.

Ilustrasi anak memakai gadget untuk bermain game. Foto: Shutter Stock

Selain itu, sebanyak 79% anak diperbolehkan menggunakan gadget bukan hanya untuk keperluan belajar, melainkan juga untuk hiburan dan aktivitas lain di berbagai digital platform. Kondisi ini menuntut adanya pendampingan agar penggunaan teknologi tidak berdampak negatif pada perilaku dan kesehatan mental anak.

Media sosial kini telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Platform seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan X digunakan setiap hari untuk berbagi cerita, mengekspresikan pendapat, serta membangun relasi sosial.

Media sosial juga menjadi ruang pengembangan diri, tempat anak muda membentuk identitas dan menunjukkan bakatnya. Namun, kebiasaan ini turut mengubah pola interaksi sosial. Komunikasi yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung kini lebih sering berlangsung melalui layar digital, sehingga kedekatan emosional antarindividu cenderung berkurang.

Perkembangan teknologi digital juga membawa perubahan signifikan dalam cara berkomunikasi. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik tanpa batasan jarak dan waktu, sementara informasi dapat diakses dengan sangat cepat.

Dari sisi positif, hal ini memberikan kemudahan luar biasa. Namun, di sisi lain, komunikasi menjadi serba instan, singkat, dan cenderung kurang personal, yang dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial.

Ilustrasi sibuk dengan smartphone. Foto: Shutterstock

Kemudahan paling nyata dirasakan dalam bidang pendidikan. Generasi muda dapat mengakses berbagai sumber belajar, seperti artikel, jurnal, video pembelajaran, hingga kelas daring.

Proses belajar menjadi lebih fleksibel dan tidak lagi terbatas pada ruang kelas formal. Teknologi digital juga membantu mahasiswa dan pelajar untuk belajar secara mandiri serta menyesuaikan metode belajar dengan kebutuhan masing-masing.

Teknologi digital juga menyediakan hiburan yang sangat mudah dijangkau. Musik, film, gim daring, dan berbagai konten kreatif dapat diakses hanya dengan satu sentuhan layar.

Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, mayoritas pengguna internet di Indonesia aktif bermain gim daring. Gim yang banyak dimainkan antara lain Mobile Legends, Free Fire, dan PUBG Mobile, dengan durasi bermain rata-rata satu hingga dua jam per hari, didominasi oleh Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Milenial.

Dunia digital juga membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berkarya dan menyalurkan kreativitas. Banyak pelajar dan mahasiswa memanfaatkan media sosial untuk membuat konten edukatif, karya seni digital, tulisan, hingga mengembangkan bisnis digital. Hal ini membuktikan bahwa teknologi digital dapat menjadi sarana produktif jika dimanfaatkan dengan baik dan bertanggung jawab.

Penggunaan teknologi digital yang berlebihan tetap menimbulkan masalah baru. Kecanduan gadget dan media sosial menjadi salah satu persoalan utama. Tidak sedikit anak muda yang merasa cemas ketika tidak memegang smartphone atau tidak terhubung dengan internet. Kondisi ini berdampak pada menurunnya konsentrasi belajar, kesehatan mental, dan kualitas interaksi sosial di dunia nyata.

Ilustrasi hoaks. Foto: Shutter Stock

Selain itu, hoaks dan informasi yang belum tentu benar sering bermunculan. Arus informasi digital yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan memilah kebenaran. Tanpa literasi digital yang memadai, generasi muda mudah terpengaruh oleh berita palsu, ujaran kebencian, dan konten negatif yang dapat membentuk pola pikir yang salah.

Sikap bijak dalam menggunakan media digital menjadi hal yang sangat penting. Literasi digital berperan besar untuk membekali generasi muda agar mampu berpikir kritis, memahami etika bermedia, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Contoh penggunaan digital yang positif di kalangan pelajar dapat dilihat dari pemanfaatan media sosial untuk berbagi informasi edukatif, berdiskusi secara sehat, mengikuti pembelajaran daring, dan mengembangkan keterampilan digital.

Teknologi diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk menguasai kehidupan manusia. Generasi muda harus mampu menempatkan teknologi sebagai alat, bukan sebagai pengendali. Dengan sikap bijak dan seimbang, arus digital dapat menjadi peluang untuk berkembang, bukan ancaman.

Generasi muda dituntut untuk pintar menyikapi derasnya arus digital. Teknologi harus digunakan secara sehat, proporsional, dan produktif. Membatasi penggunaan gadget, meningkatkan literasi digital, dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat menjadi saran penting agar generasi muda dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berdaya saing di era digital.